Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereBagian D. Menghadapi Berbagai Keberatan

Bagian D. Menghadapi Berbagai Keberatan


Ketika Anda berbicara dengan orang-orang tentang beriman kepada Kristus, Anda mendengar berbagai keberatan, alasan-alasan mengapa mereka tidak mau percaya. Sehubungan dengan berbagai keberatan mereka, kata kunci yang harus Anda ingat adalah mengapa.

Saya akan memberi sebuah contoh. Saya kenal seorang laki-laki yang memiliki beberapa restoran McDonald. Saya mendengar ia ingin berbicara dengan seseorang untuk belajar lebih banyak tentang Allah, jadi saya merencanakan untuk menemuinya di salah satu restorannya. Kami duduk di salah satu meja. Kami telah memulai dengan pertanyaan-pertanyaan dan Alkitab, dan ia berkata, "Hanya itu, Bill?" Dan saya berkata, "Hanya itu saja." Keberatannya yang pertama adalah, "Apa yang akan Allah lakukan dengan bisnis saya?" Karena saya tidak tahu apakah Allah akan memberkatinya atau membuat bisnisnya gagal, saya bertanya, "Mengapa? Bagaimana dengan bisnismu?"


"Dalam mengatasi berbagai keberatan, kata kunci untuk diingat adalah mengapa."

Entah karena Allah menjawab pertanyaan tersebut atau karena pertanyaan itu tidak penting, ia mengarahkan keberatannya ke suatu hal yang sangat berbeda. Ia berkata, "Bagaimana dengan ibu saya?" Saya heran mengapa seorang pengusaha yang sukses begitu memikirkan ibunya sehingga saya berkata, "Mengapa, ada apa dengan ibumu?" Ia berkata, "Ia tidak akan mengakui saya sebagai anaknya!" Saya membuka Matius 10:37 yang mengatakan, "Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari padaKu, ia tidak layak bagiKu." Saya menyuruhnya membaca keras-keras, kemudian saya bertanya, "Apa yang dikatakannya padamu?" Ia berkata, "Lebih baik saya cemas tentang ibu saya nanti dan menyerahkan hidup saya kepada Yesus sekarang."

Berikut ini beberapa tipe keberatan yang lain:

1. "Saya belum siap." Apa yang akan Anda katakan? Anda tidak berpikir sama sekali mengapa orang itu belum siap, jadi dengan sederhana Anda dapat bertanya, "Mengapa?"

2. "Saya harus berpikir dulu tentang hal itu." Sekali lagi, tanyakan mengapa. Hal itu tidak memperdayakan orang lain, bukan? Karena seringkali keberatan yang pertama hanyalah pertahanan diri yang bersifat spontan.

3. "Saya sudah percaya Allah." Saya akan berkata seperti ini, "Jika Anda telah menjawab ya untuk kelima pertanyaan tadi, maka Anda tidak akan memiliki masalah apa pun untuk menerima Kristus. Mari saya berdoa agar Anda menerima Dia." Orang-orang selalu berkata kepada saya bahwa mereka sudah percaya Allah. Namun saya berkata kepada mereka, "Hal itu tidak akan menolong Anda sama sekali. Setan-setan pun percaya kepada Allah dan mereka gemetar" (Yakobus 2:19).

Masih ingat tentang ilustrasi pena? () Anda dapat kembali ke ilustrasi itu dan berkata, "Saya memiliki pena di tangan, namun selama Anda tidak mengambilnya, pena itu bukan hadiah milikmu."

4. "Teman-teman saya akan mengira saya tidak waras." Anda dapat berkata, "Hal itu mungkin benar, tetapi masalahnya sekarang adalah: Apakah Anda siap untuk mengundang Yesus masuk ke dalam hidup Anda?"

5. "Agama-agama lain memberitahu bahwa saya perlu melakukan sesuatu untuk masuk surga." Hanya ada dua tipe agama di dunia. Yang satu berkata bahwa Yesus mungkin saja seorang nabi, guru, atau orang yang baik, tetapi Dia bukan Allah. Agama tersebut juga percaya bahwa Anda dapat melakukan sesuatu untuk masuk surga -- dengan kegiatan yang menghebohkan, makan makanan yang khusus, melakukan upacara-upacara keagamaan, atau hidup baik.

Di sisi lain, kekristenan membuat dua pernyataan yang bertentangan: (1) Yesus adalah Allah, dan (2) Allah harus datang menghampiri manusia; manusia tidak dapat datang kepada Allah.

Jadi kita memiliki dua pandangan yang bertentangan yang tidak mungkin keduanya benar. Pertanyaan-pertanyaan yang penting adalah: Mana yang benar? dan bagaimana kita tahu? Mulailah dengan pernyataan tentang Kristus. Dia mungkin seorang pembohong, seorang fanatik, atau Allah. Kristus mungkin berbohong bahwa Dia Allah, atau Dia gila, atau Dia adalah Seorang yang sebagaimana Dia katakan. Tidak ada bukti bahwa Yesus berbohong. Dia secara meyakinkan tidak memiliki ciri-ciri seorang yang fanatik. Jadi hanya tinggal satu kesimpulan: Dia adalah Seorang yang sebagaimana Dia katakan.


Kristus mungkin berbohong tentang keberadaanNya sebagai Allah, atau Dia gila, atau Dia adalah Seorang yang sebagaimana Dia katakan

6. "Apakah Allah menyuruh saya berhenti minum alkohol dan mulai pergi ke gereja?" Ketika saya bertobat pada 4 Maret 1981, saya pergi ke seorang pendeta dan bertanya, "Saya tidak harus menjadi seorang pecinta Alkitab, bukan?" "Tidak," jawabnya. Saya berkata, "Bagus. Saya tidak harus membaca Alkitab untuk diselamatkan, bukan?" "Tidak," jawabnya. Saya bertanya, "Dapatkah saya pulang dan minum minuman keras?" Ia berkata, "Yah, tetapi jangan sampai mabuk." Ia tahu jika pertobatan saya sungguh-sungguh, saya tidak perlu melakukannya. (Sekarang, saya membaca Alkitab saya setiap hari dan saya tidak minum minuman keras dalam 10 tahun ini).

Kalau orang-orang bertanya pada Anda dengan pertanyaan langsung, jangan terkecoh. Jika mereka bertanya, "Haruskah saya menghentikan cara hidup saya?" Anda lebih baik berkata ya. Mengapa? Karena kepastian itu telah mereka ketahui -- atau jika tidak, mereka tidak akan mengajukan pertanyaan tersebut. Jika mereka tidak mengungkapkannya, jangan mulai mengungkapkan semua dosa yang Anda ketahui dalam hidup mereka. Lihat semua dosa dalam hidup Anda sekarang, apalagi sebelum Anda mengenal Kristus.

7. "Bagaimana Allah dapat mengirim seseorang ke neraka?" Apakah Anda menyadari bahwa Allah tidak melihat ke sekeliling dan dengan mudah berkata, "Saya akan mengirim orang itu dan yang itu ke neraka?" Allah mengirim AnakNya ke dunia untuk menyelamatkan seluruh dunia, tidak sebagian darinya. Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan (Roma 10:13).

8. "Saya belum siap." Saya hanya memiliki satu pertanyaan untuk orang yang berkata seperti itu: "Jika Anda harus meninggal sekarang juga, sebelum menerima Kristus, ke mana Anda akan pergi?" Jika ia menyadari bahwa ia akan pergi ke neraka, ia tidak akan bertahan lebih lama.

9. "Ada kesalahan dalam Alkitab." Waktu saya mendengar hal itu, saya hanya menyerahkan Alkitab saya kepada orang itu dan berkata, "Saya sudah dan sedang membaca Alkitab selama ini. Dapatkah Anda menunjukkan salah satu kesalahannya kepada saya?" Biasanya orang akan berkata, "Yah, saya belum membacanya." Jadi, tergantung di mana Anda berada dalam proses bersaksi tersebut, Anda dapat menunjuk kembali kepada apa yang Alkitab katakan. Maka Anda akan mendengar keberatan tersebut untuk yang terakhir kalinya.

10. "Bukankah ada banyak terjemahan Alkitab?" Jawabnya adalah "ya". Ada banyak terjemahan, tetapi mereka berbicara tentang hal yang sama. Ketika orang bertanya tentang hal itu, biasanya hanya suatu mekanisme pertahanan diri. Katakan saja "ya", kemudian bawa mereka kembali ke ayat-ayat Alkitab yang telah Anda lihat.

11. "Bagaimana Anda tahu bahwa Alkitab benar?" Untuk satu hal, para arkeolog membuktikan hal itu. Ada lebih dari 14.000 salinan naskah Perjanjian Baru yang masih ada sampai hari ini. Dan saat para sarjana membandingkannya, mereka hanya dapat menemukan tidak lebih dari satu paragraf yang berbeda -- dan sebagian besar dari ketidaksamaan itu adalah kesalahan ejaan atau ejaan yang berbeda. Tidak ada di antara ketidaksamaan itu yang mempengaruhi hal-hal doktrinal yang mendasar. Semua bukti itu mengacu pada kesimpulan bahwa kita memiliki teks yang akurat. Penggalan naskah Injil Yohanes yang pertama dicatat hanya 40 tahun dari saat naskah itu ditulis.

Meskipun kita tahu bahwa Alkitab 100 persen benar, kita perlu menyadari bahwa kita tidak dapat memaksa orang-orang untuk menerimanya sebagai sesuatu yang benar. Jika mereka tidak mau menerimanya, mereka tidak akan mau, tidak peduli berapa banyak bukti yang kita berikan. Setiap kali kita menawarkan bukti-bukti, mereka akan meminta lebih -- sebab mereka tidak ingin percaya.

Ketika saya menemui kaum intelektual yang skeptis, saya ingat bahwa mereka keras, marah, dan bingung, dan bahwa mereka telah diberi banyak info yang salah. Saya mengingatkan diri saya sendiri bahwa seperti itulah dulu saya sebelum diselamatkan.

Ketika seorang pengacara terkemuka di Universitas Harvard memutuskan untuk mengadakan pemeriksaan pengadilan dengan tujuan untuk mencemooh apakah ada cukup bukti untuk membuktikan kebangkitan Yesus Kristus, tahukah Anda apa kesimpulan yang diambilnya? Ia berkata di balik bayang-bayang keraguan, bukti-bukti dalam jumlah yang lebih besar ada untuk menunjukkan bahwa Yesus Kristus bangkit dari kematian. Namun ia berkata, "Saya memilih untuk tidak mempercayainya."

Anda tidak dapat membuat siapa pun percaya terhadap sesuatu. Anda dapat mencoba meyakinkan saya bahwa Abraham Lincoln hidup, tetapi jika saya tidak ingin mempercayainya saya tidak akan percaya.

Pertanyaan yang saya tanyakan pada orang-orang yang berkata mereka tidak akan mempercayai Alkitab adalah: "Apa yang akan membuktikan bahwa buku itu adalah Firman Tuhan?" Sering kali mereka bahkan tidak tahu. Hal itu hanyalah pertahanan yang diberikan mereka pada Anda.