Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereBagian B. Asas Pengajaran Tentang Allah

Bagian B. Asas Pengajaran Tentang Allah


I. WUJUD ALLAH

Alkitab mulai dengan perkataan, "Pada mulanya Allah". Lihatlah /TB #Kejadian 1:1 dan /TB #Yohanes 1:1,2,3*. Tidak ada penulis Alkitab yang mencoba membuktikan bahwa Allah ada. Manusia di seluruh dunia percaya bahwa Allah ada, karena kepercayaan itu memang diletakkan oleh Allah dalam hati manusia. "Orang bebal berkata dalam hatinya: 'Tidak ada Allah' "(/TB #Mazmur 14:1*). Hanya orang bebal yang tidak percaya bahwa Allah ada. Bagi kita sebagai orang Kristen, kenyataan bahwa Allah itu ada diyakinkan di dalam hati kita, sebab kita dapat merasakan persekutuan dengan Allah. Oleh karena itu kita tidak perlu mencari bukti-bukti yang di luar. Dengan iman orang mengetahui bahwa ibunya adalah sungguh-sungguh ibunya. Walaupun ia tidak dapat membuktikannya, tetapi hal itu dinyatakan di dalam hatinya. Kalau kita ingin mendapatkan bukti bahwa Allah ada, lebih baik kita melihat kepada Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus telah berkata kepada Filipus, "Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" (/TB #Yohanes 14:9 dan /TB #Ibrani 1:3*). Yesus Kristus menyatakan Allah kepada kita dan Ia sendiri adalah Allah (/TB #Yohanes 1:1*). Kenyataan bahwa Allah ada dibuktikan dalam sifat kesucian Yesus Kristus. Alkitab juga membuktikan bahwa Allah ada, sebab tanpa pertolongan Allah manusia tidak mungkin menulis Alkitab. Di samping itu pekerjaan Yesus Kristus membuktikan bahwa Allah ada. Jemaat Kristus juga membuktikan bahwa Allah ada.

II. ALLAH ADALAH ROH

"Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran" (/TB #Yohanes 4:24*). Perempuan Samaria bertanya kepada Yesus, di mana ia dapat menemui Allah, apakah di Gunung Sion atau di Gerizim. Dan Tuhan Yesus menjawab bahwa Allah tidak dapat ditempatkan pada suatu tempat. Tuhan Allah harus disembah dengan roh, dan tidak dapat bergantung pada tempat, rupa atau syarat-syarat lain yang diadakan oleh manusia. Ia harus disembah dalam kebenaran, dalam pengertian yang benar. Sebab banyak orang yang menyembah dengan pengertian yang salah karena kurang pengertian, misalnya orang harus menyembah Allah di Mekhah, atau di Yerusalem, atau di Roma. Segala tempat adalah suci bagi orang yang menyembah Tuhan dengan roh dan kebenaran. Mengenai Allah adalah Roh dapat kita lihat dalam /TB #1Korintus 2:10-12*.

Pertanyaan: Apakah roh itu?

Jawab : Roh tidak berdaging dan tidak bertulang (/TB #Lukas 24:39*), tidak berbentuk suatu wujud seperti kita.

Roh ialah suatu oknum yang tidak terlihat oleh kita dan yang tidak berbentuk atau berwujud. Roh itu tidak mempunyai batasan seperti manusia. Jadi kalau kita mengatakan, "Allah itu Roh", itu berarti Allah tidak ada rupanya, tidak bertubuh seperti kita, tidak terlihat oleh kita dalam keadaan kita sekarang. Tuhan Allah tidak dapat dilukiskan atau dibatasi dengan akal budi kita. Kita mengenal Allah dan bersekutu dengan Allah dengan roh atau jiwa kita, bukan dengan pancaindera kita. Lihat /TB #Ulangan 4:15-18, Yesaya 40:25 dan /TB #Keluaran 20:4*. Kalau kita membaca ayat-ayat tersebut kita akan mengetahui apa sebabnya demikian, sebab tidak seorangpun yang pernah melihat Allah dan oleh karenanya tidak dapat melukiskan Dia. Allah tidak berasal dari dunia ini, oleh sebab itu tidak kelihatan oleh mata jasmani kita yang sekarang.

Pertanyaan : Apa yang dimaksud dalam /TB #Kejadian 1:27*, yang mengatakan "Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya."

Jawab : "Manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya" (/TB #Kolose 3:10*).

"...yang dijadikan menurut teladan Allah di dalam kebenaran dan kesucian yang benar" (/TB #Efesus 4:23,24* terjemahan lama, TKB). "Gambar Allah yang tidak kelihatan" (/TB #Kolose 1:15*). Kata "gambar" dan "teladan" bukan berarti kita membayangkan Allah dalam wujud jasmani, melainkan dalam hal kita dapat membedakan baik dan jahat. Manusia mempunyai persamaan dengan Allah dalam hal mengetahui yang baik dan yang jahat, juga dalam hal pengetahuan tentang "kebenaran" dan "kesucian yang benar." Ada yang berpendapat "gambar" Allah berarti manusia mempunyai tiga bagian, yaitu roh, jiwa, tubuh, sama dengan Allah yang Esa tetapi merupakan Tritunggal (Lihat /TB #1Tesalonika 5:23*).

Pertanyaan : Apa artinya manusia dijadikan menurut gambar Allah sehingga mengetahui yang baik dan yang jahat, padahal sesudah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa Allah mengatakan, "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat. "Bukankah manusia sudah mengetahui yang baik dan yang jahat sebelum ia berdosa? Apakah ia beruntung karena ia mengetahui yang baik dan yang jahat setelah ia jatuh ke dalam dosa?

Manusia tidak beruntung apa-apa sesudah berdosa, tidak mendapat faedah atau sesuatu pengetahuan yang tidak dimiliki sebelumnya; ia hanya tahu bahwa dirinya telanjang dan berdosa. Manusia diciptakan dalam keadaan suci dan tidak tahu berbuat dosa. Sesudah manusia jatuh ke dalam dosa, manusia tahu tentang dosa sebab manusia berbuat dosa itu. Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa mereka tidak tahu tentang dosa sebab dosa tidak diperbuat oleh mereka. Manusia sudah mengetahui bahwa kalau ia mentaati Firman Allah itu baik, dan kalau ia melanggar Firman Allah yang telah diketahuinya berarti ia jahat. Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa Allah telah memerintahkan agar mereka tidak melanggar kehendak Allah, yaitu makan buah larangan. Manusia mengerti apa yang baik yang patut dilakukannya. Dengan demikian manusia tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik sebelum ia berbuat dosa. Sebelum jatuh ke dalam dosa manusia sudah tahu bahwa ia bersalah kalau ia makan buah itu. Manusia hanya mengenal kejahatan setelah ia jatuh ke dalam dosa, yaitu ketika ia merasa dirinya jahat atau berdosa. Manusia merasa dirinya baik kalau ia tidak berdosa (melanggar Firman Allah). Sebelum ia jatuh tidak ada perasaan berdosa di dalam hatinya sebab ia suci. Manusia diciptakan menurut gambar Allah di dalam hal Ketritunggalan, yaitu roh, jiwa dan tubuh (/TB #1Tesalonika 5:23*). Roh manusia merupakan bagian yang dapat mengenal dan bersekutu dengan Allah, dan bagian yang menyembah Allah. Jiwa merupakan bagian dari manusia yang mengenal dirinya sendiri; jiwa merupakan pusat pemikiran, keinginan, kebencian, kasih, kehendak dan pengetahuan. Di dalam Alkitab kata batin (hati) dan "pikiran" seringkali yang dimaksudkan adalah jiwa. Tubuh dapat diceraikan dari roh atau dari jiwa, yaitu pada waktu kematian. Tubuh merupakan bagian yang penting juga sebab tubuh akan dibangkitkan pada hari kebangkitan. Manusia diciptakan dalam keadaan suci (tidak memiliki keinginan untuk berdosa) dan dalam keadaan sempurna. Kepadanya diberikan suatu ujian yang tidak berat dan kepadanya diberitahukan tentang kesudahannya dan hukumannya apabila ia tidak mentaati Firman Allah itu.

A. Roh Pernah Menyatakan Diri Dalam Wujud Yang Kelihatan

"Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya" (/TB #Yohanes 1:32*). Dari ayat ini kita mengetahui bahwa Roh dapat menyatakan diri dalam wujud yang kelihatan. Pada zaman dahulu Tuhan Allah menyatakan diri-Nya dalam rupa yang dapat dilihat oleh manusia.

B. Allah Menyatakan Diri Dalam Wujud yang Kelihatan.

"Lalu mereka melihat Allah Israel" (/TB #Keluaran 24:9,10*). Dari ayat ini kita mengetahui bahwa pada zaman dahulu Tuhan Allah sudah menyatakan diri-Nya dalam rupa yang kelihatan.

C. Apa yang terlihat dalam Penyataan Allah itu?

"Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah" (/TB #Yohanes 1:18*). Manusia meminta agar dapat melihat wajah Allah, tetapi hanya diperkenankan melihat belakang-Nya (/TB #Keluaran 33:18-23*). Dari ayat-ayat ini kita tahu bagaimana wujud penyataan Allah itu, yaitu bukan Allah sendiri, yaitu dalam zat-Nya yang tidak kelihatan, melainkan dalam suatu pernyataan.

Pertanyaan : Adakah pertentangan antara /TB #Keluaran 24:9,10*; /TB #Yesaya 6:1 dan Yohanes 1:18*?

Jawab : Tidak. Seseorang melihat bayangan mukanya pada cermin. Orang itu benar apabila ia mengatakan, "Saya sudah melihat muka saya." Dan ia juga benar apabila ia mengatakan, "Saya belum pernah melihat muka saya." Demikian pula manusia di dalam melihat penyataan Allah, dan mereka benar bila mereka mengaku telah melihat Allah. Akan tetapi tidak seorangpun yang pernah melihat Allah dalam zat-Nya yang tidak kelihatan itu. Oleh sebab itu dapat juga dikatakan, "Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah."

Dalam daftar mengenai penyataan-penyataan Allah, dapat dimasukkan "Malaikat Tuhan", yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Dalam bahasa aslinya selalu dibedakan antara "Malaikat Tuhan" dengan "seorang Malaikat Tuhan". Seorang malaikat Tuhan berarti salah satu diantara Malaikat Tuhan, tetapi Malaikat Tuhan artinya "Tuhan" atau sama dengan Tuhan, /TB #Kejadian 16:7-10,13. Dalam ayat sepuluh (Kejadian 16:10*) Malaikat Tuhan sama dengan Tuhan (Yehova) dalam ayat tigabelas (/TB #Kejadian 16:13). Bacalah Kejadian 21:17,18*. Dalam /TB #Kejadian 22:11,12* kita mengetahui bahwa Malaikat Tuhan dalam ayat sebelas (/TB #Kejadian 22:11*) sama dengan Allah dalam ayat duabelas (/TB #Kejadian 22:12). Dalam /TB #Hakim 2:1,2* Malaikat Tuhan berfirman, "Telah Ku...; Aku tidak akan..." Dalam /TB #Kejadian 18:1,2,10,13-16*, salah satu dari ketiga Malaikat itu adalah Allah. Dalam pasal /TB #Kejadian 19:1-36* hanya dua yang pergi ke Sodom. Dalam ayat-ayat /TB #Kejadian 18:17,20,22* jelas bahwa salah satu dari ketiga orang itu adalah Tuhan, yaitu yang tinggal dan bercakap-cakap dengan Abraham. Nyata bahwa Malaikat Tuhan itu adalah Yehova, yaitu suatu penyataan Allah.

Pertanyaan : Siapakah Malaikat Tuhan itu? Jawab : Dalam Kitab /TB #Hakim 13:18* Ia disebut "Ajaib".

Bacalah /TB #Yesaya 9:5* (TKB) tentang nubuat kelahiran Yesus Kristus, di dalam ayat itu, Ia juga dinamai "Ajaib". Dari ayat-ayat ini jelaslah jawaban bagi pertanyaan di atas, yaitu Malaikat Tuhan ialah Kristus, Anak Allah, sebelum Ia lahir ke dalam dunia. Bacalah /TB #Yohanes 8:56*. Ayat itu menguatkan penyataan di atas bahwa kata "Malaikat Tuhan" tidak didapati sesudah Yesus Kristus lahir. Bacalah juga /TB #Matius 1:20; 28:2*; /TB #Kisah 8:26; 12:7,23*.

D. Allah itu Hidup

Allah bukan hanya Roh saja. Dalam Alkitab kita mendapati ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah Hidup, Allah adalah Terang dan Allah adalah Kasih.

Kita tahu bahwa Allah ada, tetapi lebih lanjut lagi kita mengetahui bahwa Allah hidup. Hal ini dijelaskan di dalam /TB #Yohanes 5:26*. Tuhan Yesus berkata, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup" (/TB #Yohanes 14:6*). Kehidupan yang sempurna memang ada, yaitu di dalam Allah Bapa, dan diberikan kepada jemaat-Nya melalui Yesus Kristus. Lihat /TB #Yohanes 6:57,58*. Yohanes memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus sebagai Kalam (Perkataan) Allah, "Dalam Dia ada hidup itu dan hidup itu adalah terang manusia" (/TB #Yohanes 1:4*). Rasul Paulus mengatakan tentang Yesus Kristus demikian, "Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut" (/TB #Roma 8:2*).

E. Allah adalah Terang

"Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan" (/TB #1Yohanes 1:5*). Yang dimaksud Yohanes bukan Allah merupakan salah satu terang, tetapi Allah adalah Terang. Allah adalah terang, dan kebenaran-Nya sempurna. Terang-Nya memancarkan kebenaran-Nya, oleh sebab itu tidak ada kesalahan di dalam-Nya. Yesus Kristus adalah Terang Allah yang menyatakan kebenaran Allah kepada kita. Bandingkan /TB #Yesaya 10:17*; /TB #Ibrani 1:3; 2Korintus 4:4-6*. Yesus Kristus adalah penyataan Allah kepada kita, Dialah yang menyatakan Allah kepada kita. Selidikilah /TB #Yakobus 1:17 dan 1Timotius 6:16*.

F. Allah itu Kasih.

Yohanes telah membahas tentang sifat Allah, yaitu Allah itu Kasih. "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." "Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia" (/TB #1Yohanes 4:8,16*). Di dalam kasih harus ada yang mengasihi dan yang dikasihi. Kita dapat melihat kasih yang sempurna di antara Allah Tritunggal. Lihatlah /TB #Yohanes 17:24*. Kasih yang demikian juga ditunjukkan kepada murid-murid-Nya (Lihat ayat /TB #Yohanes 17:23*). Allah harus menyatakan kasih-Nya kepada mahkluk-Nya sebagaimana yang dikatakan dalam /TB #Yohanes 3:16*, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

III. ALLAH ADALAH SATU PRIBADI

Dalam agama yang benar harus ada persekutuan di antara yang menyembah dan yang disembah, yaitu antara manusia dan Allah. Demikianlah dalam agama Kristen, yaitu persekutuan secara pribadi, antara Allah di surga dengan manusia di dunia ini. Bila Allah bukan satu pribadi tentu manusia tidak dapat bersekutu dengan Dia. Demikian juga kalau manusia bukan satu pribadi tentu tidak ada persekutuan antara Allah dan manusia. Allah adalah satu pribadi, dan hal itu banyak dibuktikan di dalam Alkitab.

A. Apakah Pribadi itu?

Satu pribadi memiliki tiga hal: memiliki pengetahuan, memiliki perasaan, memiliki kehendak diri. Berikut ini adalah beberapa ayat yang membuktikan bahwa Allah memiliki pengetahuan: /TB #Amsal 15:3; Yeremia 29:11*; /TB #Kisah 15:18; Ibrani 4:13*. Ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah mempunyai perasaan: /TB #Mazmur 33:5; 103:8-13; Ibrani 4:13*; /TB #Yakobus 5:11*. Ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah mempunyai kehendak hati: /TB #Mazmur 115:3; Yesaya 46:10,11; Daniel 4:35; Matius 19:26*.

Janganlah kita menganggap bahwa oleh sebab Allah berada di mana-mana tempat dan di dalam segala sesuatu, maka segala sesuatu adalah Allah, seperti pohon atau batu. Pengajaran itu sesat dan salah. Kita juga tidak boleh beranggapan bahwa Allah bukan suatu pribadi; jangan menyangka bahwa Allah hanya berwujud dalam ciptaan-Nya atau makhluk-Nya, tidak memiliki wujud tersendiri. Oleh sebab itu kita tidak dapat mengatakan, "Allah adalah satu pribadi yang hidup, satu pribadi yang nyata."

B. Allah adalah Satu Pribadi yang Hidup.

Bacalah /TB #Yeremia 10:10-16, juga ayat Yeremia 10:3-9*. Dalam ayat /TB #Yeremia 10:3-9* dikemukakan bahwa Allah tidak sama dengan berhala-berhala, yang sebenarnya hanyalah benda-benda mati; bukan satu pribadi. Berhala tidak dapat berbicara, tidak dapat berjalan, tidak dapat berbuat baik, dan tidak dapat berbuat jahat, akan tetapi Allah (Yehova) lebih berbudi dari pada semua orang yang berbudi dan Ia adalah Tuhan Allah yang hidup, Raja yang kekal, satu pribadi yang bisa marah. Di hadapan kemurkaan-Nya semua kerajaan gemetar. Lihat /TB #Kisah 14:15*. Dalam ayat itu Rasul Paulus berkata tentang Allah yang hidup. Dalam /TB #1Tesalonika 1:9* Allah disebut Allah yang hidup. Lihat juga /TB #2Tawarikh 16:9 dan Mazmur 94:9,10*.

Allah kita adalah Allah yang hidup. Ia mendengar, melihat, berperasaan, berkehendak, bekerja, dan Ia merupakan satu pribadi yang hidup. Allah harus dibedakan dari berhala-berhala, yang sebenarnya hanyalah benda-benda mati yang bukan merupakan satu pribadi. Allah harus dibedakan dari makhluk-makhluk yang Ia ciptakan. Ia adalah satu pribadi. Alkitab mengatakan bahwa Allah adalah satu pribadi. Dan setiap pribadi mempunyai pengetahuan akan dirinya sendiri, dan mempunyai kehendak sendiri. Pengetahuan tentang dirinya sendiri bukan hanya sekedar pengetahuan biasa. Binatang juga mempunyai pengetahuan sedikit. Manusia mempunyai kuasa untuk mengambil keputusan dan melakukan sesuatu, ia menyadari keadaan dirinya, sedangkan binatang tidak demikian.

Manusia tahu bahwa segenap kelakuannya ditentukan dalam dirinya sendiri. Tindakan manusia ditentukan di dalam dirinya, tetapi tindakan binatang ditentukan oleh hubungannya dengan yang di luarnya. Semua perbuatan manusia ditentukan dan dikendalikan dari dalam dirinya sendiri. Sedangkan Allah adalah satu pribadi yang mengetahui keadaan diri-Nya dan mempunyai kehendak diri secara sempurna.

"Aku ada" membuktikan bahwa Allah berwujud dan Allah ada pada segala tempat (/TB #Keluaran 3:14*). Allah tidak dapat dibatasi. Hanya ada satu pribadi yang benar, yang sempurna dan yang tidak dapat dibatasi, yaitu Allah. Bacalah /TB #Mazmur 145:3; Ayub 11:7-9; Yesaya 66:1; 1Raja 8:27* /TB #Roma 11:33. Dalam Keluaran 3:14* Tuhan berfirman, "Aku adalah Aku". Maksud dari perkataan itu khususnya menunjukkan bahwa Allah adalah satu pribadi. Ayat itu dapat diartikan sebagai berikut: "Aku tidak berubah dari dahulu, sekarang dan yang akan datang", dan ini sesuai dengan yang dikatakan di dalam /TB #Wahyu 1:8*, "Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Maha Kuasa". Semua sebutan bagi Allah yang ditulis dalam Alkitab menyatakan bahwa Ia adalah satu pribadi.

Yehova Jireh : Tuhan yang mengadakannya atau yang mencukupkan (/TB #Kejadian 22:14*). Yehova Rafa : Tuhan Tabibmu (/TB #Keluaran 15:26*). Yehova Nissi : Tuhan panji-panjiku (/TB #Keluaran 17:15*). Yehova Syalom : Tuhan pohon selamatku (/TB #Hakim 6:24*). Yehova Raak : Tuhan gembalaku (/TB #Mazmur 23:1*). Yehova Tsidkenu : Tuhan kebenaran kami (/TB #Yeremia 23:6*). Yehova Syemmah : Tuhan ada di sana (menyertai) (/TB #Yehezkiel 48:35*).

Dalam /TB #Yohanes 17:3* kita membaca, "...bahwa mereka mengenal Engkau". Kita tidak dapat mengenal suatu jadi-jadian, kita hanya dapat mengenal satu pribadi. Dari ayat di atas nyata juga bahwa Allah adalah satu pribadi. Dalam Alkitab dibedakan dengan jelas antara Allah Israel yang mahakuasa dan ilah bangsa kafir. Dalam /TB #Kisah 14:15; 1Tesalonika 1:9; Mazmur 94:9,10* kita dapat melihat perbedaan antara Allah yang hidup dan berhala yang mati. Allah mempunyai sifat-sifat pribadi yang nyata yang dapat kita lihat dalam ayat-ayat berikut: /TB #Kejadian 6:6; 1Raja 11:9*; /TB #Ulangan 6:15; Wahyu 3:19; Amsal 6:16*.

C. Hubungan Allah dengan Manusia.

Allah mengadakan hubungan dengan manusia dan menyatakan diri-Nya dalam perkara-perkara manusia. Allah telah menyediakan jalan bagi umat milik-Nya dan Ia memimpin mereka dalam perjalanan itu. Allah membebaskan, menyelamatkan dan menghukum manusia. Allah kita tidak hanya nyata di dalam makhluk-Nya dan ciptaan-Nya. Demikian juga Allah tidak menciptakan alam ini dan segenap makhluk-Nya serta memberikan kuasa kepada semua ciptaan-Nya itu lalu membiarkannya dan meninggalkannya begitu saja. Sekali-kali Allah tidak demikian. Ia bukan seperti tukang pembuat jam yang setelah jam itu jadi lalu diputar dan ditinggalkan karena menganggap pekerjaannya telah selesai. Allah kita masih mengadakan hubungan dan masih ikut bekerja dalam segala perkara alam ini. Dari /TB #Kejadian 1:1,26 dan /TB #Yohanes 1:1-3* nyata bahwa Allah menciptakan alam semesta ini dan juga manusia. Alam ini tidak ada dengan sendirinya dari dahulu, melainkan diciptakan. Alam semesta ini bukan kebetulan ada, melainkan ada sebab dijadikan. Hal ini juga membuktikan bahwa Allah adalah satu pribadi. Kita mengetahui bahwa Allah tetap meneruskan hubungan dengan alam dan manusia, dari ayat-ayat yang berikut: /TB #Ibrani 1:3; Kolose 1:15-17; Mazmur 104:27-30*; /TB #Mazmur 75:7,8*. Dari ayat-ayat itu nyata bahwa Allah memperhatikan dan memelihara segala sesuatu dengan kuasa-Nya. Semua makhluk menantikan rezeki mereka dari tangan Allah. Bila tidak demikian alam ini akan rusak dan hancur lebur. Allah memberi rezeki kepada semua makhluk-Nya. Allah mengatur sejarah dunia ini dan memerintah dari sorga. Burung pipit dipelihara-Nya, rambut kita diketahui jumlahnya, bunga-bunga didandani-Nya, dan Ia ikut merasakan penderitaan kita (/TB #Matius 6:28-30; 10:29,30*; /TB #Kejadian 39:21; 50:20; Daniel 1:9; Ayub 1:12*). Dari semua bukti itu nyata bahwa tak dapat tiada Allah adalah satu pribadi.

IV. KEESAAN ALLAH

Asas pengajaran tentang keesaan Allah berlawanan dengan pengajaran yang mengatakan bahwa ada banyak Allah; dan berlawanan dengan pengajaran yang berpendapat bahwa ada tiga Allah; yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus. Ada banyak ayat di dalam Alkitab yang memberikan kepastian bahwa Allah Esa. Bacalah: /TB #Ulangan 4:35; 6:4; Yesaya 44:6; 45:5,14,18; 1Timotius 2:5*; /TB #Markus 10:18; 12:29*. Dari ayat-ayat itu nyata bahwa sungguh Tuhan Allah kita adalah Allah yang Esa, dan kecuali Dia tidaklah ada Allah lain. Mustahil ada dua Allah, sebab Allah Mahakuasa dan tidak mungkin ada dua yang Mahakuasa.

Sifat Keesaan Allah

Asas pengajaran tentang keesaan Allah tidak berlawanan dengan Tritunggal dalam keesaan Allah itu. Memang ada tiga oknum dalam diri Allah, tetapi Allah itu Esa. Perkataan Ibrani dalam /TB #Kejadian 2:24* dan /TB #Kejadian 11:6* adalah "satu yang Esa", artinya "satu yang terdiri lebih dari satu unsur yang berhubungan dan bercampur". Misalnya suami dan isteri menjadi satu daging, artinya satu. Bila bangsa Israel menyebut "satu daging" artinya satu. Dalam bahasa Yunani ada juga kata yang dipakai untuk menunjukkan arti satu. Lihatlah /TB #1Korintus 3:6-8*, ia yang menanam dan yang menyiram adalah satu. /TB #1Korintus 12:13* mengatakan, "... dibaptis menjadi satu tubuh". Juga /TB #Yohanes 10:30* mengatakan, "Aku dan Bapa adalah satu".

Bandingkan ayat-ayat di atas dengan /TB #Yohanes 17:2-23* dan /TB #Galatia 3:28*. Sekalianya menjadi satu dalam Yesus Kristus. Perkataan "satu" dalam ayat-ayat itu dapat dibayangkan dengan "setandan pisang", artinya satu tandan tetapi terdiri dari beberapa buah pisang. Dalam bahasa Ibrani kata yang dipergunakan untuk Allah ialah "ecad".

Kita dapat melihat bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus masing-masing disebut Allah walaupun ketiganya merupakan pribadi yang tersendiri. Bacalah /TB #Matius 3:16,17; 2Korintus 13:13*. Tetapi bagaimana mungkin Allah yang Esa itu terdiri atas tiga pribadi pada saat yang sama?

Jawab: Allah itu Esa dan Allah terdiri dari tiga pribadi bukan berdasarkan pada satu segi pandangan. Tidak ada jawaban yang jelas dan sempurna untuk menerangkan tentang Allah yang Esa dan Allah Tritunggal (terdiri dari 3 pribadi) itu.

  1. Allah adalah Roh, dan perhitungan adalah buatan manusia dan alam yang kelihatan, sulit bila kita membandingkan hal-hal rohani menurut keadaan jasmani yang terbatas.
  2. Allah tidak terbatas, sedangkan kita sangat terbatas sekali. Tuhan Allah diam di dalam terang yang tidak dapat dihampiri oleh manusia. Kalau kita mencoba menerangkan keesaan Allah dan Tritunggal Allah, berarti kita mencoba menjelaskan hal yang tidak terbatas dengan pikiran dan perkataan yang terbatas, jadi penjelasan itu tidak sempurna.

Hanya ini yang dapat kita ketahui, yaitu bahwa Allah yang Esa itu adalah Allah Tritunggal. Hanya ada satu Allah, akan tetapi Allah menyatakan diri kepada manusia sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dan ketiga pribadi itu berbeda manifestasinya. /TB #Yohanes 14:16* mengatakan, "Aku akan minta kepada Bapa dan Ia akan memberikan kepadamu seorang penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu, yaitu Roh kebenaran." Di dalam /TB #Markus 1:10,11* disebutkan bahwa Roh Kudus turun ke atas Tuhan Yesus.

Jadi, Allah hanya satu, dan Ia menyatakan diri-Nya kepada kita dalam tiga pribadi - Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

V. ALLAH YANG ESA ADALAH ALLAH TRITUNGGAL

Sesungguhnya ini merupakan satu rahasia yang tidak dapat kita mengerti dengan sejelas-jelasnya. Akan tetapi hal ini diajarkan kepada kita di dalam Alkitab. Hal ini merupakan suatu asas pengajaran yang patut dipercayai walaupun kita tidak dapat mengerti dengan jelas.

A. Pengajaran Perjanjian Lama mengenai Allah Tritunggal.

Hal ini tidak disebutkan dengan jelas dalam Perjanjian Lama, tetapi disinggung sedikit:

  1. Nama Allah yang asli berarti lebih dari satu, yaitu "Elohim".
  2. Kita juga menemui perkataan "kita" yang dipakai oleh Allah untuk menyebut diri-Nya, dalam /TB #Kejadian 1:26; 11:7; Yesaya 6:8*.
  3. Demikian juga kata "Malaikat Tuhan" dalam /TB #Kejadian 16:7,9,10*.
  4. Pekerjaan Roh Kudus, /TB #Kejadian 1:2; Hakim 6:34*.
  5. Kedua perkataan "Tuhan", /TB #Kejadian 19:24*.

B. Pengajaran Perjanjian Baru mengenai Allah Tritunggal.

Dalam Perjanjian Baru hal ini disebutkan dengan jelas:

  1. Ketika Yesus dibaptiskan, /TB #Matius 3:16,17*. Dalam ayat ini Allah Bapa berkata dari sorga, Allah Anak dibaptiskan di Sungai Yordan, dan Allah Roh Kudus turun ke atas Yesus dalam wujud burung merpati.
  2. Perkataan yang dipakai pada saat membaptiskan orang-orang, /TB #Matius 28:19*. Dalam bahasa Yunaninya, kata "nama" dalam /TB #Matius 28:19* itu menyatakan bentuk tunggal, padahal menyebutkan tiga nama, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Jadi di sini nyata pula bahwa Allah yang Esa itu adalah Allah Tritunggal.
  3. Perkataan yang terdapat dalam /TB #2Korintus 13:13*.
  4. Tuhan Yesus sendiri mengajarkan tentang hal ini, lihat /TB #Yohanes 14:16*.
  5. Dalam Perjanjian Baru ada istilah-istilah: 'Allah', artinya 'Bapa' (/TB #Roma 1:7; 1Korintus 2:8-10*), 'Allah' artinya 'Anak' (/TB #Yohanes 20:28; 1:1; 6:27; Titus 2:13; Roma 9:15*), dan "Allah" artinya "Roh Kudus" (/TB #Kisah 5:3,4*).

Dari ayat-ayat di atas nyatalah bahwa: Bapa ialah kepenuhan Allah yang tidak kelihatan (/TB #Yohanes 1:18*); Anak ialah kepenuhan Allah yang telah dinyatakan (/TB #Yohanes 1:14-18*); Roh Kudus ialah kepenuhan Allah yang bekerja di dalam diri manusia (/TB #1Korintus 2:9,10). Bacalah Kolose 2:9*. Pertimbangan pikiran kita dapat menjelaskan keesaan Allah, akan tetapi hanya pernyataan Allah yang dapat menerangkan kepada kita bahwa Allah merupakan Tritunggal. Lihat /TB #1Korintus 15:27,28. Dalam Yohanes 1:18* dikatakan, "Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya." Dalam /TB #Yohanes 20:28* Tomas berkata kepada Tuhan Yesus, "Ya Tuhanku, dan Allahku," dan oleh sebab Tuhan Yesus tidak menegur Tomas, berarti Tuhan Yesus mengakui bahwa Ia adalah Allah. Dengan mengatakan demikian, tidak berarti bahwa Tomas memuji-muji lebih dari yang sepatutnya untuk mencari muka, sebab kalau memang demikian Tuhan Yesus akan menegur dia. Ada perbedaan antara perbuatan Tuhan Yesus dengan perbuatan Rasul Paulus dan Barnabas di Listera ketika orang-orang akan mempersembahkan korban kepada mereka, Barnabas sebagai Zeus, dan Paulus sebagai Hermes (/TB #Kisah 14:11-18*). Kata-kata Tomas ditujukan kepada Yesus Kristus dan diterima oleh-Nya, sebagai perlakuan yang benar bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Allah bagi Tomas. Dari antara rasul-rasul, Tomas adalah rasul yang sering merasa syak, dan dalam hal ini Yohanes ingin menunjukkan bagaimana orang yang syak hatinya digerakkan untuk percaya dan mengakui bahwa Yesus ialah Allah. Inilah yang diinginkan oleh Yohanes, yaitu membuktikan dalam Injil yang dituliskan bahwa Yesus ialah Allah yang hidup di atas bumi, dan Yohanes adalah sahabat Tuhan yang paling dikasihi oleh Dia. Dalam /TB #Roma 9:5* Rasul Paulus menyebut Yesus Kristus sebagai Allah. Bacalah ayat itu. Dalam /TB #Titus 2:13* dipakai kata "penyataan", dan kata itu tidak pernah dipakai untuk Allah Bapa, hanya untuk Allah Anak. Ayat itu dapat diterjemahkan demikian, "menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dalam pernyataan kemuliaan Allah Yang Mahabesar, yaitu Juruselamat kita Yesus Kristus. Dalam kalimat itu "Allah Yang Mahabesar" dan "Juruselamat kita Yesus Kristus" adalah satu pribadi. Dalam /TB #Ibr 1:8-10*, nyata bahwa dalam ayat-ayat itu Tuhan Yesus Kristus yang dibicarakan, begitu juga ayat /TB #Ibrani 1:9-13. Dalam ayat Ibrani 1:10* dikatakan, "Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau (Anak Allah - Yesus Kristus), telah meletakkan dasar bumi..." Jelas bahwa dalam ayat /TB #Ibrani 1:8,10* itu Yesus Kristus itu disebut Allah.

C. Pekerjaan Allah juga dikerjakan oleh Yesus.

  1. Tuhan Yesus menjadikan alam, /TB #Yohanes 1:3; 1Korintus 8:6*; /TB #Kolose 1:16; Ibrani 1:10; Wahyu 3:14*.
  2. Tuhan Yesus menanggung segala sesuatu, /TB #Kolose 1:17; Ibrani 1:3*.
  3. Tuhan Yesus membangkitkan orang-orang mati lalu menghukum mereka dan dunia juga, /TB #Yohanes 5:27-29; Matius 25:31,32*. Yesus Kristuslah yang menyatakan Allah kepada kita dan yang menebus kita; ini merupakan satu bukti Ketuhanan Yesus Kristus yang memuaskan hati orang Kristen.

D. Tuhan Yesus Menerima Kehormatan dan Penyembahan sama seperti Allah.

/TB #Yohanes 20:23; Yohanes 5:23; 14:14; Roma 10:9; 10:13; 1Korintus 11:24*; /TB #Ibrani 1:6; Filipi 2:10,11; Wahyu 5:12-24; dll. 1Petrus 3:15* mengatakan, "Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!"

Tuhan Yesus sama dan setara dengan Allah

/TB #Yohanes 5:18; Filipi 2:6*. Hal ini tidak boleh ditahankan dari manusia, tetapi harus diberitakan kepada manusia. Dari semuanya yang telah disebutkan nyatalah bahwa Tuhan Yesus adalah Allah.

E. Roh Kudus adalah Allah.

Roh manusia adalah batin kita, roh manusia itu adalah diri manusia yang sejati; demikian pula Roh Allah adalah Allah. Lihatlah /TB #1Korintus 2:11*. Bilamana mata rohani kita dicelikkan, kita akan melihat Yesus Kristus sebagai Juruselamat kita, dan kita harus mengakui bahwa Roh Allah sudah bekerja dalam hati kita dan sudah menyatakan hal-hal tentang Tuhan Yesus kepada kita. Roh Allah (Roh Kudus) harus dibedakan dengan Bapa dan Anak. Dalam kata-kata yang diucapkan dalam upacara pembaptisan dan dalam "Nikmat", Roh Kudus ditinggikan sama dengan Bapa dan Anak. Kita patut mempelajari sifat-sifat Allah bersama-sama dengan sifat-sifat Kristus dan Roh Kudus.

Roh Kudus adalah Satu Pribadi yang Nyata, sama seperti Bapa dan Anak

Lihatlah /TB #Yohanes 15:26; Galatia 4:6; Yohanes 16:7*. Roh Kudus adalah pengantara, /TB #Roma 8:26; Yohanes 14:16*. Roh Kudus dapat menyelidiki, mengetahui, berfirman, menyaksikan, menempelak, menolong, menggerakkan hati, memimpikan, menjadikan sesuatu, menyucikan, mendoakan, mengatur perkara-perkara jemaat, melakukan mujizat, membangkitkan orang mati; oleh sebab itu Ia bukan hanya merupakan suatu hasil dari sifat Allah, tetapi benar-benar merupakan satu pribadi. Roh Kudus dapat ditolak, didukacitakan dan dihujat oleh manusia. Menghujat dan berdosa kepada Roh Kudus tidak dapat diampuni; bila demikian, tentu dosa itu bukan terhadap sifat Allah melainkan terhadap pribadi Allah, yaitu Roh Kudus, /TB #Matius 12:31*; /TB #Yesaya 63:10; Kisah 5:3,4,9; 7:51; Efesus 4:30*. Roh Kudus dapat mengasihi kita (/TB #Roma 15:30*).

Walaupun Allah yang Esa itu mempunyai tiga pribadi; tetapi Ia hanya satu. Kita sepatutnya mengatakan, "Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah, akan tetapi tidak berarti bahwa ada tiga Allah, sebab hanya satu Allah yang Esa."

F. Ketiga Pribadi: Allah, Anak, dan Roh Kudus sama besarnya.

  1. Bapa sebagai Bapa saja, bukan Allah dalam keseluruhan, sebab Allah bukan hanya Bapa saja, tetapi juga sebagai Anak dan Roh Kudus. Bapa artinya Bapa dalam hubungan-Nya dengan Anak dan melalui Anak, hubungan-Nya dengan jemaat dan dunia ini. Memang Allah adalah Bapa dalam hubungannya dengan Anak, hanya apabila kita dipersatukan dengan Kristus, barulah kita menjadi anak-anak Allah dan dapat menyebut Allah sebagai Bapa kita.
  2. Anak sebagai Anak saja, bukan Allah dalam keseluruhan, sebab Allah bukan hanya Anak saja, tetapi juga Bapa dan Roh Kudus. Anak artinya Anak dalam hubungannya dengan Bapa. Anak diutus ke dalam dunia oleh Bapa untuk menebus dunia ini. Dan Anak dengan Bapa mengutus Roh Kudus.
  3. Roh Kudus sebagai Roh Kudus saja, bukan Allah dalam keseluruhan, sebab Allah bukan hanya Roh Kudus saja, tetapi juga Bapa dan Anak. Roh Kudus artinya, Roh Kudus dalam hubungannya dengan Bapa dan Anak. Roh Kudus diutus oleh Bapa dan Anak untuk membebaskan hati manusia agar datang kepada Kristus dan Ia diutus untuk menguduskan hati orang-orang Kristen. Salah satu dari ketiga pribadi ini (Bapa, Anak, Roh Kudus) kalau dipisahkan dari hubungannya dengan kedua yang lain, tidak dapat dan tidak boleh disebut Allah yang Esa.

VI. KEKEKALAN ALLAH

  1. Allah itu kekal, /TB #Kejadian 21:33; Yesaya 40:28; Ibrani 1:12*; /TB #Mazmur 90:2-4; 102:25-28*. Dari ayat-ayat itu nyata bahwa Allah itu kekal. Allah tidak ada permulaannya dan tidak ada kesudahannya. Sebelum zaman-zaman purba, Allah sudah ada, dan Ia sekarang ada, bahkan Ia selalu akan ada pada segala zaman yang akan datang. Dalam /TB #Keluaran 3:14* (TKB), Yehova mengatakan, "Aku akan ada, yang Aku ada".
  2. Allah tidak berubah, /TB #Maleakhi 3:6; Yakobus 1:17*. Bagi Allah, waktu yang telah lalu, yang sedang dijalani sekarang dan yang akan datang adalah sama saja, yaitu sama dengan sekarang. /TB #1Samuel 15:29* dan /TB #Ibrani 6:17* menunjukkan bahwa Allah tidak berubah. Allah tidak berubah dalam perkataan-Nya, kehendak-Nya dan sifat serta tindakan-Nya.

    Pertanyaan : /TB #Yunus 3:10*. Dalam ayat ini dikatakan bahwa Allah telah menyesal. Apa sebabnya? Jawab : Sifat Allah tidak berubah, yaitu Ia tetap membenci dosa dan harus menghukum orang berdosa, akan tetapi sebagaimana Niniwe itu meninggalkan dosa mereka dan bertobat, demikian pula Tuhan membatalkan niat-Nya untuk menghukum orang yang berdosa itu. Tuhan menghukum orang yang berdosa hanya apabila mereka tidak mau bertobat. Keputusan Allah tidak berubah terhadap dosa dan kebenaran; oleh sebab itu terhadap orang yang bertobat dan datang kepada kebenaran, Allah juga mengubah sikap-Nya. Tuhan ingin memberikan rahmat kepada orang yang meninggalkan dosanya lalu bertobat. Oleh karena itulah sikap dan keputusan Allah tidak berubah. Akan tetapi hubungan Allah dengan manusia berubah apabila hubungan manusia dengan dosa berubah. Kalau Allah membenci kejahatan dan mengasihi kebenaran, Ia harus memberikan balasan kepada manusia sesuai dengan sifat-Nya itu. Dalam ayat-ayat yang disebutkan di sini dan juga ayat-ayat yang lain, sifat atau tindakan manusia diterapkan kepada Allah. Tidak ada cara lain untuk mengungkapkan perasaan Allah, kecuali menyesuaikannya dengan sifat-sifat dan sikap manusia. Bila tidak demikian, bagaimana manusia dapat mengerti perasaan Allah? Jadi, pikiran yang fana ini dipakai untuk menerangkan perkara-perkara ilahi. Itulah sebabnya dikatakan "maka menyesallah Allah". Tetapi bukan berarti Ia menyesal sebab salah dan bukan karena Ia ingin mengubah maksud dan tujuan-Nya yang semula.

    Pertanyaan: Dalam /TB #Kejadian 6:6* dikatakan bahwa Allah telah menyesal sebab Ia telah menjadikan manusia yang ternyata membawa dukacita bagi-Nya?

    Jawab : Kejahatan manusia terlalu besar dan keji sekali di hadapan Allah sehingga mendatangkan dukacita kepada Allah sampai dikatakan, "Maka menyesallah Tuhan". Akan tetapi ini tidak berarti bahwa Allah lebih suka kalau manusia tidak diciptakan oleh-Nya, hanya hal ini membawa dukacita kepada Allah. INGATLAH: DOSA SENANTIASA MEMBAWA DUKACITA KEPADA ALLAH.

    Perbuatan manusia mendukacitakan Allah oleh sebab Allah tahu bahwa Ia harus membinasakan manusia kalau manusia tetap di dalam dosanya. Hal ini dijelaskan pada /TB #Kejadian 6:7,8*. Akan tetapi Nuh berkenan kepada Allah, oleh sebab itu Allah tidak perlu melanjutkan hukuman-Nya atas manusia. Bila dikatakan Allah menyesal, maksudnya ialah Allah mengubah sikap-Nya dari memelihara menjadi membinasakan oleh karena dosa. Allah mempunyai dua sikap terhadap manusia, yaitu memelihara dan menciptakan atau membinasakan.

    Dalam hal ini Tuhan mau berbalik dari sikap memelihara kepada sikap membinasakan, akan tetapi Allah mendapati bahwa Nuh adalah seorang yang benar, oleh sebab itu Allah tidak jadi membinasakan. Dosa manusia memaksa Allah yang suci dan benar untuk membinasakan manusia yang berdosa. /TB #Kejadian 6:6 harus dilanjutkan dengan Bilangan 23:19*. Kesucian Allah yang tidak berubah menuntut Ia membedakan sikap-Nya terhadap orang-orang benar dan orang-orang berdosa. Bilamana orang-orang benar menjadi orang berdosa tentu sikap Tuhan kepada orang itu harus berubah juga.

    Matahari yang sama mencairkan lilin dan mengeraskan tanah liat, bukan mataharinya yang berubah, tetapi lilin dan tanah liat itu.

    Ancaman-ancaman dalam /TB #Yunus 3:4-10* memang ada sangsinya yaitu kalau mereka tidak bertobat, barulah mereka dihukum. Jadi, ancaman itu berlaku dalam hal apakah mereka bertobat atau tidak. Lihatlah /TB #Roma 6:23*. Bilamana ada seorang naik sepeda dan angin yang kencang meniup dari arah yang berlawanan dengan kita, maka orang itu akan sukar sekali maju, akan tetapi bila orang itu berbalik, seakan-akan anginnya berubah, padahal sebenarnya tidak. Orang yang berdosa berarti orang yang melawan anugerah Allah. Bila kita dilahirkan baru, maka kita mulai bekerja bersama-sama dengan Allah, bukan melawan Allah. Allah tidak berubah, tetapi kitalah yang berubah.

  3. Allah ada oleh sebab kuasa-Nya sendiri. Lihatlah /TB #Yohanes 5:26* dan selanjutnya. Di dalam ayat itu dikatakan bahwa Allah memiliki hidup dalam diri-Nya sendiri. Allah tidak diciptakan karena Allah sudah ada, senantiasa ada, dan Ia mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri. Hanya Allah yang ada dari kekal sampai kekal. Bacalah /TB #Kisah 17:14-28*.


BAB 3. ASAS PENGAJARAN TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH

Sifat-sifat Allah ialah kesempurnaan-kesempurnaan yang memang ada pada Allah, dan yang memancari dari pribadi-Nya. Kita akan menyelidiki sifat-sifat Allah yang berikut: Allah Mahatahu, Allah Mahakuasa, Allah Mahahadir, Allah Mahasuci, Allah Mahakasih, Kebenaran dan keadilan Allah, Rahmat dan Kemurahan Allah, Kesetiaan Allah.

I. ALLAH MAHATAHU

Allah adalah Roh, oleh sebab itu Allah mempunyai pengetahuan. Allah adalah Roh yang sempurna, oleh sebab itu pengetahuan Allah sempurna. Allah Mahatahu, berarti Allah mengetahui segala sesuatu dan pengetahuan-Nya sempurna. Lihat /TB #1Yohanes 3:20; Ayub 37:16; Mazmur 147:5*. Allah mengetahui segala sesuatu, pengetahuan-Nya sempurna dan tidak dapat diduga. Ayat dari Mazmur itu menunjukkan bahwa pengetahuan Allah luas sekali dan tak terhingga. Manusia tidak dapat memiliki segala pengetahuan, kebijaksanaan, dan Rahmat Allah, /TB #Ayub 11:7,8; Yesaya 40:28; Roma 11:30*. Seluruh maksud dan rencana Allah yang berkenaan dengan manusia dan keselamatannya tidak dapat dimengerti dan diduga oleh pikiran manusia.

Apakah yang diketahui oleh Allah?

Allah melihat dan mengetahui semua yang terjadi di segenap tempat, Ia melihat segala yang baik dan yang jahat (/TB #Amsal 15:3*).

Allah mengetahui segala sesuatu dalam alam ini, tiap-tiap binatang, bahkan burung pipit pun diketahui jumlahnya (/TB #Mazmur 147:4; Matius 10:29*).

Allah melihat semua anak manusia, dan memperhatikan segala perbuatan mereka, bahkan Allah melihat perjalanan hidup setiap orang dan menyelidiki bekas tapak kakinya (/TB #Mazmur 33:13-15; Amsal 5:21*).

Allah mengetahui segala perbuatan dan pikiran manusia (/TB #Mazmur 139:1-3*; /TB #1Tawarikh 28:9*).

Allah mengetahui dan mendengar semua perkataan manusia (/TB #Mazmur 139:4*), dan mengetahui segala kesusahan dan dukacita manusia (/TB #Keluaran 3:7*). Seringkali kita menganggap seakan-akan Allah tidak mengetahui kesusahan kita. Mungkin demikian pula perasaan bangsa Israel ketika mereka berada di tanah Mesir, akan tetapi Tuhan tahu kesusahan mereka dan pada waktunya Tuhan menolong mereka.

Allah juga mengetahui sampai perkara-perkara yang terkecil sekalipun (/TB #Matius 10:29,30*). Allah mengetahui segala sesuatu dari awal (zaman purbakala) sampai kepada masa yang akan datang, sampai akhir zaman (/TB #Kisah 15:18; Yesaya 46:9,10*).

Pertanyaan: Apakah ada sesuatu yang tidak diketahui oleh Yesus Kristus?

Bandingkan /TB #1Petrus 1:20; Markus 13:32; Yohanes 15:15*. Yesus Kristus telah menyatakan segala sesuatu kepada manusia, yaitu segala sesuatu yang telah dinyatakan oleh Bapa kepada-Nya. Hanya saat kedatangan-Nya yang dirahasiakan oleh Allah Bapa. Allah Bapa tidak memberitahukan hal itu kepada kita, karena Ia menginginkan agar kita senantiasa menantikan kedatangan Tuhan Yesus (/TB #Matius 20:17-19; Keluaran 3:19; Kisah 3:17,18*; /TB #2Raja 7:1,2; Mazmur 41:10; Galatia 1:15,16; 1Petrus 1:2*) Allah tahu dari permulaan apa yang akan diperbuat oleh manusia.

Seluruh rencana Allah untuk segala zaman dan rencana-Nya untuk setiap manusia sudah ditimbang, dipikirkan, dan direncanakan dari mulanya, dan tidak ada pemikiran lagi atau penyesalan untuk mengubah rencana itu (/TB #Efesus 1:9-12; 3:4-9; Kolose 1:25,26*). Sebab itu kita patut mengatakan, "O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya" (/TB #Roma 11:33*). Dan lagi, "Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya" (/TB #Mazmur 139:6*). Selanjutnya kita wajib juga mengatakan, "Allah mengetahui segala keperluan kita, dan akan mencukupinya" (/TB #Matius 16:8*). Allah mengetahui segala perbuatan yang dilakukan oleh setiap orang, perbuatan baik atau jahat (/TB #Yesaya 44:28 dan Kisah 2:3*). Allah mendengar tangisan kita (/TB #Mazmur 56:9*).

Bahwa Allah Mahatahu dibuktikan dalam semua nubuat. Cahaya bergerak lebih cepat dari pada bunyi. Api dari sebuah meriam akan lebih dahulu nampak, baru kedengaran bunyi dentumannya. Demikian pulalah terangnya nubuat dalam Firman Allah yang diberikan kepada kita, dan apabila kita dapat hidup lebih lama lagi, kita akan melihat segala nubuat itu digenapi. Kita dapat melakukan dua atau tiga hal dalam satu saat, misalnya bermain piano sambil berbicara kepada orang dalam suatu saat; akan tetapi Allah dapat melakukan segala sesuatu pada saat yang sama.

Dalam /TB #Kejadian 16:13* dikatakan, "Dia yang telah melihat aku". Sebagaimana alat-alat sinar x dapat menembus bagian tubuh manusia yang di dalam, demikian pula tidak ada sesuatu yang tersembunyi bagi Tuhan. Ayat ini merupakan peringatan kepada orang berdosa. Dan menjadi suatu dorongan kepada orang yang saleh supaya berbuat baik.

Janganlah kita beranggapan bahwa seolah-olah Allah telah menyediakan kayu pemukul untuk kita supaya kita takut, tetapi karena Ia mengasihi kita dan karena Ia suci, itulah yang seharusnya menjadi alasan kita untuk takut kepada-Nya. Lihatlah /TB #Mazmur 139:17,18*. Bahwa Allah telah mengetahui segala sesuatu sebelumnya tidak boleh dikacaukan dengan takdir Allah. Kedua hal itu agak berbeda. Segala sesuatu yang telah diketahui lebih dahulu oleh Allah akan jadi, pasti akan terjadi; tetapi bukan semuanya ditakdirkan Allah supaya jadi. Takdir Allah dialaskan pada pengetahuan-Nya tentang sesuatu sebelum hal itu terjadi. Pada zaman dahulu Firaun dikeraskan hatinya, dan hal itu ditanggungkan pada diri Firaun sendiri. Walaupun Allah telah mengetahuinya lebih dahulu, dan telah diberitahukan lebih dahulu oleh Allah, tetapi perbuatan itu semata-mata ditanggung oleh Firaun sendiri. Semua perbuatan manusia telah diketahui lebih dahulu oleh Allah, tetapi bahwasanya semua hal itu sudah ada di dalam pengetahuan Allah bukan berarti bahwa itu harus terjadi. Ada hal yang sudah ditakdirkan oleh Allah, ada hal yang hanya diketahui lebih dahulu oleh-Nya. Dalam pasal-pasal /TB #Daniel 2:1-49; 8:1-27, Kisah 15:18; Yesaya 48:5-8; 46:9,10* dikemukakan bahwa Allah mengetahui lebih dahulu segala sesuatu yang akan terjadi dalam dunia ini. Pengerasan hati selalu dimulai dalam diri manusia, bukan dari pihak Allah.

II. ALLAH MAHAKUASA

Allah Mahakuasa berarti Allah berkuasa melakukan segala sesuatu yang Ia kehendaki. Kuasa Allah tidak terbatas.

Allah berkuasa membuat segala sesuatu; tidak ada pekerjaan yang sukar bagi Allah: tidak ada hal yang mustahil bagi Allah. Allah Mahakuasa (/TB #Ayub 42:2; Kejadian 18:14; Matius 19:26*). Segenap alam takluk dan tunduk di bawah kuasa dan kehendak Allah (/TB #Kejadian 1:3*; /TB #Mazmur 33:6-9; 107:25-29; Nahum 1:3-6*).

Segenap manusia takluk di bawah kuasa dan kehendak Firman allah. Berbahagialah orang yang dengan kehendaknya sendiri tunduk dan takluk kepada kuasa dan kehendak Firman Allah (/TB #Yakobus 4:12-15*). Malaikat-malaikat takluk di bawah kehendak dan kuasa Firman Allah (/TB #Ibrani 1:13,14*). Setan pun tunduk kepada kehendak dan kuasa Firman Allah (/TB #Ayub 1:12; 2:6*).

Allah berkuasa menjadikan hal-hal yang baru (/TB #Matius 3:9*). Allah berkuasa melakukan perkara-perkara rohani yang ajaib (/TB #Efesus 1:19; 3:20*; /TB #2Korintus 4:6*).

Kuasa Allah hanya dapat dibatasi oleh kehendak Allah.

Di dalam menyatakan atau melaksanakan kuasa-Nya, maka kuasa Allah itu dibatasi oleh kehendak-Nya sendiri, kehendak-Nya yang berbudi dan yang penuh kasih. Allah dapat membuat segala sesuatu, akan tetapi Ia hanya akan melakukan hal-hal yang sesuai dengan hikmat-Nya, kesucian-Nya dan kasih-Nya. Allah tidak pernah memboroskan kuasa-Nya (/TB #Yesaya 59:1,2*).

Pertanyaan : Apakah sebabnya Allah tidak mulai dari sekarang membinasakan si Iblis?
Jawab : Pada saat ini belum saatnya bagi Tuhan untuk membinasakan si Iblis. Walaupun perasaan iri hati Iblis dan niat hati Iblis jahat sekali, namun hal itu juga merupakan bagian dari rencana Allah yang penuh kasih yaitu untuk menguji manusia. Allah tidak menjadikan dua buah gunung tanpa lembah diantaranya. Bukan berarti Allah tidak dapat melakukannya, tetapi Allah tidak mau melakukannya. Allah tidak dapat berbuat sesuatu yang bertentangan dengan sifatnya. Allah tidak dapat berdusta, Allah tidak dapat berdosa, Allah tidak dapat mati. Apabila allah melakukan salah satu di antaranya, itu menunjukkan bahwa Allah kurang berkuasa. Allah mempunyai segala kuasa yang setara dengan kesempurnaan-Nya - Ia mempunyai segala kuasa untuk melakukan apa yang patut dilakukan-Nya.

Pertanyaan : Dapatkah Allah menjadikan sebuah batu yang sedemikian besarnya sehingga Ia tidak dapat mengangkatnya? Bagaimana saudara menjawab pertanyaan itu? Jawab : Ia tidak menghendaki hal itu.

Allah Mahakuasa bukan berarti Ia akan memakai atau menyatakan segala kuasa-Nya. Tuhan Allah dapat mengendalikan kuasa-Nya. Kuasa Allah ada di bawah perintah kehendak-Nya yang berbudi. Allah berkuasa melakukan semua hal yang dapat Ia lakukan, hanya hal-hal yang sesuai dengan kehendak-Nya saja. Allah dapat menjadikan anak-anak Abraham dari batu-batu, tetapi Ia tidak melakukan hal itu. Kehendak Allah mengatasi kuasa-Nya. Allah dapat membatasi diri-Nya sendiri, tetapi tidak ada apapun yang dapat membatasi Dia. Memang perbuatan Allah yang Mahakuasa itu dibatasi pada waktu Ia mengenakan tubuh manusia yang fana, menjelma di dalam Yesus Kristus. Hal ini dilakukan-Nya sebab kasih-Nya kepada manusia. Bilamana kita membatasi diri kita karena kita mengasihi orang lain, maka kita meniru teladan Allah. Tuhan Yesus Kristus telah melakukan hal itu, sebagaimana yang dikatakan dalam /TB #Filipi 2:5-11*.

III. ALLAH MAHAHADIR

Allah ada disegala tempat, /TB #Mazmur 139:7-10; Yeremia 23:23,24*; /TB #Kisah 17:24-28; Yesaya 57:15*. Allah ada di seluruh bagian alam ini dan dekat kepada kita masing-masing. Di dalam Dia tiap-tiap orang hidup dan bergerak. Tidak ada yang dapat menghalangi Allah. Manusia tidak dapat. Iblis, roh jahat tidak dapat, dan makhluk apapun juga tidak dapat menghalangi. Hanya satu hal yang dapat menghalangi Allah, yaitu dosa, dosa saya. Dosa orang lain tidak dapat menghalangi kehendak Allah untuk diri saya, hanya dosa saya sendiri. Tidak ada yang saya takuti, kecuali dosa saya. Allah ada di mana-mana tempat berarti Allah dalam segenap pribadi diri-Nya, tidak terpisah-pisah, memenuhi segenap alam ini. Bila dikatakan Allah dekat dengan kita, hal itu terasa masih jauh, sebab Ia ada di dalam kita, roh kita merupakan tempat tinggal yang paling disukai Allah. Dalam Talmud diuraikan perbedaan antara menyembah Allah dan menyembah berhala sebagai berikut; berhala itu kelihatannya dekat dengan kita, akan tetapi sesungguhnya berhala itu jauh sekali. Yehova seakan-akan jauh dengan kita, akan tetapi sesungguhnya Ia dekat. Allah ada dimana-mana tempat untuk mendengar doa kita.

Akan tetapi, dalam arti yang lain, Allah tidak ada di mana-mana tempat. /TB #Yohanes 14:28; 20:17; Efesus 1:20; Wahyu 21:2,3,10,23; 22:1,3*. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Allah mempunyai suatu tempat kediaman yang pasti. Dalam arti ini Allah tidak ada dimana-mana tempat dalam alam ini, karena Ia berada pada tempat kediaman yang pasti itu (/TB #Yesaya 66:1*). Maksudnya, pada beberapa tempat tertentu Allah itu nyata, ada, sedangkan pada beberapa tempat lain tidak. Bacalah /TB #Markus 1:9-11*. Allah Bapa menyatakan diri sepenuhnya di dalam sorga. Dahulu Anak Allah menyatakan diri sepenuhnya di dalam dunia, sekarang Anak Allah sudah ada di surga. Allah Roh Kudus menyatakan diri dimana-mana tempat disegenap alam ini (/TB #Kejadian 1:2; Mazmur 104:30*); dan di dalam hati setiap orang yang percaya (/TB #Yohanes 14:16,17; Roma 8:9*); juga kepada semua orang yang tidak percaya (/TB #Yohanes 16:7-11*). Oleh sebab itu Roh Kudus, Allah Bapa dan Allah Anak tinggal di dalam orang saleh (/TB #Yoh 14:17,19,20,23*).

Manfaat dari pengajaran ini:

  1. Hal yang kita bahas di atas menjadi suatu penghiburan bagi kita. Allah dekat kepada kita. Berserulah kepada-Nya sebab Ia mendengar. Roh Tuhan dan roh kita dapat bertemu. Ia lebih dekat kepada kita daripada tangan dan kaki kita (bacalah /TB #Mazmur 139:17,18 dan Matius 28:20*).
  2. Suatu peringatan bagi kita: Orang berdosa tidak dapat melarikan diri dari pandangan Allah, oleh sebab itu kita harus takut berbuat dosa. "Kulihat Dia yang telah melihat aku".

IV. ALLAH MAHASUCI

A. Kesucian Allah

Allah itu suci, amat suci, Allah Mahasuci, /TB #Yesaya 6:3; Yosua 24:19*; /TB #Mazmur 22:4; 99:5,9; 5:12; Yohanes 17:11; 1Petrus 1:15,16*. Allah disebut "Yang Mahakudus Allah Israel" kira-kira tiga puluh kali dalam Kitab Yesaya, dan lima kali dalam kitab-kitab yang lain. Dalam Perjanjian Baru, Allah Anak disebut "Yang Kudus", /TB #1Yohanes 2:20*. Dan Pribadi yang ketiga disebut "Roh Kudus". Suci adalah sifat Allah yang terutama dan yang penting, /TB #Yesaya 57:15*. Dalam ayat ini dapat kita lihat bahwa nama menyatakan sifat. Kesucian Allah menguasai segenap sifat Allah. Kasih Allah tidak dapat melawan kesucian Allah.

B. Apakah artinya suci ?

/TB #Imamat 11:43-45, Ulangan 23:14*, bacalah juga ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya. Suci berarti bebas dari segala yang najis, yaitu bersih. Allah itu suci, artinya Allah itu kudus dan bersih, /TB #1Yohanes 1:5*.

Perhatikan segenap Taurat, syarat-syarat Tuhan dan semua peraturan tentang membasuhkan diri: ada tiga bagian di dalam Kemah Suci; dan yang diizinkan menghampiri Allah dari antara orang-orang Israel ialah orang-orang Lewi, para Imam dan Imam Besar, tetapi dengan perbedaan. Dan orang yang mau menghampiri Allah harus membawa korban persembahan. Segenap Firman Allah kepada Musa dalam /TB #Keluaran 3:5*, dan kepada Yosua dalam /TB #Yosua 5:15; hukuman atas Uzia dalam 2Tawarikh 26:16-26*, Firman Tuhan kepada bani Israel supaya mereka tidak mendekati gunung Sinai dan pada waktu Allah turun ke tempat itu; kebinasaan Korah, Datan, dan Abiram dalam /TB #Bilangan 16:1-33; kebinasaan Nadab dan Abihu dalam Imamat 10:1-3*; dalam semua peristiwa itu Tuhan ingin mengajarkan dan menekankan kepada bani Israel bahwa Allah itu suci, begitu suci sehingga manusia tidak dapat langsung menghampiri Dia.

Inti bagian ini, yaitu Allah itu suci, merupakan pengajaran yang utama dan penting di dalam Alkitab, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dalam agama Yahudi maupun agama Kristen.

C. Bagaimana Kesucian Allah Dinyatakan

  1. Kesucian Allah dinyatakan dalam hal Allah membenci dosa (/TB #Habakuk 1:13; Kejadian 6:5,6; Ulangan 25:16; Amsal 15:9,26*).
  2. Kesucian Allah dinyatakan dalam hal Allah berkenan akan kebenaran dan kesucian (/TB #Amsal 15:9; Imamat 19:2; 20:26*).
  3. Kesucian Allah dinyatakan dalam hal Allah tidak pernah berbuat dosa atau kejahatan (/TB #Ayub 34:10*).
  4. Kesucian Allah dinyatakan dalam hal orang berdosa diceraikan daripada Allah (/TB #Yesaya 59:1,2*). Oleh sebab itu penebusan perlu diadakan agar orang berdosa dapat menghampiri Allah. Hal ini dapat kita ketahui pada ayat-ayat: /TB #Efesus 2:13; Ibrani 10:19; Yohanes 14:6*. Tidak ada orang yang dapat menghampiri Allah kecuali melalui darah Tuhan Yesus yang tertumpah di atas kayu salib. Kesucian Allah menuntut adanya penebusan. Tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa tebusan itu perlu hanya supaya manusia digerakkan oleh suatu teladan yang baik. Tebusan itu bukan hanya suatu teladan yang baik, tetapi perlu bagi kita agar kita dapat menghampiri Allah. "Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan." Artinya sebab Allah itu suci, dosa harus diampuni sebelum manusia dapat bersekutu dengan Allah.
  5. Kesucian Allah dinyatakan dalam hal orang berdosa dihukum (/TB #Keluaran 34:6-7; Kejadian 6:5-7; Mazmur 5:5-7*). Allah menghukum orang berdosa bukan untuk mendatangkan kebaikan bagi orang berdosa, tetapi Allah menghukum orang berdosa sebab Ia suci. Allah membenci dosa. Kesucian Allah dan kebencian Allah terhadap dosa tetap hidup di dalam diri-Nya sehingga hal itu harus dinyatakan kepada manusia. Bila Allah murka terhadap dosa, itu berarti kesucian Allah menuntut untuk menghukum orang berdosa. Dalam /TB #Yesaya 53:6*, "menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian" berarti "menuntut agar Ia dihukum". Bila ada yang menganggap bahwa hukuman atas dosa itu tidak ada hubungannya dengan kebencian Allah terhadap dosa, maka anggapan itu tidak sesuai dengan Alkitab, dan merupakan suatu penghinaan kepada Allah. Allah Mahasuci dan Ia benci sekali terhadap dosa. Sifat ini kadang-kadang ada di dalam diri kita dalam hal kita benci terhadap kejahatan. Akan tetapi, karena Allah Mahasuci, murka-Nya terhadap dosa yang kecil sekalipun, lebih besar daripada murka kita terhadap dosa yang besar. Memang Allah kasih, tetapi kasih-Nya bukan kasih yang membiarkan dosa. "Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan" (/TB #Ibrani 12:29*). Kasih Allah kepada orang berdosa tidak dapat kita mengerti kecuali dalam hal murka-Nya yang bernyala-nyala terhadap dosa, yaitu murka-Nya yang bernyala-nyala terhadap Tuhan Yesus Kristus yang menanggung dosa-dosa kita di kayu salib.
  6. Kesucian Allah dinyatakan dalam hal Allah menyediakan korban (grafirat) untuk menyelamatkan manusia daripada dosa mereka, dan menyucikan mereka. Kematian Tuhan Yesus bukan hanya menyatakan kasih Allah, tetapi terutama menyatakan kesucian Allah, dan kebencian-Nya terhadap dosa (/TB #Yohanes 3:16; 1Petrus 3:18*).

D. Nasihat sehubungan dengan kesucian Allah

  1. Kita harus menghampiri Allah dengan rasa takut dan hormat. Serafim sekalipun harus menudungi mukanya dan kakinya pada waktu mereka menghadap hadirat Allah. Serafim mempunyai enam sayap, empat sayap berfungsi untuk menyembah dan dua yang lain untuk bekerja dan melayani (/TB #Ibrani 12:28,29*; /TB #Keluaran 3:4,5; Yesaya 6:1-3*).
  2. Terang kesucian Allah menyatakan kenajisan dosa kita (/TB #Yesaya 6:5,6; Ayub 42:5,6*). Jika seseorang menganggap dirinya baik atau suci, jelas bahwa orang itu belum bertemu dengan Tuhan. Kalau kita berhadapan dengan Allah, maka kebenaran diri kita akan dihancurkan. Bila ada orang yang mengaku dirinya benar, maka kita patut menunjukkan dan menyatakan kesucian Allah kepada-Nya agar ia menginsafi dirinya yang berdosa (/TB #Yesaya 64:6*).
  3. Tidak ada pengampunan tanpa penumpahan darah Kristus (/TB #Ibrani 9:22*). Manusia harus ditutupi dihadapan Allah yang suci, dan hanya darah Yesus Kristus yang dapat menutupi dosa kita.
  4. Betapa ajaibnya kasih Allah kepada kita. Kita tidak akan heran apabila suatu ilah yang berdosa mengasihi orang berdosa, tetapi bila Allah yang nama-Nya suci, Allah Yang Mahasuci mengasihi kita yang jahat, maka hal itu merupakan suatu keajaiban. Kita tidak dapat menduga rahasia ini. Tidak ada rahasia lain di dalam Alkitab yang seajaib ini.

E. Keterangan lain tentang kesucian Allah.

Dalam /TB #Keluaran 15:11* dikatakan, "...siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu," dan dalam /TB #Keluaran 9:10-16* dikatakan bahwa orang Israel harus menguduskan diri menghadap Allah untuk menyembah Dia. Dalam /TB #Yesaya 6:3* kita dapat melihat perbedaan antara kesucian Allah dan kenajisan bibir manusia yang harus disucikan dengan api dari mezbah. Bacalah /TB #2Korintus 7:1; 2Tesalonika 3:13 dan khususnya Ibrani 12:29*, di mana Allah disebut "api yang menghanguskan", yaitu menghanguskan segala dosa.

Dahulu pengertian orang Yahudi mengenai kesucian belum begitu jelas, dan pengertian itu makin lama makin bertambah jelas. Akan tetapi pengertian yang benar dan jelas tentang kesucian hanya didapati dalam Perjanjian Baru, dan terutama dalam kehidupan dan pekerjaan Tuhan Yesus.

Pada saat seseorang menyadari bahwa dirinya berdosa, pada saat itulah ia mengetahui sebagian (kecil) dari kesucian Allah yang telah didukacitakannya.

Dalam Perjanjian Lama asas pengajaran yang terutama bukan mengenai keesaan Allah dan kemuliaan Allah, akan tetapi mengenai kesucian Allah.

Tujuan agama Kristen ialah agar diri kita menjadi suci. Akan tetapi kesucian itu menjadi tujuan manusia hanya apabila manusia mengerti bahwa Allah itu suci. Kesucian bukan keadilan. Keadilan merupakan hasil atau akibat daripada kesucian. Bukan Allah itu suci karena Ia mengasihi, akan tetapi Allah mengasihi karena Ia suci. Kadang-kadang Allah menunjukkan rahmat-Nya dengan nyata dan kadang-kadang tidak, sesuai dengan kehendak-Nya, akan tetapi kesucian Allah itu pasti dan tidak berubah. Harus ada suatu alasan untuk menunjukkan rahmat Allah, tetapi tidak perlu ada alasan untuk menyatakan kesucian Allah oleh sebab Allah memang suci. Ia adalah sumber kesucian, kebenaran, dan kebaikan. Sifat dan perbuatan Allah itu murni dan suci. Suci artinya bukan hanya terpisah dari segala yang najis, tetapi juga segala sesuatu yang baik ada di dalam Dia. Kesucian Allah sesuai dengan keadaan-Nya yang sempurna. Sikap Allah selalu sesuai dengan kehendak-Nya. Kita harus ingat bahwa kesucian hati (batin) mendahului kesucian kehendak. Suci ialah sifat Allah yang terutama. Hal ini nyata dari:

  1. Dalam Alkitab, kesucian dituntut dari hati manusia, dan kesucian menyebabkan banyak kesukaan di dalam sorga (Bacalah /TB #1Petrus 1:16*; /TB #Ibrani 12:14; Lukas 5:8; Wahyu 4:8; Mazmur 97:2*).
  2. Kadang-kadang Allah menunjukkan rahmat-Nya dengan nyata, dan kadang-kadang tidak sesuai dengan kehendak-Nya, tetapi Allah tetap suci (/TB #2Petrus 2:4*).
  3. Kesucian Allah menguasai seluruh pekerjaan dan tindakan Allah. Misalnya, dalam tebusan yang dilakukan oleh Kristus: kasih mengadakan tebusan itu, akan tetapi kesucian yang dilanggar oleh manusia yang menuntut tebusan itu.

F. Kesucian Allah menuntut kesucian dalam diri manusia.

  1. "Kuduslah kamu, sebab Aku Kudus" (/TB #1Petrus 1:16* dan /TB #Matius 5:48*).
  2. Segenap Taurat disatukan di dalam "kasih". /TB #Matius 22:37*, "Kasihilah Tuhan, Allahmu," dan /TB #Roma 13:10*,"... kasih adalah kegenapan hukum Taurat." Kita patut mengasihi Allah sebab Allah itu suci, dan bukan untuk mencari keuntungan bagi diri kita sendiri. Kasih kepada Allah harus menimbulkan kesucian di dalam diri manusia.
  3. Dalam kehidupan Tuhan Yesus kita melihat suatu teladan bahwa Ia semata-mata hanya mengikuti kehendak Allah Bapa-Nya (/TB #Markus 10:18*; /TB #Yohanes 5:19-30*). Dari ayat-ayat itu Tuhan Yesus mengatakan bahwa hanya Allah Bapa yang benar, dan Ia datang hanya untuk melakukan kehendak Bapa. Demikian pula kita wajib menjadi seperti Tuhan kita, dan oleh karena Tuhan itu suci (kudus), maka kita juga harus suci (kudus).

G. Teladan Kesucian Allah

Teladan yang paling sempurna dari kesucian Allah ialah di dalam Yesus Kristus. Dalam /TB #Ibrani 1:9* dikatakan, "Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan." Banyak ayat di dalam Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa Tuhan Yesus benci terhadap kejahatan, dan mengasihi kebenaran. Di dalam diri Tuhan Yesus Kristus kedua hal itu tidak dapat dipisahkan. Itulah kesucian yang sempurna. Bila ada yang bertanya, "Apakah kesucian itu?" dapat kita jawab, "Kesucian ialah mengasihi kebenaran dan membenci kejahatan." Hal ini diharuskan bagi orang Kristen. Kalau kita tidak mengasihi kebenaran dan membenci kejahatan, maka kita bukan orang suci, dan kita belum melaksanakan kehendak Allah.

V. ALLAH MAHAKASIH

A. Kasih Allah

Allah adalah kasih (/TB #1Yohanes 4:7,8,16*). Allah bukan hanya mengasihi, tetapi Allah juga kasih. Kasih adalah sifat Allah. Segala kasih berasal dari Allah, yaitu kasih yang suci.

Pertanyaan : Apakah kasih itu? Jawab : /TB #Yohanes 3:16,17; Matius 5:44,45*. Kasih merindukan sentosa dan sejahtera bagi orang yang dikasihi, dan bersukacita apabila hal itu terjadi atas orang yang dikasihi. Kasih adalah suatu anugerah yang hidup dan berlaku atas diri kita, yaitu kasih kepada orang lain. Kita hanya dapat mengetahui kasih yang benar apabila kita telah mengetahui kasih Allah kepada kita. Kasih Allah kepada kita dinyatakan dalam pekerjaan Yesus Kristus di atas kayu salib. /TB #1Yohanes 4:8-16*, "Allah adalah kasih", "Allah adalah terang", "Allah adalah Roh". Roh dan terang adalah hakekat Allah, tetapi kasih adalah pancaran dari hakekat Allah itu. Allah juga mengasihi, dan Allah hidup dalam suasana kasih. Dari /TB #1Yohanes 3:16 dan Yohanes 3:16* nyata bahwa begitu besarnya kasih Allah kepada mahkluk-Nya sehingga Ia mau mengadakan korban yang sangat berharga untuk menyatakan kasih itu. Kasih Allah tidak pernah membiarkan dosa, tetapi menarik kita kepada kesucian. Kasih Allah mengadakan korban untuk menebus dosa.

B. Siapakah yang dikasihi Allah?

Allah mengasihi Anak-Nya (/TB #Matius 3:17; 17:5; Lukas 20:13*). Dari permulaan, bahkan sampai selamanya Allah terutama mengasihi Anak-Nya, /TB #Yohanes 17:24*. Kasih Allah kekal, oleh sebab itu harus ada satu pribadi yang kekal untuk menyambut kasih itu. Oleh sebab itulah juga harus ada lebih dari satu pribadi dalam Allah Yang Esa itu, yaitu tiga pribadi yang dapat saling mengasihi. Kasih yang kekal dari Allah dinyatakan dari kekal sampai kekal kepada Anak yang kekal, yaitu Yesus Kristus.

Allah mengasihi mereka yang dipersatukan dalam Anak itu oleh iman dan kasih. Dalam bagian berikut ini kita akan membahas tentang Allah mengasihi umat manusia, tetapi terutama sekali Ia mengasihi mereka yang ada di dalam Kristus. Kasih Allah kepada orang yang ada di dalam Kristus sama dengan kasih-Nya kepada Kristus sendiri (/TB #Yohanes 17:23*). Allah telah mengasihi kita sebelum kita mengasihi Kristus, yaitu sebelum kita ada di dalam Kristus. Bacalah /TB #1Yohanes 4:19*. Yesus Kristus ada di dalam pusat kasih Allah, lalu menarik kita kepada tempat itu, dan menetapkan kita di situ agar kita juga mengalami kasih Allah Bapa sama seperti Ia telah mengalaminya.

Allah mengasihi segenap isi dunia ini dan setiap orang di dalam dunia ini (/TB #Yohanes 3:16; 1Timotius 2:4; 2Petrus 3:9*).

Allah mengasihi orang berdosa, orang kafir, bahkan Allah juga mengasihi orang-orang yang mati di dalam dosa (/TB #Roma 5:6-8; Efesus 2:4,5*; /TB #Yehezkiel 33:11*). Akan tetapi kasih Allah kepada orang berdosa tidak sama dengan kasih Allah kepada orang yang di dalam Kristus, yaitu mereka yang percaya kepada Kristus (/TB #Yohanes 14:21,23; Yohanes 17:23*; /TB #Roma 8:30-39*). Allah rindu agar orang berdosa diselamatkan, dan ini merupakan bukti bahwa Allah mengasihi mereka. Bacalah /TB #Lukas 15:7-10*. Semua ini dilukiskan dengan seorang bapa yang mengasihi anak-anaknya. Bapa itu sangat mengasihi anaknya yang baik, tetapi bapa itu juga mengasihi anaknya yang pemboros dan jahat.

C. Bagaimana kasih Allah dinyatakan?

Kasih Allah dinyatakan dalam hal Allah melayani serta mencukupi keperluan orang yang dikasihi-Nya, juga dalam hal Ia membawa sukacita kepada mereka dan menjauhkan mereka dari kejahatan (/TB #Yesaya 48:14,20,21*; /TB #Ulangan 32:9-12; 33:3-12*).

Kasih Allah dinyatakan dalam hal Allah mengajar dan mendisiplin orang yang dikasihi-Nya, untuk mendatangkan manfaat bagi mereka sendiri, agar dari ajaran dan disiplin itu timbul buah-buah kebenaran (/TB #Ibrani 12:6-11*).

Kasih telah dinyatakan dalam hal Allah ikut menderita bila orang-orang yang dikasihi-Nya sedang menderita, meskipun penderitaan itu datang dengan kehendak Allah (/TB #Yesaya 63:9*).

Kasih Allah dinyatakan dalam hal Allah tidak pernah melupakan orang yang dikasihi-Nya. Kadang-kadang kita merasa seakan-akan Tuhan lupa, tetapi sebenarnya tidak (/TB #Yesaya 49:15,16*).

Kasih Allah dinyatakan dalam hal Allah menyediakan korban yang benar dan ajaib bagi orang yang dikasihi-Nya, yaitu korban anak tunggal-Nya, untuk menjadi tebusan bagi dosa-dosa kita. Kasih-Nya diukur dengan pengorbanan-Nya. Kasih Allah diukur dengan korban Kristus (/TB #1Yohanes 4:9,10; Yohanes 3:16*). Bandingkan dengan /TB #Kejadian 22:12*. Abraham tidak menahan anaknya bagi Tuhan. Lihatlah /TB #Roma 8:23 dan Yesaya 53:6*. Kesucian Allah menuntut adanya tebusan, akan tetapi kasih Allah mengadakan tebusan itu. Allah mengasihi sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal kepada kita dan karena kita. Dalam Kristus Allah memberikan diri-Nya sendiri karena kita. Dalam Roh Kudus Allah memberikan diri-Nya sendiri kepada kita. Hanya di dalam tiga pribadi yang Esa terdapat kasih yang sempurna. Dalam tiga pribadi itu kasih yang sempurna diberikan satu kepada yang lain, dan diterima dengan sempurna. Kasih bersukacita dalam penderitaan (siksaan) karena kasih itu membawa kebaikan kepada orang yang dikasihi-Nya. Lihatlah /TB #Ibrani 1:9; 12:2*.

Kita mengalami kehidupan Kristen yang mulia bila kita mengalami penderitaan karena orang lain (/TB #Galatia 4:19*). Kita merasakan sukacita Kristus kalau kita merasakan persekutuan dalam kesengsaraan-Nya.

Kasih Allah dinyatakan dalam hal Allah mengampuni dosa orang-orang yang bertobat (/TB #Yesaya 38:17; 55:17*).

Kasih Allah dinyatakan dalam hal: (/TB #Efesus 2:4-8*).

  1. Allah memberikan hidup kekal kepada orang yang telah mati oleh kesalahan-kesalahannya.
  2. Allah membangkitkan orang itu bersama dengan Kristus.
  3. Allah memberikan tempat kepada orang itu bersama dengan Dia di sorga.
  4. Pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus.

Sekarang Allah sedang bekerja untuk kita dan baru mulai menyatakan kasih-Nya kepada kita. Nanti, di dalam sorga, barulah sempurna penyataan kasih-Nya kepada kita dan lengkaplah segenap pekerjaan-Nya untuk kita, /TB #1Yohanes 3:2*.

Kasih Allah dinyatakan dalam hal Tuhan menyebut kita anak-anak Allah (/TB #1Yohanes 3:1*).

Kasih Allah dinyatakan dalam hal Allah bersukacita bila ada seseorang bertobat dan diselamatkan (/TB #Zefanya 3:17; Lukas 15:7*). Lihat juga /TB #Lukas 15:23,24*.

D. Keterangan lain tentang kasih Allah.

Dalam /TB #Efesus 2:1-3* digambarkan tentang keadaan kita sebagai orang berdosa. Di samping itu dikatakan juga bahwa tidak ada pengharapan bagi kita yang berdosa. Kemudian dalam ayat /TB #Efesus 2:4* kita menemukan kata "tetapi", yang memberikan gambaran yang lain. Bila manusia sudah tidak ada pengharapan, pada Allah ada pengharapan. Pada saat manusia tidak dapat menolong, Allah datang dan dengan rahmat-Nya yang terpancar dari kasih-Nya, Ia menebus manusia yang telah terjerumus ke dalam dosa itu. Tuhan memberikan pengampunan dosa dan memberi tempat kepada orang itu di dalam sorga di sebelah Yesus Kristus. Semua itu terjadi oleh karena kasih Allah yang besar dan mulia.

Di atas kayu salib kita melihat puncak kejahatan manusia dan puncak kasih Allah. Sesungguhnya di atas kayu salib kita dapat melihat segala sifat Allah dalam kepenuhannya. Begitu besar kasih Allah kepada kita, orang berdosa, sehingga diberikan-Nya Anak kekasih-Nya menjadi korban bagi dosa kita. Betapa ajaibnya kasih-Nya kepada kita. Ajaib, sebab Allah sengaja memilih untuk mengasihi kita. Meskipun Allah benci terhadap dosa, dan Ia tidak dapat mengasihi dosa, tetapi Ia sungguh-sungguh mengasihi kita yang berdosa. Kasih Allah kepada kita mengandung maksud yang mulia, yaitu membawa kita kepada kesucian, supaya kita menjadi suci sama seperti Tuhan itu suci. Itulah tujuan korban untuk dosa yang diadakan oleh Yesus Kristus.

Kasih yang murni telah mulai dalam diri Allah sendiri. Kasih itu merupakan ikatan antara Allah Bapa dan Allah Anak. Di dalam Allah, yaitu di dalam Tri Tunggal, terdapat kasih yang sempurna. Lalu kasih itu dinyatakan kepada manusia dalam hal Allah memberikan diri-Nya kepada manusia di kayu salib. Dengan demikian kasih menjadi ikatan persekutuan kita dengan Allah. Kasih tidak lain adalah kerinduan Allah untuk memberikan diri-Nya sendiri kepada kita. Ia rindu memiliki kita, oleh sebab itu Ia menyerahkan diri-Nya bagi kita. Maka, kasih yang sebenarnya kepada Allah menuntut agar kita menyerahkan seluruh diri kita kepada Allah. Kita perlu ingat bahwa manusia tanpa Allah adalah bagaikan anak piatu; dan bila Allah tidak menjumpai manusia yang menyerahkan diri kepada-Nya, Ia sangat berdukacita.

Allah itu suci, dan Ia harus suci, akan tetapi Allah memilih untuk mengasihi manusia. Allah itu kasih, dan Ia harus mengasihi. Kalau Ia mau, boleh saja Ia hanya mengasihi para malaikat yang tidak berdosa dan membiarkan manusia mati di dalam dosanya. Tetapi Allah tidak berbuat demikian, bahkan Ia memilih untuk mengasihi manusia yang berdosa dan mengadakan korban pendamaian untuk orang yang berdosa. Kasih Allah tidak lain adalah kerinduan untuk memberikan kesucian kepada kita. Kerinduan itu akan dipuaskan apabila kita telah memperoleh kesucian dari Tuhan. Oleh sebab itu tertulis, "akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa" (/TB #Roma 5:8*), dan "Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita" (/TB #1Yohanes 4:10*).

VI. KEBENARAN DAN KEADILAN ALLAH

Allah itu suci, budi pekerti-Nya suci. Kebenaran dan keadilan Allah dapat disebut sebagai hasil kesucian Allah. Kebenaran dan keadilan Allah adalah kesucian Allah yang dinyatakan di antara manusia. Kita juga boleh mengatakan bahwa kebenaran Allah menjadi alasan hukum-hukum Allah dan keadilan Allah menjadi peraturan dalam melaksanakan hukum-hukum itu. Kesucian Allah terlihat dalam budi pekerti Allah, tetapi kebenaran dan keadilan Allah terlihat dalam hubungannya dengan manusia. Kebenaran Allah mengadakan hukum-hukum dan keadilan-Nya melaksanakan hukum-hukum itu, yaitu dengan menghukum yang bersalah dan membenarkan atau membalas yang benar. Oleh sebab kebenaran dan keadilan-Nya, maka Allah selalu membuat yang benar dan adil. Keadilan Allah tidak berubah. Keadilan Allah tidak membalas dendam terhadap manusia, tetapi keadilan Allah membela kesucian Allah. Sikap Allah kepada makhluk-Nya adalah sesuai dengan sifat-Nya yang suci. (Lihat /TB #Ezra 9:15; Mazmur 116:5; 145:17; Yeremia 12:1; Yohanes 17:25*; /TB #Kejadian 18:25; Ulangan 32:4*).

Bagaimana Kebenaran dan Keadilan Allah Dinyatakan.

Kebenaran Allah dinyatakan dalam hal Allah menghukum orang-orang berdosa dengan hukuman yang patut untuk mereka (/TB #Mazmur 11:4-7; Keluaran 9:23-27*; /TB #Daniel 9:12-14; Wahyu 16:5,6). Dalam Mazmur 11:4-7* Daud mengatakan tentang Raja Saul yang berkerajaan di bumi dan berbuat kejahatan, akan tetapi Allah berkerajaan di dalam sorga dan berbuat kebaikan. Allah melihat kejahatan dan kebenaran kita. Allah membenci dosa dan dosa harus dihukum, yaitu dengan menghukum orang yang berdosa apabila ia tidak bertobat. Dari /TB #Keluaran 9:23-27* kita mengetahui tentang hukuman terhadap Firaun dan tanah Mesir, sehingga Firaun mengaku dirinya berdosa dan Allah itu adil dan benar. Ayat-ayat dari Wahyu dan Daniel juga mengemukakan hal yang sama. Orang berdosa harus bersiap-siap untuk menghadapi "Hakim yang Adil" itu. Pada hari itu tidak ada orang yang akan dapat berkata, "Hukuman kepadaku ini tidak adil." Keadilan Allah memaksa Ia menghukum orang berdosa dan memaksa Ia membenarkan orang yang baik.

Kebenaran Allah dinyatakan dalam hal Allah menyediakan korban perdamaian dan memperdamaikan orang yang beriman kepada Yesus Kristus (/TB #Roma 3:25*). Kebenaran Allah dinyatakan dalam hal Allah mengampuni dosa orang-orang yang bertobat dan yang mengakui dosa mereka (/TB #1Yohanes 1:9*).

Kebenaran Allah dinyatakan dalam hal Allah memelihara milik-Nya dan melepaskan diri dari musuh-musuhnya (/TB #Mazmur 129:1-4; 98:1-3*; /TB #2Tesalonika 1:6,7*). Seringkali kebenaran dan keadilan Allah dihubungkan dengan hukuman atas orang berdosa, akan tetapi dalam Alkitab lebih dihubungkan dengan pemeliharaan orang-orang saleh. Karena sifat Allah yang demikian itu, patutlah kita bersukacita. Bacalah /TB #Mazmur 96:11-13; Yeremia 9:24; Mazmur 116:5,6; 145:5,15-19; Wahyu 15:3*. Juga dalam /TB #Wahyu 19:1,2; 16:4-6*, kita melihat bahwa Allah menuntut balas dan membela orang-orang saleh dengan menghukum orang-orang berdosa.

Kebenaran Allah dinyatakan dalam hal Allah menggenapi semua janji-Nya kepada anak-anak-Nya (/TB #Nehemia 9:7,8; Yosua 23:14*).

Kebenaran Allah dinyatakan dalam hal Allah memberi upah (pahala) kepada orang benar sesuai dengan perbuatannya dan kesetiaannya (/TB #2Timotius 4:8*; /TB #Ibrani 6:10; Roma 2:5; 4:4; 3:5; 1Raja 8:32; Mazmur 7:10-12*; /TB #2Yohanes 1:8; Matius 25:34; Lukas 17:7-10; Roma 6:23; Roma 2:6*). "Hakim yang Benar" itu tidak akan membiarkan para saleh-Nya yang setia tanpa mendapat pahala. Di dunia ini kita sering merasakan pembalasan yang tidak seimbang, akan tetapi di hadapan Hakim itu kita akan mendapatkan pembalasan yang seimbang. Kalau kita menyelidiki ayat-ayat yang ada hubungannya dengan hal ini, kita akan mengetahui bahwa persoalan ini dapat dilihat dari dua segi pandangan. Dari segi pandangan yang satu, memang benar bahwa Allah tidak memberikan pahala-Nya oleh karena kebenaran dan keadilan-Nya, melainkan oleh karena kesetiaan dan rahmat-Nya. Kita wajib berbakti menurut perintah dan kehendak Allah. Kita tidak dapat menuntut suatu pembalasan dari Allah, akan tetapi Kristus boleh menuntutnya bagi kita. Dalam /TB #Matius 25:34*, "... terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu. "Kita menerimanya bukan karena kebaikan atau perbuatan-perbuatan kita. Bacalah /TB #Lukas 17:7-10 dan Roma 6:23*. Yang patut kita peroleh ialah upah dosa, yaitu maut. Akan tetapi, oleh anugerah Allah kita mendapat hidup yang kekal. Kebajikan manusia tidak dapat memaksa Allah untuk memberikan pahala bagi kebajikan itu, akan tetapi Allah akan memberi pahala sesuai dengan kebajikan yang diperbuat oleh manusia. Dengan alasan ini seseorang dapat mengambil kesimpulan bahwa pahala diberikan oleh Allah oleh sebab rahmat dan kesetiaan Allah. Pahala untuk Yesus Kristus, yang telah menjadi penebus dan memberikan kesucian di dalam kita, boleh dituntut dan dapat dianggap sebagai utang Allah kepada Kristus, tetapi tidak dapat dianggap sebagai utang Allah kepada kita. Meskipun demikian, menurut segi pandangan yang lain, benar juga bahwa Allah memberikan pahala berdasarkan kebenaran dan keadilan Allah. Hal ini dapat kita ketahui dari /TB #2Timotius 4:18; Ibrani 6:10; dan 2Yohanes 1:8*, di mana dikatakan bahwa pahala diberikan oleh karena kebenaran dan keadilan Allah. Di samping itu di dalam /TB #2Yohanes 1:8* ada nasihat yang sangat berfaedah bagi kita.

VII. RAHMAT DAN KEMURAHAN ALLAH

Secara umum, rahmat dan kemurahan Allah berarti kemurahan dan pengasihan dan kebaikan Allah yang dinyatakan bagi manusia, baik bagi manusia yang mentaati perintah Allah ataupun yang tidak. Air embun jatuh di atas duri dan di atas bunga mawar. Rahmat Allah membawa kebaikan dan keselamatan kepada orang-orang yang mula-mula melawan kehendak-Nya, sungguhpun untuk itu Allah mengadakan suatu korban yang luar biasa dan sukar.

A. Pernyataan Alkitab tentang Rahmat Allah

Rahmat dan kemurahan Allah berlimpah-limpah (/TB #Mazmur 62:12; 86:15*; /TB #Mazmur 103:8; 145:8; Ulangan 4:31; Lukas 15:11-32*). Rahmat Allah lebih ditujukan kepada orang yang berdosa dan kemurahan Allah kepada anak-anak-Nya yang setia. Rahmat Allah menginginkan kebaikan bagi manusia yang berdosa sehingga menyediakan penebusan. Lihatlah /TB #Roma 5:8*; /TB #Efesus 2:4*. Kemurahan Allah mencari kebaikan bagi orang-orang saleh, yaitu anak-anak Allah yang setia. Oleh sebab kemurahan-Nya Allah mencurahkan berkat-berkat ke atas orang saleh. Bacalah /TB #Roma 8:32*. Lukisan yang paling jelas mengenai rahmat dan kemurahan Allah ialah dalam perumpamaan Anak yang Hilang dalam /TB #Lukas 15:11-32*. Dalam perumpamaan itu diceritakan bahwa si bapa menunggu anaknya dengan sabar, dan bapa itu mau menyambut anaknya dengan baik dan dengan sukacita pada waktu anaknya kembali. Di samping itu si bapa sangat merindukan agar anaknya kembali, dan ia mengasihi anak itu. Demikian pulalah rahmat dan kemurahan Allah kepada manusia.

B. Kepada siapakah rahmat dan kemurahan Allah dinyatakan?

Rahmat dan kemurahan Allah dinyatakan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya (/TB #Roma 9:15-18*). Allah memberikan rahmat-Nya sesuai dengan kehendak-Nya, dan kita perlu ingat bahwa kehendak Allah itu suci dan sempurna. Meskipun Allah memberikan rahmat kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan seorangpun tidak dapat memerintah Dia untuk hal ini, akan tetapi kehendak-Nya ialah agar Ia dapat memberikan rahmat-Nya kepada semua manusia sebab rahmat-Nya cukup untuk segenap umat manusia. Bacalah /TB #2Petrus 3:9*. Tuhan mau memberikan rahmat-Nya kepada semua orang, akan tetapi mereka harus bertobat untuk menerima rahmat itu.

Rahmat Allah dinyatakan kepada orang yang takut akan Dia dan yang mengasihi Dia, dan kepada hamba-hamba-Nya yang mentaati Firman Allah dengan segenap hati (/TB #Ulangan 7:9; Keluaran 20:6; Mazmur 103:11-1000* /TB #2Tawarikh 6:14). Rahmat Allah dinyatakan kepada orang yang mengakui dan meninggalkan dosanya (/TB #Amsal 28:13*).

Rahmat Allah dinyatakan kepada orang yang percaya dan berharap dan yang berseru kepada Tuhan (/TB #Mazmur 32:10; 86:5*). Bacalah juga /TB #Roma 10:12-13*.

C. Bagaimana rahmat Allah dinyatakan

Rahmat Allah dinyatakan dalam hal Ia mengampuni dosa, apabila dosa itu diakui dan ditinggalkan, dan orang yang berdosa itu bertobat (/TB #Keluaran 34:7; Yesaya 55:7; Yeremia 3:12; Yunus 4:2; Mikha 7:18*; /TB #Mazmur 51:3; Bilangan 14:18-20*). Alkitab mengatakan bahwa tidak benar pendapat yang mengatakan seseorang baru mendapat rahmat Allah setelah ia jatuh ke dalam dosa. /TB #2Tawarikh 6:14* membuktikan bahwa Allah mau memberikan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang taat kepada-Nya dengan segenap hati mereka.

Rahmat Allah dinyatakan dalam hal Allah sabar terhadap orang yang berdosa, walaupun mereka mengeraskan hati dan tetap dalam dosa (/TB #Nehemia 9:16-18,26,27,30,31). Bacalah juga 2Petrus 3:9*. Oleh karena rahmat-Nya, maka Allah sabar terhadap orang berdosa, meskipun dosa merupakan kebencian bagi Dia. Kalau keadilan Allah dinyatakan kepada mereka, tentu sudah lama mereka dibinasakan. Allah sabar sekali kepada orang berdosa walaupun dosa itu merupakan kebencian bagi-Nya. Hanya oleh sebab rahmat Allah kita tidak dibinasakan. Akan tetapi kita harus berhati-hati agar tidak merendahkan rahmat Allah, karena Allah kita laksana "api yang menghanguskan". Allah tidak melindungi dosa, tetapi Ia mau mengampuni dosa. Rahmat Allah merupakan benteng bagi orang yang bertobat, tetapi bukan tempat perlindungan bagi orang yang sombong dan yang dengan seenaknya berbuat dosa. Oleh sebab itulah manusia harus bertobat dari dosanya sebab rahmat dan kemurahan Tuhan itu diberikan dengan berlimpah. Rahmat Allah dinyatakan dalam hal berbagai macam pertolongan yang diberikan kepada orang yang percaya serta berharap kepada-Nya (/TB #Mazmur 21:8; 59:17; 6:2-5; Keluaran 15:13*).

Rahmat Allah dinyatakan dalam hal Allah menyembuhkan orang sakit yang beriman akan Dia dan mentaati Firman-Nya yang diberikan berhubungan dengan keadaannya (/TB #Matius 8:16,17; Markus 16:15,17,18; Kisah 3:6-8*; /TB #Yohanes 5:13-16; Filipi 2:27; Yesaya 53:4*).

Allah menepati janji-Nya oleh karena kesetiaan-Nya; Allah membuat janji oleh karena kebaikan-Nya. Ayat-ayat lain mengenai rahmat Allah adalah:

  • /TB #Titus 3:4* - Kasih Allah kepada manusia.
  • /TB #Roma 2:4* - Kebaikan Allah.
  • /TB #Matius 5:44,45* - Kasihilah musuhmu....karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga.
  • /TB #Yohanes 3:16; 2Petrus 1:3* - Kita diberi segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh.
  • /TB #Roma 8:32; Yohanes 4:10* - Keadilan Allah menuntut kesucian dari manusia. Kasih dan Rahmat Allah memberikan kesucian itu.

VIII. KESETIAAN ALLAH

A. Firman Allah tentang Kesetiaan Allah (Allah itu Setia).

Arti kata setia: kata setia dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Ibrani berasal dari sebuah kata yang berarti "sokong" atau "tanggung". Orang yang setia berarti orang yang dapat "menyokong" kita, yang menanggung kita, yang kepadanya kita dapat bersandar tanpa merasa kuatir (/TB #Ulangan 7:9; 32:4*; /TB #Yesaya 49:7; 1Korintus 1:9; 10:13; 1Tesalonika 5:24; 2Tesalonika 3:3*; /TB #1Yohanes 1:9*).

Lihatlah bagaimana kata itu dipakai dalam ayat-ayat yang berikut: /TB #Matius 24:45,46; 25:21,23; 1Timotius 1:15; Wahyu 21:5; Amsal 14:5*. Dalam ayat-ayat tersebut, bila dikatakan Allah itu setia, itu berarti kita dapat bersandar kepada-Nya tanpa kuatir, karena Dialah yang menyokong kita. Kesetiaan Allah menjadi dasar keyakinan kita bahwa Allah, karena kasih-Nya, akan menggenapi segala sesuatu yang telah dijanjikan-Nya kepada kita, yang percaya akan Dia dan yang mentaati Injil-Nya. Janji-janji Tuhan itu tidak dialaskan pada perbuatan-perbuatan kita, tetapi dialaskan pada perbuatan Yesus Kristus. Jadi kesalahan-kesalahan kita tidak dapat membatalkan janji itu, kalau kita mau bertobat. Dalam /TB #1Yohanes 1:9* Tuhan itu setia dan adil, setia terhadap janji-Nya, dan adil terhadap Kristus. Kesetiaan Allah menentukan bahwa Ia akan mencukupkan segala kekurangan kita. Lihat /TB #Matius 6:33; 1Korintus 2:9; Mazmur 84:12*.

B. Kebesaran Kesetiaan Allah

Kesetiaan Allah besar, sampai ke awan (/TB #Mazmur 36:6; Ratapan 3:23*). Segala sesuatu dikerjakan Tuhan dengan kesetiaan-Nya (/TB #Mazmur 33:4*).

C. Bagaimana Kesetiaan Allah Dinyatakan

Kesetiaan Allah dinyatakan dalam hal Allah menggenapi semua janji-Nya, yaitu melaksanakan segala perintah-Nya, bagaimanapun juga sikap manusia (/TB #Ibrani 10:23,36,37; Ulangan 7:9; Yosua 23:14; 1Raja 8:23,24,56*; /TB #Mazmur 89:34,35; 119:89,90*). Kesetiaan Allah dinyatakan dalam hal Allah membela serta melepaskan hamba-hamba-Nya daripada kesusahan dan perlawanan (/TB #1Petrus 4:19; Mazmur 89:21-27*).

Kesetiaan Allah dinyatakan dalam hal Ia tidak meninggalkan umat-Nya, melainkan Ia menyelamatkan mereka, walaupun mereka tidak setia kepada Allah (/TB #Ratapan 3:22; 1Samuel 12:20-22; Yeremia 51:5; 2Timotius 2:13*). Kesetiaan Allah dinyatakan dalam hal Allah tidak membiarkan anak-anak-Nya dicobai, melebihi kekuatan mereka, tetapi pada waktu mereka dicobai, Ia akan memberikan jalan keluar sehingga mereka dapat menanggungnya (/TB #1Korintus 10:13*).

Kesetiaan Allah dinyatakan dalam hal Allah menetapkan serta meneguhkan orang-orang yang dipanggil-Nya, dan Ia melepaskan mereka dari si jahat, serta menguduskan dan memelihara mereka dengan sempurna, yaitu roh, tubuh dan jiwa mereka, sehingga mereka tidak bercacat pada waktu kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Keteguhan kepercayaan anak-anak Allah mengenai masa yang akan datang tidak bergantung pada kesetiaan mereka sendiri, tetapi berdasarkan pada kesetiaan Tuhan yang akan memelihara mereka, tetapi di dalam hati mereka harus ada kerinduan untuk dipelihara oleh Yesus Kristus (/TB #2Tesalonika 3:3; 1Korintus 1:8,9; 1Tesalonika 5:23,24*). Lihat juga /TB #Yohanes 10:28,29; Ibrani 6:4-12*.

Kesetiaan Allah dinyatakan dalam hal Allah mengajar anak-anak-Nya yang sesat (/TB #Mazmur 119:75; Ibrani 12:6*).

Kesetiaan Allah dinyatakan dalam hal Allah mengampuni anak-anak-Nya bila mereka mengakui dosa-dosa mereka (/TB #1Yohanes 1:9*). Keteguhan kepercayaan bahwa Allah akan mengampuni dosa kita bila kita mengakuinya, berdasarkan pada dua hal: pertama; kebenaran Allah, dan kedua; kesetiaan Allah. Kalau kita kuatir bahwa dosa kita tidak diampuni sesudah kita mengakuinya, maka berarti kita menyangkal kebenaran dan kesetiaan Allah dan menganggap Dia pendusta.

Kesetiaan Allah dinyatakan dalam hal Allah mendengar dan mengabulkan doa anak-anak-Nya (/TB #Mazmur 143:1,2*).

{Bila ingin mempelajari dengan lebih mendetail tentang sifat-sifat Allah, bacalah buku Mengenal Yang Mahakudus, sifat-sifat Allah: artinya dalam kehidupan Kristen, oleh A.W. Tozer.}


BAB 4. ASAS PENGAJARAN TENTANG PEKERJAAN-PEKERJAAN ALLAH

I. TAKDIR ALLAH

A. Keterangan tentang takdir Allah

Takdir Allah adalah maksud Allah yang kekal yang terjadi dan digenapkan dalam zaman dan masa, /TB #Roma 8:28, Efesus 1:9-12*. Di dalam /TB #1Timotius 1:17* Yesus Kristus disebut Raja segala zaman (Raja Kekal). Melalui takdir Allah kita mengerti maksud dan tujuan Allah di dalam Ia menetapkan atau mengizinkan segala sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi dalam alam ini. Sebagaimana tukang yang mendirikan rumah itu memiliki gambarnya, begitulah Allah dan takdir-Nya.

B. Apa yang termasuk dalam takdir Allah

Dalam takdir Allah termasuk penciptaan alam ini beserta kelanjutannya, pemeliharaan alam ini, pemeliharaan terhadap makhluk-Nya, dan penebusan manusia. Mengenai penebusan manusia akan dibahas dalam pasal selanjutnya.

Tentu Tuhan Allah mempunyai maksud dan tujuan dalam penciptaan-Nya. Sebagian daripada maksud itu kita ketahui, akan tetapi seluruh maksud Allah belum dinyatakan kepada kita. Apakah tujuan Allah menjadikan alam ini? Tentu kita akan menjawab: Untuk mendatangkan kemuliaan bagi diri-Nya sendiri. Untuk menyatakan hikmat-Nya. Untuk menyatakan sifat-sifat-Nya, terutama kasih-Nya. Alam ini dijadikan untuk manusia, sebab Allah memikirkan manusia ketika Ia menjadikan alam ini. Manusia lebih berharga daripada segenap alam. Satu jiwa lebih indah daripada segenap dunia ini.

C. Alkitab membuktikan takdir Allah

Dari segi pandangan yang luas kita boleh berkata bahwa segala perkara, baik besar maupun kecil, masuk dalam takdir Allah, /TB #Yesaya 14:26,27; 46:10,11*; /TB #Daniel 4:35; Efesus 1:11*. Marilah kita menyelidiki hal-hal yang ditakdirkan Allah:

  1. Menetapkan dan meneguhkan alam ini, /TB #Mazmur 119:89-91*.
  2. Suasana kerajaan-kerajaan di bumi, /TB #Kisah 17:26*.
  3. Panjangnya umur manusia, /TB #Ayub 14:5*.
  4. Cara kita meninggal dunia, /TB #Yohanes 21:19*.
  5. Allah telah mentakdirkan manusia bebas dalam perbuatannya. Ini berarti manusia bebas berbuat baik atau jahat. Tuhan Allah tidak mentakdirkan manusia berbuat jahat, akan tetapi Tuhan mengizinkan manusia berbuat jahat. Kejahatan terjadi oleh sebab pilihan manusia yang bebas dalam kehendak dan perbuatannya, /TB #Yesaya 44:28; Efesus 2:10; Kejadian 50:20; 1Raja 12:15*; /TB #Lukas 22:22; Kisah 2:23; 4:27,28; Roma 9:17; 1Petrus 2:8*; /TB #Wahyu 17:17*.
  6. Keselamatan orang yang percaya, /TB #1Korintus 2:7; Efesus 1:3,10,11*.
  7. Hal Kerajaan Kristus didirikan, /TB #Mazmur 2:7,8; 1Korintus 15:23*.
  8. Pekerjaan Kristus dan milik-Nya diteguhkan, /TB #Filipi 2:12*; /TB #Wahyu 5:7*.

Takdir-takdir Allah tidak bertentangan dengan kebijaksanaan Allah, tidak bertentangan dengan sifat Allah yang tidak berubah, tidak bertentangan dengan kasih Allah, dan tidak bertentangan dengan kebebasan kehendak manusia. Suatu alam yang tidak dikuasai oleh takdir-takdir tentu akan rusak seperti kereta api yang berjalan cepat dengan tidak ada orang yang menjalankannya.

Kita harus ingat, bahwa takdir-takdir Allah tidak menghapuskan kebebasan kehendak dan perbuatan manusia. Sebetulnya mengenai takdir Allah dan hubungan takdir itu dengan kebebasan perbuatan manusia tidak dapat kita mengerti dengan sempurna. Kita juga patut ingat bahwa takdir Allah tidak meluputkan kita daripada tanggung jawab atas perbuatan-perbuatan kita. Takdir Allah dilaksanakan dengan maksud agar manusia taat kepada Allah dan bukan melawan-Nya. Janganlah kita berkata bahwa kita tidak berkuasa atas perbuatan kita. Kita berkuasa untuk memilih yang baik dan menolak yang jahat dan harus bertanggung jawab atas perbuatan kita. Tuhan Allah tidak dapat memaksa saya menjadi orang suci kalau saya tidak berkehendak begitu. Tuhan telah menghendaki saya menjadi seorang yang suci akan tetapi Ia menghormati kehendak saya sendiri. Kita juga tidak boleh beranggapan bahwa dosa berasal dari Allah karena takdir-Nya, sekali-kali tidak. Dosa tidak berasal dari Allah. Dosa berasal dari setan yang telah mendurhaka kepada Allah, dan malaikat-malaikat yang ikut Setan yang telah menjadi jin. Sebenarnya ada persoalan mengenai hal ini yang tidak dapat dijawab dengan jelas oleh manusia. Kita harus menunggu sehingga kita sampai di seberang sana, di sorga, barulah hal itu jelas bagi kita. Orang bertanya, apakah sebabnya Allah mengizinkan dosa? Tiap-tiap orang harus diuji, dan dosa menguji kita supaya nyata kesucian kita kelak. Dan tidak ada kesucian kalau manusia tidak bebas dalam kehendak dan perbuatannya. Sedang Yesus Kristus tidak dapat menjadi Mesias kalau Ia tidak mengalahkan pencobaan di padang belantara itu. Pencobaan Yesus Kristus ialah pencobaan yang sungguh-sungguh, dan secara kemanusiaan-Nya, Ia dapat juga jatuh dalam dosa. Namun Ia tidak jatuh. Kalau tidak demikian, di manakah pengharapan bagi kita yang memang dapat jatuh dalam dosa? Kalau Yesus Kristus tidak mengalahkan pencobaan, di manakah pengharapan bagi kita? Tetapi secara ketuhanan-Nya Yesus Kristus tidak dapat jatuh dalam dosa.

Juga kita tidak mengerti apakah sebabnya Setan yang memang suci telah jatuh dalam dosa. Yang kita ketahui ialah iri hati telah timbul dalam hatinya sehingga ia mendurhaka kepada Allah tetapi kita tidak tahu bagaimana terjadinya.

Memang perlu kebebasan kehendak bagi manusia supaya manusia dapat menyatakan kesuciannya dalam hal memilih yang baik. Jangan lupa, meskipun Allah mengizinkan dosa, Ia juga telah mengadakan tebusan dosa. Kedua hal ini seperti dua baris yang sejajar yang tidak dapat diceraikan satu dari yang lain.

Agama Kristen bukan agama fatalis. Dalam kamus umum Bahasa Indonesia, istilah "nasib" diterangkan seperti berikut: "apa yang terjadi atas seseorang yang sudah ditentukan (oleh Tuhan). "Keuntungan kita seringkali disebabkan kita rajin belajar, bekerja, berbuat baik, dll. Kemalangan kita seringkali disebabkan oleh kesalahan kita, kemalasan, kebodohan, dosa, dsb.

Nasib kita lebih bergantung pada kelakuan kita daripada takdir Allah. Karena itu fatalisme tidak benar dan tidak menurut Alkitab. Nasib kita harus dibedakan dari takdir Allah.

Jikalau seseorang menyeberang jalan raya dengan tidak menengok ke kiri ke kanan lebih dahulu lalu ia ditubruk mobil dan mati, janganlah beranggapan bahwa itu ditakdirkan Allah. Hal itu terjadi oleh sebab kebodohan orang yang tidak menengok ke kiri ke kanan lebih dahulu.

D. Nasihat sehubungan dengan takdir Allah

Ada banyak faedah berkenaan dengan takdir Allah, seperti berikut:

  1. Mengajarkan kerendahan hati kepada kita.
  2. Menimbulkan pengharapan dan kepercayaan yang teguh dalam hati kita sebab kita tahu bahwa menurut takdir Allah segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Allah dan yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah, /TB #Roma 8:28*.
  3. Menjadi peringatan kepada orang berdosa yang tidak mau bertobat sebab kelak pada akhirnya mereka akan dijatuhi hukuman.
  4. Memanggil orang berdosa datang kepada-Nya untuk diperdamaikan dengan Allah sebelum terlambat.

Meskipun pelajaran ini sering membawa kebingungan kepada orang yang baru percaya, tetapi bagi yang di dalam kesusahan mendatangkan penghiburan. Segala kesulitan akan lenyap di depan salib Yesus Kristus. Sebetulnya, menurut takdir Allah kita hanya seperti abu adanya, tetapi di dalam kasih-Nya kita adalah sesuatu yang terindah dan mulia. Kalvin menempatkan takdir Allah di atas kasih-Nya, tetapi sepatutnya kasih Allah harus ditempatkan di atas takdir-Nya. Segenap takdir Allah diperintahkan oleh kasih-Nya.

II. PENCIPTAAN ALAM SEMESTA

A. Keterangan tentang penciptaan alam semesta

Tuhan Allah, Allah Tritunggal, oleh kehendak-Nya sendiri, dan untuk kemuliaan-Nya sendiri, telah menciptakan alam semesta tanpa menggunakan sesuatu benda, baik yang kelihatan maupun benda yang tidak kelihatan. Kita dapat membuat sebuah meja dari beberapa potong kayu, tetapi itu berarti bukan menciptakan meja. Tuhan Allah telah menciptakan alam semesta tanpa memakai sesuatu benda.

B. Bukti penciptaan alam semesta

Bukti dari Alkitab mengenai penciptaan alam ini terdapat dalam /TB #Kejadian 1:1 dan Ibrani 11:3*. Perkataan "menciptakan" dipakai dalam ayat satu /TB #Kejadian 1:1* dari hal bumi, dan dalam ayat /TB #Kejadian 1:21* dari hal ikan, binatang melata dan unggas, dan dalam ayat /TB #Kejadian 1:26,27* dari hal manusia. Nyata sekali bahwa ada jurang besar yang tak dapat dilalui antara bumi dan binatang, dan antara binatang dan manusia. Binatang tidak dijadikan dari sesuatu bahan, juga tidak dari tumbuh-tumbuhan; demikian pula manusia tidak dijadikan dari binatang-binatang. Hal ini jelas sekali di dalam /TB #Ibrani 11:3*. Alam semesta dan segala isinya diciptakan hanya oleh Firman Allah yang Mahakuasa. Ia hanya berfirman saja, lalu jadilah semuanya itu. Lihat /TB #Keluaran 34:10; Bilangan 16:30; Yesaya 4:5; 41:20; 45:7,8; 57:19; 65:17*; /TB #Yeremia 31:22; Roma 4:17; 1Korintus 1:30; 2Korintus 4:6; Kolose 1:16,17*. Maka ketiga Pribadi yang Esa itu memang ada sebelum alam semesta ini diciptakan, /TB #Mazmur 90:2; Amsal 8:23; Yohanes 1:1; Kolose 1:17*; /TB #Ibrani 9:14*.

C. Siapa yang menciptakan alam semesta

Allah yang menjadikan, tetapi Ia bekerja juga melalui Anak-Nya dan Roh Kudus. Jadi tepatnya pekerjaan penciptaan dilakukan oleh ketiga Pribadi yang Esa itu.

  • Oleh Bapa - /TB #Kejadian 1:1; 1Korintus 8:6; Efesus 3:9*.
  • Oleh Anak - /TB #Yohanes 1:3; 1Korintus 8:6; Ibrani 1:2; 11:3; Kolose 1:16*.
  • Oleh Roh Kudus - /TB #Kejadian 1:2; Ayub 26:13; 33:4*.

Dalam pekerjaan ini Tritunggal itu ikut mengambil bagian, dan demikian pula di dalam tiap-tiap pekerjaan Allah.

D. Tujuan bagian dalam penciptaan

  1. Malaikat-malaikat - /TB #Kolose 1:16*.
  2. Semesta alam - /TB #Kejadian 1:6-8,14-19* - yaitu pada hari-hari pertama, kedua dan keempat.
  3. Tumbuh-tumbuhan - /TB #Kejadian 1:9-13* - pada hari ketiga.
  4. Binatang-binatang di laut - /TB #Kejadian 1:20-23* - pada hari kelima.
  5. Burung-burung - /TB #Kejadian 1:20-23* - pada hari kelima.
  6. Binatang-binatang di darat - /TB #Kejadian 1:24-25,31* - pada hari keenam.
  7. Manusia - /TB #Kejadian 1:26-31* - pada hari keenam.

Kita tidak tahu sudah berapa lama manusia ada di bumi ini, tetapi kebanyakan penafsir berpendapat bahwa manusia dijadikan kira-kira 4000 tahun sebelum Kristus.

Tentang perkataan "hari" dalam Kejadian pasal satu (/TB #Kejadian 1:1-31*) terdapat dua pendapat antara penafsir-penafsir: yaitu "hari" di situ berarti 24 jam seperti sekarang - dan yang kedua, "hari" berarti satu masa yang panjang. Dr. G. Campbell Morgan (yang disebut raja penafsir) mengikuti pendapat yang pertama, yaitu hari berarti 24 jam. Kebanyakan penafsir Kristen setuju dengan pendapat itu. /TB #Kejadian 1:1* menerangkan keadaan sebelumnya adalah campur baur, belum berbentuk. Ada beberapa ahli yang berpendapat bahwa pada waktu itu ada suatu gerakan yang hebat, suatu bencana alam. Banyak orang yang berpendapat bahwa waktu itulah Setan memberontak. Boleh jadi demikian. Berapa lamanya keadaan yang belum berbentuk itu kita tidak tahu. Di dalam ayat dua (/TB #Kejadian 1:2*) dikatakan Roh Allah melayang-layang diatas keadaan yang belum berbentuk itu. Lalu Tuhan mulai dengan pekerjaan menciptakan. Penciptaan yang berikutnya terus dilaksanakan dalam enam hari, yaitu enam hari dengan perhitungan sehari 24 jam lamanya. Untuk meneguhkan tafsiran ini baiklah kita mengutip dari Kitab /TB #Yesaya 45:18*, "Sebab beginilah firman Tuhan yang menciptakan langit, - Dialah Allah - yang membentuk bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya, - dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong, tetapi Ia membentuknya untuk didiami." Kata "kosong" dapat diterjemahkan "tidak berbentuk", sebab dalam bahasa Ibrani kata itu sama dengan yang terdapat dalam /TB #Kejadian 1:1*. Kata itu dalam bahasa Ibrani berarti suatu gerakan yang hebat, suatu bencana alam. Orang Kristen menerima kenyataan sejarah sebagaimana yang ditulis dalam ketiga pasal pertama dari Kitab Kejadian (/TB #Kejadian 1:1-3:24*), dan kita yakin itulah yang benar.

E. Maksud Allah dalam penciptaan

Dalam Alkitab dijelaskan empat maksud Allah dalam penciptaan alam ini:
  1. Ia menciptakan untuk diri-Nya sendiri, /TB #Amsal 16:4; Roma 11:36*; /TB #Kolose 1:16*.
  2. Ia menciptakan untuk kesukaan diri-Nya sendiri, /TB #Efesus 1:5,6,9*; /TB #Wahyu 4:11*.
  3. Ia menciptakan untuk kemuliaan diri-Nya sendiri, /TB #Yesaya 43:7; 60:21; 61:3; Lukas 2:14*.
  4. Ia menciptakan untuk menyatakan kuasa-Nya, budi-Nya, dan nama-Nya yang suci, /TB #Mazmur 19:2; Efesus 3:9,10*.

Dari semua kenyataan itu kita tahu bahwa keinginan besar Tuhan Allah dalam menciptakan alam ini adalah semata-mata untuk diri-Nya sendiri, dan untuk kemuliaan-Nya sendiri, dan untuk menyatakan dalam makhluk-Nya, dan oleh makhluk-Nya, kesempurnaan diri-Nya sendiri.

III. KELANGSUNGAN ALAM INI

Keterangan: - Kelangsungan alam ini diatur oleh kuasa Allah.

Bukti: - Kita dapat membacanya dari Alkitab, /TB #Nehemia 9:6*; /TB #Mazmur 36:6; 145:20; Kisah 17:28; Kolose 1:17; Ibrani 1:2,3*.

Bagaimana segala sesuatu ditetapkan

Tuhan Allah memang menaruh kuasa di dalam makhluk-Nya dan ciptaan-Nya supaya semuanya teratur dan dapat berjalan sebagaimana mestinya; akan tetapi Tuhan juga ikut campur dan mengatur segenap alam ini dan makhluk-Nya. Jelas bahwa pekerjaan ini juga diperbuat oleh Yesus Kristus, /TB #Ibrani 1:3*. Menurut ayat itu boleh dikatakan bahwa kuasa yang memang ada pada makhluk Allah tidak lain asalnya daripada kehendak Allah sendiri.

IV. PENGATURAN DAN PEMELIHARAAN ALLAH

Keterangan: - Pengaturan dan pemeliharaan Allah merupakan kuasa Allah yang berlaku atas makhluk-Nya dan ciptaan-Nya; dengan kuasa-Nya itu, semuanya diatur dan dipelihara sampai maksud Allah digenapkan dalam makhluk-Nya.

Bukti: - Alkitab membuktikan bahwa Allah mengatur dan memelihara segala ciptaan-Nya. Allah mengatur dan memelihara:

  1. Alam semesta, /TB #Mazmur 103:19; Daniel 4:35; Efesus 1:11*.
  2. Dunia ini, /TB #Ayub 37:5,10; Mazmur 104:14; 135:6,7*; /TB #Matius 5:45; 6:30*.
  3. Bintang-bintang dll. /TB #Mazmur 104:21,28; Matius 6:26; 10:29*.
  4. Bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan, dan membatasinya, /TB #Ayub 12:23; Mazmur 22:29; 66:7; Kisah 17:26*.
  5. Kelahiran manusia dan nasibnya, /TB #1Samuel 16:1; Mazmur 139:16*; /TB #Yesaya 45:5; Yeremia 1:5; Galatia 1:15,16*.
  6. Keuntungan dan kemalangan manusia, /TB #Mazmur 75:7,8; Lukas 1:52*.
  7. Perkara-perkara yang kecil sekalipun, /TB #Matius 10:30*.
  8. Orang benar, sehingga terlepas dari bahaya, /TB #Mazmur 4:8; 5:12; 63:9; Mazmur 91:3; Roma 8:28*.
  9. Umat-Nya dalam hal ini Ia mencukupi keperluan mereka, /TB #Kejadian 22:8,14; Ulangan 8:3; Filipi 4:19*.
  10. Dalam hal ini Ia mengabulkan doa makhluk-Nya, /TB #Mazmur 68:11*; /TB #Yesaya 64:4; Matius 6:8,32,33*.
  11. Dalam hal Ia menyatakan kesalahan orang jahat serta menghukum mereka, /TB #Mazmur 7:13,14; 11:6; 2Petrus 2:9; Wahyu 20:11-15*.

Pengaturan dan pemeliharaan Allah juga berlaku atas perbuatan-perbuatan manusia yang bebas kehendaknya, /TB #Keluaran 12:36; 1Samuel 24:18*; /TB #Mazmur 33:14,15; Amsal 16:1; 19:21; 20:24; 21:1; Yeremia 10:23*; /TB #Filipi 2:13; Efesus 2:10; Yakobus 4:13-16*. Pengaturan dan pemeliharaan Allah juga berlaku atas perbuatan-perbuatan jahat manusia, /TB #2Samuel 16:10; 24:1; Roma 11:32; 2Tesalonika 2:11,12*. Berhubungan dengan perbuatan-perbuatan jahat manusia, maka pengaturan dan pemeliharaan Allah ialah:

  1. Kadang-kadang Ia menahan seseorang daripada dosa, /TB #Kejadian 20:6; 31:24; Mazmur 19:14; Hosea 2:6*.
  2. Kadang-kadang Ia tidak menahan seseorang daripada dosa, /TB #2Tawarikh 32:31; Mazmur 17:13,14; 81:13,14; Yesaya 53:4,10*; /TB #Hosea 4:17; Kisah 14:16; Roma 1:21,28; 3:25*.
  3. Kadang-kadang Ia mengatasi serta mengubah kejahatan agar mendatangkan kebaikan, /TB #Kejadian 50:20; Mazmur 76:11*; /TB #Yesaya 10:5-7; Kisah 4:27,28*.
  4. Kadang-kadang Ia membatasi kejahatan, /TB #Ayub 1:12*; /TB #Mazmur 124:2,3; 1Korintus 10:13; 2Tesalonika 2:7; Wahyu 20:2,3*.

Ada pula pengaturan dan pemeliharaan Allah yang harus dipertanggungjawabkan oleh makhluk-Nya. Tanggung jawab itu hanya dapat dilaksanakan oleh orang-orang yang sungguh percaya, yaitu ketaatan, doa, iman, dan pengharapan, /TB #Yohanes 14:13; 15:7; Markus 11:24*; /TB #Filipi 4:6,7; Yakobus 5:14-16*.