Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Asia : Tantangan Pertama dan Terluas

Asia : Tantangan Pertama dan Terluas


Asia adalah benua yang paling menakjubkan di dunia. Meskipun Asia merupakan benua yang memiliki peradaban kuno yang agung, tetapi Bangsa Eropa di zaman Abad Pertengahan sangat tidak memperhatikan Asia selama berabad-abad. Akan tetapi, pada Zaman Eksplorasi, orang-orang Eropa mulai menjelajahi benua yang misterius dan luas ini. Dengan semakin dikenalnya benua Asia, Allah mengerahkan utusan-utusan-Nya untuk memasuki benua dengan membawa Injil Kristus. Tanggapan yang diperoleh para utusan itu tidak sama antara satu dan yang lainnya: beberapa bangsa yang paling terjangkau Injil dan beberapa bangsa yang paling tidak terjangkau Injil di muka bumi ini terdapat di Asia. Dengan berkembangnya perekonomian dan teknologi bangsa-bangsa di sekitar Pasifik (Jepang, Korea, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura), orang-orang Barat dipaksa untuk memperhatikan Asia. Sebagai orang Kristen, kita juga harus memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan rohani Asia. Sebelum itu, ada baiknya kita melihat gambaran umum benua ini.

KEUNIKAN ASIA

Benua Peradaban Kuno

Sangat sulit membuktikan peradaban kuno mana yang muncul terlebih dahulu di Asia. Akan tetapi, kita bisa yakin bahwa peradaban paling kuno di Benua Asia muncul lebih dari 5.000 tahun yang lalu. Peradaban Tiongkok adalah peradaban yang sangat kuno dan terus berkembang hingga hari ini. Bahkan, di Vietnam ditemukan bukti-bukti peradaban yang lebih kuno lagi. Di Pakistan ditemukan puing-puing arkeologis dari peradaban Sungai Indus kuno yang diperkirakan muncul pada zaman sebelum 1.500 sM. Yang lebih dekat dengan sejarah Perjanjian Lama adalah peradaban kuno Mesopotamia, kampung halaman Abram, dan reruntuhan Ebla di Suriah yang dengan sangat jelas menunjukkan penanggalan sebelum zaman Abram.

Ketidakterbukaan Tiongkok terhadap orang-orang asing berkaitan dengan kebanggaan mereka atas peradaban kuno yang mereka miliki, seperti yang dinyatakan oleh Kane:

"Masyarakat Tionghoa hanya mengenal satu bangsa yang beradab di dunia, yaitu Kerajaan Tengah (Tiongkok-red.). Semua bangsa lain dianggap tidak beradab dan disebut 'kaum barbar'. Peradaban Tiongkok mencapai kejayaannya selama Masa Kegelapan ketika terang di seluruh Eropa padam. Changan, ibu kota Dinasti Tang, mungkin adalah kota yang paling mutakhir di dunia pada masa itu. Dengan sejarah dan peradaban yang demikian, dapat dimaklumi jika Tiongkok mempunyai gagasan mengenai kehebatan dirinya sendiri."

Benua dengan Populasi Terpadat

Asia Besar meliputi sepertiga dari wilayah daratan dunia dan dihuni sekitar 62,5 persen dari jumlah seluruh penduduk dunia. Enam dari 8 negara berpenduduk terbanyak ada di Asia. Kota-kota terbesar dunia pun ada di Asia: Tokyo sebagai yang terbesar, disusul oleh Shanghai, Mumbai, Kolkata, dan kota-kota lain. Meskipun sebagian besar Asia masih berupa pedesaan, namun kota-kotanya menjamur dalam urbanisasi di dua pertiga negara-negara di dunia. Secara keseluruhan, jumlah penduduk Asia meningkat di angka yang mengejutkan. Sebuah faktor yang menarik dalam mosaik jumlah populasi di Asia adalah sejumlah besar perantau Tionghoa, yang tersebar ke negara-negara di Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Indonesia, dll..

Jumlah penduduk di Asia tidak tersebar merata karena luasnya wilayah pegunungan dan padang gurun. Pegunungan Himalaya merupakan rangkaian pegunungan terluas dan tertinggi di dunia. Membentang keluar dari segitiga Tibet. Rangkaian pegunungan ini menjulang sampai ke Asia Tenggara dan Afganistan. Wilayah di pegunungan ini memang dihuni oleh populasi yang kecil, namun pegunungan ini menjadi penghalang yang memisahkan wilayah-wilayah di Asia, dan menjelaskan perbedaan yang sangat mencolok antara satu budaya dengan budaya lainnya.

Rumah bagi Agama-Agama Besar Dunia

Semua agama besar dunia berasal dari Asia. Meskipun beberapa agama mengalami perubahan wilayah dominasi, namun semua agama itu masih menonjol di Asia. Hindu adalah agama yang dominan di India, tetapi juga mempengaruhi Asia Selatan. Dari Agama Hindu, muncullah Agama Buddha di India dan agama ini menjadi agama dominan di Asia Utara. Agama Kong Hu Cu dan Tao adalah agama asli dataran Tiongkok, begitu pula agama Sinto bagi Jepang. Islam merupakan pendatang terakhir dari seluruh agama-agama Asia. Agama ini berkembang di Semenanjung Arab sekitar tahun 610 M, lalu menyebar ke timur sampai ke Indonesia dan Filipina.

Setiap agama ini memiliki pengaruh yang kuat bagi para penganutnya karena tidak hanya mengandung filosofi yang kompleks, tetapi juga membudayakan praktik-praktik religius yang kuat. Inilah mengapa agama-agama tersebut menjadi karakter yang dominan dalam kehidupan sebagian besar orang Asia sehingga membuat Injil Kristus sulit masuk ke dalam budaya-budaya ini selama berabad-abad.

Benua yang Mengalami Perubahan Pesat dan Memiliki Perbedaan yang Mencolok

Rudyard Kipling pernah menulis, "Timur adalah Timur dan Barat adalah Barat, keduanya tidak akan pernah bertemu!" Namun faktanya, kini Asia menjadi kebarat-baratan dan mengalami perubahan yang cepat. Don Hoke memberi kesaksian atas pengalaman pribadinya:

"Setelah 21 tahun di Asia, saya merasa bahwa khususnya di pusat-pusat kota yang sedang berkembang, kita menyaksikan penyebaran budaya universal yang besar, abu-abu, materialistis, dan sekuler ke seluruh benua. Budaya baru itu merembes ke kota-kota di Asia sehingga pemandangan yang terdapat di setiap kota itu terlihat sama: iklan-iklan lampu neon yang terang (biasanya produk-produk Jepang); film-film dari setiap negara di dunia (banyak di antaranya pornografi); mobil-mobil taksi berpenampilan standar, pakaian, rekreasi, dan pusat perbelanjaan. Inilah Asia hari ini."

Revolusi ekonomi dan teknologi mendorong negara-negara di sekitar Pasifik untuk berubah sehingga mengakibatkan perbedaan yang mencolok di Asia, baik dalam bidang ekonomi maupun teknologi. Di ujung spektrum yang berseberangan adalah Bangladesh, negara yang pernah disebut "si lumpuh di antara negara-negara dunia" karena jumlah populasi penduduk yang terlalu besar, tingkat kemiskinan yang tinggi, kurangnya sumber daya, serta suramnya masa depan bangsa itu. Filipina sedang berjuang untuk keluar dari pengelolaan negara yang salah akibat eksploitasi yang dilakukan Marcos saat memerintah. Di India, seseorang dapat menemukan keadaan yang sangat kontras, jumlah orang kaya yang sedikit dengan orang miskin yang banyak. Hal ini terlihat sangat jelas terutama di kota-kota besar.

Secara politik, Asia sedang berada dalam perubahan yang sangat besar. Kini, banyak negara Asia yang telah merdeka dari dominasi kekuatan kolonial yang terjadi di awal abad. Namun, daratan Cina yang telah melewati 35 tahun di bawah pemerintahan Komunisme yang xenophobic (takut terhadap hal-hal asing) dan dogmatik, kini berada di bawah pemerintahan Komunis yang lebih terbuka dan berkiblat ke Barat selama lebih dari satu dekade. Hong Kong dan Makau (dengan ragu-ragu) menjadi bagian dari gambaran tersebut pada tahun 1997. Negara-negara Indo-Cina seperti Vietnam, Laos, dan Kamboja berada dalam dekade ketiga di bawah penguasa Komunis fanatik, dan tengah berperang untuk menentukan jenis paham Komunis apa yang akan menguasai negaranya. Para pemberontak Afganistan berjuang untuk menyingkirkan penindasan dan genosida yang dilakukan oleh penjajah Komunis Rusia, dan dalam proses perjuangan itu jutaan orang menjadi pengungsi. Penggulingan pemerintahan Shah di Iran dan bangkitnya Umat Muslim Fundamentalisme (yang menekankan legalisme) berakhir dalam sebuah perang dengan Irak yang mengerikan, dengan jutaan korban selama prosesnya.

Latar bagi Runtuhnya Kolonialisme

Di seluruh Asia, hanya Jepang, Thailand, Afganistan, dan Iran yang sama sekali tidak pernah menjadi koloni dari beberapa negara kekaisaran Barat. Bahkan, Jepang dipaksa untuk mengadakan perdagangan asing oleh Komodor Ferry dan berada di bawah kekuasaan militer Amerika setelah Perang Dunia II. Beberapa pemerintahan kolonial relatif menerangkan dan meninggalkan warisan infrastruktur pemerintahan (undang-undang, pengadilan, jalan kereta api, sistem portal, dll.) yang terus ada sampai sekarang. Penduduk di negara-negara subkontinen India kadang-kadang berkata, "Keadaan kita lebih baik di bawah kekuasaan Inggris." Namun, ketika kekuatan kolonial tidak lagi mencengkeram, kepergian mereka tidaklah diratapi oleh subjek jajahan mereka. Entah dibenci atau dihargai, dampak kolonial terhadap Asia tidak dapat diubah. Kekuasaan Kerajaan Inggris menjadikan Bahasa Inggris sebagai bahasa dunia saat ini, dengan Bahasa Perancis berada tak jauh di belakang. Pengaruh pendidikan Barat terhadap kaum terpelajar Asia juga telah membawa perubahan-perubahan yang tidak dapat diubah. Sebagaimana yang dinyatakan Hoke, materialisme Barat telah meruntuhkan kesetiaan religius dari banyak orang Asia. Misalnya, mahasiswa agama lain di banyak bagian dunia agama lain, sangat sedikit yang datang ke rumah ibadah untuk ibadah pada hari Jumat. Hal ini memberikan peluang yang besar bagi masuknya Injil.

Benua Tempat "Garis Depan yang Tersembunyi"

Pada tahun 1974, di Lausanne Congress of World Evangelism, Ralph Winter pertama kali menekankan tentang pelayanan misi "garis depan yang tersembunyi" di antara orang-orang yang belum terjangkau secara efektif oleh para utusan Injil atau orang-orang percaya. Dengan demikian, Asia bukan saja merupakan benua yang paling padat penduduknya, namun juga benua dengan orang-orang yang belum terjangkau dalam jumlah yang terbesar. Hal ini tidak berarti bahwa suku-suku tersebut tidak pernah mendengar nama Kristus atau tidak dapat mendengar Injil, mereka belum terjangkau karena mereka belum pernah mendengar Injil dalam cara yang dapat mereka pahami secara budaya. Karena itu, mereka belum terjangkau secara efektif bagi Kristus. Tentu saja ada orang-orang yang dibawa kepada Kristus di berbagai tempat di Asia, akan tetapi budaya dan keadaan geografis masih menjadi penghalang terbesar bagi penyebaran Injil di Asia sampai hari ini. (t\Jing Jing)

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Judul buku : What in the World is God Doing?
Judul asli artikel : Asia: The first and Vastest Challenge
Penulis : C. Gordon Olson
Penerbit : Global Gospel Publisher, 1994
Halaman : 201 -- 205