Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Asal Usul Zaman Baru

Asal Usul Zaman Baru


Diringkas Oleh: Novita Yuniarti

Selama berabad-abad, manusia telah berusaha untuk "menguak rahasia alam semesta" dan mempersatukan alam pikiran dengan "Kekuatan Hidup Abadi" atau "Alam Pikiran Semesta" atau "Akal Budi Semesta" melalui ritual-ritual kebatinan. Pada dasarnya, filosofi Zaman Baru merupakan hal yang "kuno" -- suatu pengulangan dari praktik-praktik ilmu kebatinan Hindu atau Buddha yang merupakan perpaduan dari reinkarnasi, hukum karma, ilmu nujum, penyaluran roh, bimbingan roh, hubungan dengan makhluk luar bumi, pemeriksaan diri secara kebatinan, "kuasa penyembuhan" dari piramida dan kristal kuarsa, penyembuhan dengan suara dan warna, terapi sentuhan, makanan kesehatan, vegetarisme, ramu-ramuan, penyembuhan dengan air, pemujaan alam, nudisme, kelahiran kembali, yoga, meditasi transendental, mandi dengan air yang dianggap suci, guru dan syaman, pertemuan yang harmonis, penyembahan berhala atau ilmu sihir, dan bentuk-bentuk spiritualisme lainnya.

Hal yang "baru" adalah keberhasilan gerakan Zaman Baru untuk menanamkan dirinya dalam dunia Barat, mengembangkan diri sejak pertengahan tahun 60-an, dan menjadi perangkap bagi orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat dan hampir dari seluruh kelompok usia. Gerakan Zaman Baru bukanlah suatu organisasi yang terpola. Ia selalu siap berubah bentuk dan wujud. Dengan demikian, dengan mudah ia dapat merangkul berbagai kelompok yang berbeda, seperti Unification Church, Church of Scientology, Religious Science, Unity Church, gereja-gereja spiritualis, Rosikrusian, New Thought, International Society of Khrisna Consciousness, Divine light Mission, The Way, The Forum, Dinamika mental, Sufisme, The White Brotherhood, Freemasons, dan banyak kelompok teosofi.

Kekuatan yang mempersatukan berbagai fenomena yang fleksibel ini adalah kebersamaan mereka dalam pandangan dunia. Para penganut Zaman Baru sepakat bahwa pada saat ini dunia tengah menuju suatu masa transisi. Kita sedang menghadapi kehidupan global atau kematian global. Sejarah membuktikan kegagalan bangsa-bangsa untuk membina keharmonisan dan kedamaian. Kini, terletak di tangan masing-masing individulah untuk melakukannya. Sebelum dapat memilih jalan kehidupan global -- di mana perang dan kelaparan tidak ada lagi dan setiap orang hidup secara harmonis dengan orang lain -- terlebih dahulu orang harus mengalami "kesadaran" melalui "transformasi" batin.

Kunci dari transformasi ini adalah menemukan bahwa "aku tidak menyerupai Allah", tetapi "aku adalah Allah". Begitu orang sudah menemukan "Allah di dalam dirinya" dan memusatkan perhatian padanya, maka orang tersebut memiliki kekuasaan yang tak terbatas. Selain itu, manusia memunyai suatu takdir semesta, di mana keberadaan Zaman Baru akan diisi oleh makhluk-makhluk super yang telah mengalami proses transformasi batin ini, pribadi yang lebih tinggi (allah di dalam diri mereka) ini telah melebur dengan pribadi yang lebih rendah, dan telah menghayati kesatuan dengan "Terang yang Hidup" atau "Kaidah Ilahi".

Penyusupan Besar-Besaran

Para kritikus menganggap filosofi Zaman Baru mengingkari kerasionalan dan pada dasarnya suatu pelarian dari kenyataan. Meskipun demikian, eselon tinggi dari dunia bisnis, para pialang Wall Street, angkatan bersenjata Amerika, dunia olahraga, alat penegak hukum negara, kaum politikus papan atas, sekolah- sekolah negeri dan swasta -- dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi -- dengan penuh semangat menyerap gagasan-gagasan Zaman Baru dan menjalankan praktik-praktiknya. Bahkan kursus-kursus motivasi manajemen yang didasarkan pada ajaran para pemimpin Zaman Baru telah banyak dipakai di antara perusahaan-perusahaan terkemuka. Tidak sulit mencari bukti-bukti yang menunjukkan bahwa semua aspek kehidupan masyarakat telah dipengaruhi oleh ideologi Zaman Baru.

Robert Elwood menyatakan dalam "Encyclopedia of the American Reliqious Experience", "Sulit untuk menentukan secara pasti, luas, dan arti pengaruh kelompok okultisme modern yang tersebar ini. Tetapi yang jelas, berjuta-juta orang Amerika, baik pada masa lalu maupun sekarang, bahkan yang di pelosok-pelosok desa yang paling terpencil, telah terpengaruh karena membaca tulisan- tulisan kaum Spiritualis, Teosofi, atau Rosikrusian. Banyak di antara masyarakat kita yang mencampuradukkan pengetahuan dan praktik okultisme yang diperolehnya dari bacaan dengan ibadah Minggu di gereja ortodoks."

Dalam suratnya, Judson Cornwall menulis, "Berkali-kali, ia menerima laporan dari para pendeta tentang kesedihan mereka karena telah begitu cepat merangkul seorang baru dan memberi kesempatan pelayanan kepadanya, padahal apa yang dia bawakan adalah ajaran Zaman Baru. Biasanya orang-orang ini muncul sebagai guru sekolah minggu atau penjaga anak-anak balita -- bidang- bidang yang selalu kekurangan tenaga di kebanyakan gereja. Mereka mencemari pikiran anak-anak dan muda-mudi dengan gagasan-gagasan Zaman Baru dengan menggunakan istilah-istilah Kristen. Saya memperingatkan Anda para pendeta, sekaranglah saatnya kita memerlukan karunia membedakan bermacam-macam roh."

Zaman Baru Atau Humanisme Sekuler?

Sebelum melihat bagaimana tepatnya pengaruh Zaman Baru, baik dalam gereja-gereja ortodoks maupun karismatik, ada dua hal yang patut dijelaskan. Pertama, sering kali gerakan Zaman Baru dianggap berkaitan dengan Humanisme Sekuler. Memang ada beberapa kemiripan, namun tidak sama. Para penganut Zaman Baru menganggap dirinya telah maju melampaui ilmu pengetahuan karena mereka menyelidiki fenomena kejiwaan dan kuasa-kuasa gaib secara aktif. Sebaliknya, filosofi humanistis mengandalkan nalar, metode ilmiah, demokrasi, dan belas kasihan. Kesamaan di antara filosofi Zaman Baru dan Humanisme adalah bahwa keduanya bersumber pada Iblis. Jelaslah bahwa Iblis telah berhasil memberikan dua pilihan bagi manusia yang sedang mencari kebenaran dengan pendekatan secara gaib melalui gerakan Zaman Baru dan dengan pendekatan ilmiah murni melalui Humanisme Sekuler.

Allah-Allah yang Aneh

Perhatikan baik-baik, bila penganut Zaman Baru berbicara tentang Allah, Kristus, Yesus, atau Roh Kudus, yang mereka maksudkan bukan Allah Tritunggal menurut Alkitab. "Bos" dari the Universal White Brotherhood, Omraam Mikhael Aivanhov, mengajarkan bahwa matahari adalah makhluk berakal budi, pencipta, dan pemimpin dari segala sesuatu di alam semesta. Cahaya yang memancar dari matahari adalah Roh Kristus karena Kristus tinggal di dalam matahari -- mewujudkan diri-Nya bukan hanya melalui matahari kita, melainkan melalui matahari-matahari lain yang ada di alam semesta, yang tak terhitung banyaknya.

Guru-guru Zaman Baru, Shirley MacLaine, J.Z. Knight, Jach Pursel, mengatakan Allah sebagai bentuk tertinggi dari energi yang ada. Mengenal pribadi kita yang lebih tinggi berarti mengenal Allah. J.Z. Knight mengatakan, "Allah yang sejati adalah hakikat yang terus-menerus ada, yang membiarkan manusia menciptakan dan memainkan ilusinya sendiri sebagaimana yang dikehendakinya dan akan tetap ada ketika manusia kembali, disucikan dalam inkarnasinya, dalam kelahiran dan kehidupan lain." Atau pertimbangkanlah apa yang dipelajari MacLaine dalam percakapannya dengan "pribadinya yang lebih tinggi", "... setiap jiwa adalah allah dari dirinya sendiri. Anda tidak perlu menyembah siapa pun atau apa pun kecuali diri sendiri, karena Anda adalah allah." Pemimpin Zaman Baru, Barbara Marx Hubbard mengatakan bahwa "Kristus" yang berbicara dengannya adalah "suatu mutasi hasil evolusi, yang berasal dari pola genetik Homo Sapiens dengan kemampuan tinggi untuk menyesuaikan diri dengan kekuatan ilahi."

Dari pernyataan tersebut, kita tahu bahwa penggunaan nama Allah atau Yesus Kristus sama sekali tidak membuktikan bahwa orang itu adalah seorang percaya. Agar tidak terkecoh oleh para penyusup ini, ada dua hal yang harus selalu kita ingat. Pertama, bahwa gerakan Zaman Baru memusatkan perhatian pada pengalaman gaib. Kedua, para penganut Zaman Baru tidak menyembah sang Pencipta Mahatinggi yang sama sekali berbeda dan terpisah dari ciptaan-Nya.

Memainkan Peranan "Allah"

Pernahkah Anda memikirkan apa yang dimiliki Adam dan Hawa sebelum Hawa terkecoh oleh dusta besar Iblis? Allah telah memenuhi seluruh kebutuhan mereka secara berkelimpahan. Allah telah memercayakan pemeliharaan taman yang luar biasa indahnya itu kepada mereka. Kedudukan mereka sama seperti raja, semua yang hidup tunduk kepada perintah mereka. Lalu masuklah sang ular. Sambil mendekati Hawa ia berkata, "Engkau dapat menyerupai Allah!" Pikir Hawa, "Hebat juga." Adam setuju. Tetapi keinginan untuk menjadi seperti Allah merupakan keputusan yang fatal bagi seluruh umat manusia. Sampai hari ini Iblis masih menggunakan rayuan yang sama dan hasilnya sangat baik. Mengapa bisa begitu? Karena manusia tidak mau menundukkan dirinya dengan rela kepada Allah, melainkan masih memendam keinginan untuk menjadi setara dengan Allah. Dusta besar di Taman Eden adalah sama dengan dusta besar gerakan Zaman Baru. Sekarang dengan gembar-gembor Zaman Barunya, Iblis menjanjikan bahwa semua orang dapat menjadi Allah. Dan sebagai "Allah" tidak ada suatu apa pun yang tidak dapat mereka lakukan atau dapatkan.

Allah melalui Roh Kudus-Nya tinggal di dalam orang percaya. Namun, ada suatu perbedaan besar, Yesus adalah Allah yang mengambil wujud manusia. Dia adalah Allah yang mengambil tubuh dan wujud manusia, Firman yang Hidup, sesama Pencipta alam semesta. Dan orang percaya adalah manusia biasa, yang didorong dan dimungkinkan oleh Roh Kudus untuk hidup kudus dan melakukan pekerjaan yang untuknya kita dipanggil oleh Allah.

Begitu seorang memeluk kepercayaan "aku adalah allah, sesama pencipta alam semesta", langkahnya yang berikut adalah menciptakan kenyataan bagi diri sendiri yang erat kaitannya dengan konsep hinduisme mengenai reinkarnasi dan karma. Hukum karma menyatakan bahwa apa yang ditabur selama kita hidup -- baik atau buruk -- akan kita tuai dalam kehidupan yang akan datang. Dan untuk mempelajari pelajaran yang belum sempat kita pelajari dalam kehidupan sebelumnya, kita memilih segala sesuatu mengenai kelahiran kembali. Dan segala kejadian yang terjadi sepanjang hidup kita adalah berdasarkan kehendak kita sendiri.

Membuatnya Terjadi

Fenomena kebatinan ditimbulkan oleh kekuatan- kekuatan di luar dunia nyata. Sayang sekali, banyak gereja tidak menyadari bahaya dari pengalaman batin yang diciptakan sendiri -- yang memungkinkan penyesatan diri dan/atau membuka diri terhadap dunia roh. Mungkin, banyak di antaranya yang belum mengetahui risikonya. Kesesatan ini sering terlihat ketika orang bersikeras untuk menunjukkan fenomena rohani dalam bentuk apa pun, contohnya pura-pura "terjatuh di bawah kuasa Roh", atau bertingkah laku sedemikian rupa sehingga menarik perhatian semua orang. Namun itu justru menyiapkan pentas bagi pertunjukan kuasa roh jahat. Jadi, apa yang kelihatan sebagai pekerjaan Roh Kudus dapat merupakan sesuatu yang lain sama sekali. Mungkin ada yang tahu bahwa hal itu bukan dari Allah, tetapi meremehkannya dan menganggap "perbuatan daging". Namun ini bukan hal sepele, apa yang dimulai sebagai perbuatan daging -- yang dibuat sendiri -- akhirnya dapat menjadi perbuatan Iblis. Alasannya adalah "daging" tidak dapat bertindak di luar kehendak. Yesus mengetahui bahaya ini. Oleh karena itulah Dia menekankan, "Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya" (Yohanes 5:19). Mencoba-coba masuk ke dalam dunia roh terlepas dari Roh Kudus dan tanpa tekad yang kuat untuk hanya melakukan kehendak Bapa sekali-kali tidak aman.

Bidang lain di mana orang mudah terperangkap untuk menciptakan kenyataannya sendiri adalah dalam hal membelenggu dan mengusir Iblis. Di banyak kalangan karismatik, hal ini telah nyaris menjadi suatu "liturgi". Banyak orang yang kehidupannya tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia sanggup melawan kuasa roh, dengan cepat "membelenggu" dan "menghardik" Iblis. Tetapi perang rohani bukanlah permainan anak kecil, perang rohani tidak dapat dimenangkan hanya dengan permainan mental atau kata-kata dengan sang Musuh. Memang Alkitab mengatakan bahwa dengan kuasa Kristus kita dapat melumpuhkan Musuh. Tetapi untuk membelenggu Iblis dibutuhkan lebih dari sekadar ritual pengucapan kata-kata yang diulang-ulang. Kata- kata itu bukan sihir! Alkitab mengatakan, Kristus telah "merendahkan diri-Nya dan sampai mati, bahkan mati di kayu salib". Oleh karena itu, Allah meninggikan Dia dan memberi-Nya otoritas tertinggi. Jadi, bila kita belajar untuk bersabar dan merendahkan diri dengan memikul salib kita bersama Kristus sebagai seorang hamba, dan selalu bertekun dalam ketaatan kepada-Nya, dapatlah kita menerima kuasa dan wewenang-Nya.

Visualisasi Kreatif

Ada dua jenis praktik Zaman Baru yang dilakukan orang Kristen ketika mereka mulai menekuni bidang-bidang baru kuasa rohani. Praktik ini adalah meditasi dan visualisasi kreatif atau khayalan terpimpin. Banyak orang Kristen percaya bahwa visualisasi kreatif adalah suatu teknik yang sangat manjur untuk membuat doa kita terkabul. Cara ini juga dianggap sebagai tambahan yang penting bagi "pengakuan positif" dan "berpikir positif". Para penganut Zaman Baru juga sangat percaya pada kuasa bayangan mental. Guru Zaman Baru, Shakti Gawain mengatakan, "ini merupakan suatu teknik untuk menciptakan apa yang sungguh-sungguh Anda inginkan -- cinta, kepuasan, kesenangan, kesehatan, kecantikan, kekayaan, kedamaian batin, dan keselarasan ... apa pun yang dirindukan oleh hati Anda ... Anda tidak perlu 'mengimani' kuasa apa pun yang ada di luar diri Anda."

Memang, kemampuan untuk melihat sesuatu di dalam benak adalah suatu karunia Allah. Lagipula, pikiran kita memang memunyai komponen untuk membayangkan sesuatu. Segala rencana yang kita buat selalu didasarkan pada bagaimana kita membayangkan hasilnya. Alkitab akan menjadi sebuah kitab yang tidak berjiwa bila kita tidak mampu menghidupkan kata-kata itu di dalam bayangan kita - - melihat wanita kurus kering yang mengulurkan tangannya untuk menyentuh punca jubah Yesus, membayangkan Petrus berjalan di atas air, menghayati kengerian penderitaan di kayu salib. Ketika Yesus mengajar dengan memakai perumpamaan, Dia sedang mengatakan, "Bayangkan apa yang terjadi ketika seorang penabur keluar untuk menabur benih, atau bila seorang wanita kehilangan kalung dirhamnya yang mahal." Dia bermaksud agar para pendengar-Nya membayangkan diri mereka berada dalam situasi-situasi itu, menanyakan kepada diri mereka sendiri bagaimana mereka akan bereaksi.

Jadi, meditasi dan visualisasi sangat erat hubungannya. Namun kita harus mengerti, meskipun keduanya dapat dijalankan secara alkitabiah, masing-masing atau keduanya juga dapat digunakan untuk mengubah keadaan kesadaran kita. Lebih lanjut, visualisasi kreatif sebagaimana diajarkan oleh Zaman Baru, meliputi menciptakan "suatu bait suci di dalam diri kita yang dapat kita kunjungi setiap saat". Di dalam bait suci yang ada di dalam diri kita ini, kita dapat bertemu dengan roh pembimbing kita kapan saja kita membutuhkan bimbingan, kebijaksanaan, pengetahuan, dukungan, ilham kreatif, cinta kasih, atau teman. Para penganut Zaman Baru sangat memercayai kekuatan bayangan mental untuk mendapatkan kesehatan, kekayaan, dan keberhasilan.

Meditasi

Praktik Zaman Baru telah berkembang di kalangan masyarakat Kristen. Bahkan beberapa gereja menyelenggarakan pelatihan meditasi untuk menghilangkan stres dan ketegangan. Yang lain memodifikasi teknik-teknik meditasi Zaman Baru dan memperkenalkan kursus-kursus "meditasi Kristen". Kitab Mazmur adalah buku pedoman meditasi orang Kristen. Kitab Mazmur dibuka dengan pernyataan berbahagialah orang yang merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam, dan diakhiri dengan suatu kidung pujian yang indah. Kita melihat bahwa mantra yang menghipnotis atau mengubah kondisi kesadaran tidak ada hubungannnya sama sekali dengan meditasi Alkitab.

Kesopanan dan Moral

Nudisme (tradisi tidak memakai baju) adalah suatu kebiasaan yang banyak diterima oleh kelompok Zaman Baru. Anehnya, ada bekas penganut Zaman Baru yang menjadi Kristen, yang tetap ikut ambil bagian dalam kegiatan mandi bersama dan sauna telanjang. Mereka beranggapan, mandi uap dengan telanjang bersama dapat membantu mereka untuk lebih terbuka dan saling menyatakan perasaan mereka yang paling dalam. Allah menegaskan bahwa ketelanjangan dan ketidaksopanan di muka umum adalah suatu celaan karena menodai kesucian seksualitas kita.

Musik Zaman Baru

Musik Zaman Baru mendapat tanggapan positif dari banyak orang Kristen. Meski banyak yang mengatakan bahwa sebutan Zaman Baru hanyalah taktik pemasaran untuk meningkatkan penjualan lagu-lagu yang tenang, orang Kristen harus waspada. Musikus Zaman Baru, David Gordon menjelaskan, "Musik Zaman Baru yang sesungguhnya diciptakan dengan tujuan untuk menggugah pusat kesadaran pendengarnya -- suatu cara penting untuk menemukan kembali hakikat tertinggi kita. Inti dari musik Zaman Baru terletak pada kuasa bunyi untuk menggetarkan pusat energi psikis tubuh dan mengubah kesadaran kita." Stephen Halper yang juga seorang musikus Zaman Baru mengatakan, "Banyak seniman rumah rekaman Zaman Baru mengakui adanya unsur "hubungan dengan dunia roh" sebagai sumber inspirasi mereka untuk mencapai keselarasan panjang gelombang dan dimensi berdasarkan kerja sama dan kreativitas bersama bagi terwujudnya suatu simfoni semesta yang berkesinambungan."

Diringkas dari:

Judul buku : Berbagai Tipuan dalam Pelayanan
Penulis : Florence Bulle
Penerbit : Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang 1997
Halaman : 251 -- 274

e-JEMMi 45/2009