Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereBagian E."Kami Berusaha Membuktikan Kesalahannya"

Bagian E."Kami Berusaha Membuktikan Kesalahannya"


Meskipun orangtuanya beragama Kristen, tetapi Joan Olsen dan suaminya yang dokter, sama sekali tidak percaya akan adanya Allah (agnostik). Hal ini telah membuat kedua pasangan itu sering terlibat dalam diskusi-diskusi yang panas mengenai Alkitab. Sampai pada suatu hari, dokter muda dan istrinya itu sepakat untuk mempelajari kekristenan. Berikut ini adalah pengakuan Dr. Viggo Olsen:

Saya berharap penyelidikan yang kami lakukan adalah penyelidikan yang jujur dan objektif, sebagai suatu upaya yang tulus dalam mencari kebenaran. Namun latar belakang kami yang agnostik telah membuat kami memulai penyelidikan dengan cara yang cerdik. Kami ingin membuktikan bahwa Alkitab bukanlah firman Allah....

"Pertama-tama," saya berkata (kepada Joan), "marilah kita mengingat kembali segala sesuatu tentang agnostik yang pernah kita dengar selama kita menjadi mahasiswa. Kedua, kita akan mencari dan mengumpulkan kesalahan-kesalahan data ilmiah yang ada di dalam Alkitab. Kesalahan-kesalahan ini akan menunjukkan bahwa Alkitab adalah tulisan manusia, bukan Kata-kata Sang Pencipta yang sempurna."

Maka mulailah mereka melakukan penyelidikan. Pertanyaan pertama yang mereka perdebatkan adalah: "Apakah ada Allah yang menciptakan dunia ini?" Penelitian yang cermat akhirnya membawa mereka pada kesimpulan bahwa Allah memang ada. Tetapi hal ini belum membuat mereka percaya, karena mereka tidak yakin Allah itu dapat dikenali. Mereka belum dapat melihat hal-hal yang supranatural di dalam Alkitab.

"Apakah masuk akal kalau Allah menyatakan diriNya kepada kita?" tanya saya pada suatu malam. "Saya baru saja membaca sesuatu mengenai hal ini," jawab Joan, "yakni bahwa Allah menciptakan kita manusia sebagai satu-satunya makhluk yang berakal budi. Allah tidak menciptakan kita asal saja atau tanpa tujuan sama sekali. Maka, setelah kita diciptakan, masuk akal kalau Allah lalu menyatakan diriNya dan menyampaikan maksud dan tujuanNya menciptakan kita. Juga jika Allah mengasihi kita, Dia tentu ingin menyatakannya kepada kita agar kita tahu bahwa itulah kasih."

Setelah meneliti lebih dalam, mereka mendapati bahwa Alkitab adalah "kitab Allah yang memperkenalkan siapa Allah." Inilah penemuan mereka:

Alkitab...menyatakan tentang Allah, yang oleh karena kasihNya yang tak berkesudahan mencari kita agar kita mengenal Dia dan rencanaNya bagi kita.... Kami juga menemukan keselarasan dan konsistensi yang menakjubkan dalam Alkitab orang Kristen....


"Kini sulit bagi kami untuk mencari kesalahan-kesalahan Alkitab, bahkan kami terus menerus dipaksa untuk mencoret hal-hal yang pernah kami kira sebagai kesalahan Alkitab."
- Dr. Viggo Olsen

Berbeda dengan pemahaman kami sebelumnya, kami menemukan banyak data akurat tentang sejarah manusia di dalam Alkitab, yang sesuai dengan penemuan-penemuan di bidang arkeologi.

Alkitab juga ternyata akurat dalam data-data ilmiahnya. Ini merupakan hal yang sangat mengejutkan bagi Joan dan saya, karena dalam segi inilah kami sebenarnya ingin menyerang kekristenan dan Kristus.... Kini sulit bagi kami untuk mencari kesalahan-kesalahan Alkitab, bahkan kami terus-menerus dipaksa untuk mencoret hal-hal yang pernah kami kira sebagai kesalahan Alkitab, setelah penemuan-penemuan data dan informasi aktual yang terus kami dapatkan.

Setelah penelitian yang serius selama berbulan-bulan, Dr. Olsen dan istrinya akhirnya menyimpulkan bahwa Alkitab benar-benar adalah firman Allah kepada manusia. Berdasarkan keyakinan ini, mereka berdua lalu menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Kemudian, pada tahun 1962, mereka pergi ke Pakistan Timur (sekarang Bangladesh) untuk melayani sebagai utusan Injil di sana.

Dari: Daktar: Diplomat di Bangladesh. Dikutip dengan izin.