Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are herePenerjemahan Alkitab Sejak John Wycliffe

Penerjemahan Alkitab Sejak John Wycliffe


By admin - Posted on 04 May 2018

Penerjemahan Alkitab bahasa Inggris abad ke-14 yang diinspirasi dan diatur oleh John Wycliffe itu terbatas penjangkauannya. Dan, meskipun terjemahannya tidak menghasilkan suatu reformasi di Inggris tanpa bantuan, terjemahan itu mempersiapkan banyak orang untuk terjadinya gerakan tersebut satu abad kemudian.

Dengan adanya penemuan mesin cetak sekitar tahun 1450, salinan naskah Alkitab tulisan tangan yang terbatas dan memakan biaya besar, seperti pada zaman Wycliffe, digantikan dengan banyak edisi Kitab Suci yang relatif tidak mahal. Gereja tidak lagi berisikan “bidah” dari para pejuang Reformasi. Pada tahun 1500, muncullah teks Alkitab Vulgata bahasa Latin yang dicetak, diikuti dengan terjemahan Alkitab cetak dalam bahasa Jerman, Italia, Katalan, dan Ceko. Firman Tuhan dalam bahasa lokal orang-orang pun tersebar.

Setelah Zaman Renaissans, penerbitan seluruh Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani pada tahun 1487 dan Perjanjian Baru bahasa Yunani edisi Erasmus pada tahun 1516, terjemahan Reformasi Luther dalam bahasa Jerman pada tahun 1522, dan Tyndale dalam bahasa Inggris pada tahun 1526 dibuat berdasarkan bahasa asli, bukan versi Vulgata bahasa Latin dari gereja.

Terjemahan Luther menjadi contoh untuk terjemahan-terjemahan oleh para penerusnya ke dalam bahasa Denmark, Swedia, Islandia, dan Finlandia. Terjemahan Tyndale memulai era terjemahan yang intensif dan penerbitan Alkitab yang mengubah jalannya sejarah Inggris. Salah satu versi, Geneva Bible, menembus 200 edisi, dengan satu edisi atau lebih setiap tahun selama 56 tahun berturut-turut.

Versi King James pada tahun 1611 menjadi label bidang itu selama dua setengah abad, dan merupakan dasar untuk versi-versi English Revised, American Standard, dan Revised Standard. Antara tahun 1611 dan 1946, lebih dari 500 terjemahan berbeda dari setidaknya satu kitab di Alkitab telah diterbitkan dalam bahasa Inggris.

Antusiasme penerjemahan Alkitab yang diawali dengan Reformasi terbatas hanya dalam bahasa-bahasa Eropa. Dari 34 bahasa yang menerima terjemahan Alkitab selama 275 tahun ke depan, tiga perempat dari mereka adalah bahasa-bahasa Eropa. Ini pun terus ditentang oleh gereja. Luther dikucilkan, Tyndale dipaksa keluar benua. Alkitab-Alkitab dalam bahasa Perancis, Spanyol, dan Portugis harus diproduksi di luar negara asal mereka.

Reformasi gagal memberikan visi misionaris untuk penerjemahan ke dalam bahasa-bahasa non-Eropa. Gereja-gereja Protestan melihat ke dalam diri mereka sendiri, dan mapan menikmati firman Tuhan dalam bahasa mereka sendiri. Mayoritas percaya bahwa Amanat Agung adalah untuk rasul-rasul abad pertama saja.

Era eksplorasi dan kolonialisme pada abad ke-15 sampai abad ke-17 utamanya merupakan ekspansi Eropa Romawi. Golongan biarawan/biarawati Katolik, khususnya kaum Jesuit, menjadi golongan yang melakukan pekerjaan misi gereja. Penggunaan Kitab Suci dibatasi untuk pendeta dan dalam bahasa Latin. Terjemahan bagian-bagian dalam liturgi, seperti Doa Bapa Kami, dibuat dalam beberapa bahasa, tetapi tidak ada terjemahan bagian-bagian dari Kitab Suci untuk Katolik sebelum tahun 1800.

Mulai abad ke-17, negara-negara Eropa Protestan ikut serta dalam ekspansi ke luar negeri. Terjemahan Kitab Suci pertama dalam bahasa non-Eropa untuk tujuan penginjilan adalah Kitab Injil Matius dalam bahasa Melayu, dibuat oleh direktur Dutch East Indies Company pada tahun 1629. Seluruh Alkitab dalam bahasa baru untuk tujuan misionaris yang pertama adalah karya John Eliot dari Inggris dalam bahasa Massachusetts di Amerika pada tahun 1663. Ziegenbalg, seorang misionaris Denmark, menerjemahkan Perjanjian pertama dalam sebuah bahasa India pada tahun 1717.

Misi dan Penerjemahan

Akan tetapi, penekanan kaum Protestan pada Kitab Suci untuk kaum awam dalam bahasa mereka sendiri tidak berkembang ke dalam penerjemahan perintis yang agresif ke dalam bahasa-bahasa yang lain, sampai orang-orang percaya Eropa membangkitkan tanggung jawab misionaris mereka ke seluruh dunia.

William Carey, yang sangat tergerak setelah membaca laporan Count Zinzendorf dan para misionaris Moravia, mengikuti teladan mereka dan pergi ke India. Carey percaya bahwa terjemahan Alkitab merupakan cara yang paling efektif untuk memajukan kekristenan dan menunjukkan hal itu pada tahun 1793 -- 1834 di India. Dia sendiri menerjemahkan atau membantu menerjemahkan Kitab Suci ke dalam lebih dari 20 bahasa India, dan bersama dengan rekan kerjanya, dia menerjemahkan dan menerbitkan Kitab Suci ke dalam 45 bahasa dan dialek di Asia, yang dalam 35 bahasa di antaranya adalah untuk pertama kalinya.

Karya Carey Enquiry Into the Obligation of Christians To Use Means for the Conversion of the Heathen menghasilkan terbentuknya perkumpulan 12 misionaris di Eropa dan Amerika pada tahun 1824. Dimulai pada tahun 1804, perkumpulan Alkitab dibentuk di negara-negara pengutus (misi) untuk penerjemahan, penerbitan, dan pendistribusian Alkitab.

Terjemahan Alkitab segera menyebar ke seluruh dunia. Kitab Injil Lukas dalam bahasa Tahiti, tahun 1818, merupakan Kitab Suci pertama dalam salah satu bahasa Oseania. Salinan kitab ini terjual seharga tiga galon minyak kelapa di Tahiti. Dua terjemahan untuk seluruh Alkitab dalam bahasa China muncul secara berturut-turut, pada tahun 1822 dan 1823, oleh Marshman dalam bahasa India dan oleh Morrison dan Milnes dalam bahasa China berturut-turut. Seorang profesor Aymara, karena termotivasi oleh seorang agen British and Foreign Bible Society, James Thomson, menerjemahkan Kitab Injil Lukas yang pertama kali diterbitkan dalam bahasa pribumi Amerika Latin pada tahun 1829.

Alkitab bahasa Malagasi diselesaikan pada tahun 1835 oleh London Missionary Society sebelum mereka menyelamatkan diri. Dua puluh lima tahun kemudian, tanpa kehadiran misionaris di Malagasi, terjemahan itu menghasilkan pertumbuhan dari sepuluh menjadi ribuan orang percaya dalam gereja-gereja yang berkembang pesat. Alkitab bahasa Yoruba, tahun 1884, merupakan Alkitab pertama dalam salah satu bahasa Afrika, yang dibuat oleh orang Kristen setempat dengan dibantu oleh misionaris, di bawah kepemimpinan Uskup Samuel Crowther, uskup Afrika pertama dari Church of England.

Singkatnya: Sebelum tahun 1800, hanya 67 bahasa yang memiliki terjemahan Kitab Suci yang diterbitkan dan hanya 40 bahasa untuk seluruh Alkitab. Antara tahun 1800 dan tahun 1830, 86 bahasa lagi menerima Kitab Suci untuk pertama kalinya, lebih banyak dibandingkan selama 18 abad sebelumnya. Sebanyak 66 di antaranya adalah bahasa-bahasa di luar Eropa.

Apa yang telah dimulai terus melaju dengan cepat: Sekitar 456 bahasa menerima Kitab Suci untuk pertama kalinya dalam 100 tahun pada abad ke-19; sebanyak 520 lagi dalam 50 tahun pertama pada abad ke-20, dan hampir 600 lagi dalam 25 tahun yang berakhir pada tahun 1975. Pada tahun 1982, keseluruhan Alkitab telah diterbitkan dalam 279 bahasa, Perjanjian Baru dalam 551 bahasa lebih, dan sedikitnya satu kitab dari Alkitab dalam 933 bahasa, semuanya sejak ditemukannya mesin cetak.

Perbedaan Tertentu Dapat Menyorot Tren dalam Sejarah

Diawali dengan terjemahan Wycliffe ke dalam bahasa Inggris dan sampai sekitar tahun 1800, mayoritas terjemahan dibuat untuk gereja-gereja di Eropa yang sudah lama berdiri, oleh orang-orang percaya terpelajar yang menerjemahkan dari bahasa asing ke dalam bahasa ibu mereka, untuk memberantas kesalahan dan perubahan dalam gereja-gereja yang ada dan sebagai bagian dari gerakan untuk meraih kemerdekaan dari kendali gerejawi asing.

Setelah tahun 1800, mayoritas terjemahan dibuat untuk gereja-gereja yang baru dibentuk di luar Eropa oleh para misionaris, yang menerjemahkan ke dalam bahasa yang mereka pelajari untuk penginjilan dan pelatihan para pemimpin serta orang awam, dengan tujuan supaya gereja-gereja bisa menangani persoalan mereka sendiri dan melakukan pelayanan mereka sendiri.

Penerjemahan dan Tren Saat Ini

Penerjemahan pertama kali berlanjut dengan satu kitab dari Alkitab atau lebih muncul dalam bahasa baru setiap dua minggu. Beberapa diperuntukkan bagi perintisan penginjilan, yang lainnya untuk gereja-gereja misionaris yang masih belum memiliki Alkitab dalam bahasa lokal orang-orangnya. Penerjemahan Alkitab sering kali mendatangkan pembaruan pada gereja-gereja itu serta rasa kemerdekaan yang baru.

Orang-orang Kristen Navajo, misalnya, ternyata dapat menjalankan gereja mereka sendiri tanpa misionaris setelah mereka memiliki firman Tuhan dalam bahasa Navajo. Gerakan gereja pribumi, yang sangat diperkuat oleh kemerdekaan secara politik dari koloni sebelumnya, telah memunculkan permintaan yang semakin meningkat terhadap Kitab Suci dalam bahasa pribumi.

Siapakah orang-orang yang terlibat dalam gerakan penerjemahan Alkitab modern? Ada semakin banyak konsultan berpengalaman, orang-orang terlatih yang bisa menjelaskan teks Alkitab dan mengevaluasi kualitas terjemahan ke bahasa lain, yang bersedia untuk menolong para penerjemah.

Bagian terbesar dari penerjemahan itu adalah orang-orang Kristen yang berkomitmen, dari semua kalangan masyarakat, yang sangat percaya akan pentingnya memberikan Kitab Suci kepada orang-orang dalam bahasa mereka sendiri, dan telah menjalani pelatihan Alkitab, pembelajaran dan analisa Alkitab, dan prinsip-prinsip penerjemahan. Lima ratus tujuh puluh empat proyek penerjemahan ditulis oleh United Bible Societies pada tahun 1982 dengan melibatkan anggota-anggota dari sekitar 200 denominasi dan misi yang berbeda. Living Bibles International saat ini memproduksi terjemahan bahasa populer dalam 110 bahasa.

Penutur asli dari bahasa yang dibuat terjemahannya sangatlah diperlukan bagi semua aspek penerjemahan. Bahkan, dalam tahun-tahun belakangan ini, persentase terjemahan yang tinggi dilakukan oleh orang-orang percaya nasional.

Penerjemahan Alkitab sebagai karier menjadi pilihan pada tahun 1942 dengan terbentuknya Wycliffe Bible Translators, sebuah organisasi dengan penerjemahan Alkitab sebagai komitmen utamanya dan sarana untuk memenuhi Amanat Agung. Sebuah organisasi rekanan, Summer Institute of Linguistics, dikelola untuk memberikan pelatihan yang perlu dan persediaan di lapangan. Para penerjemah, ahli literatur, dan para pekerja pendukung dari berbagai macam keterampilan dari 34 negara bergabung dalam tim untuk membuat Perjanjian Baru dan bagian-bagian dari Perjanjian Lama dalam 200 bahasa. Baru-baru ini, mereka mengerjakan 761 bahasa lagi yang dipakai dalam 40 negara yang berbeda. Pelatihan diberikan di empat universitas Amerika, di Inggris, Jerman, Perancis, Brazil, Jepang, dan Australia.

Ribuan misionaris, penerjemah, dan konsultan, yang bekerja untuk menyorot organisasi-organisasi lain telah memiliki pelatihan khusus ini untuk penerjemahan perintis dan karya literatur dalam bahasa yang tadinya tidak tertulis. Ketika misi penerjemahan tidak selalu disusun untuk menekankan penerjemahan yang tepat, organisasi khusus penerjemahan Alkitab sekarang telah mulai dalam empat konstitusi berbeda di Amerika. Orang-orang Kristen di Nigeria, Ghana, Brazil, Filipina, Kamerun, Kenya, Korea, dan Papua Nugini telah memulai organisasi penerjemahan Alkitab nasional.

Gereja Katolik Roma telah mengubah sikapnya terhadap penggunaan bahasa-bahasa lokal, pembacaan Kitab Suci oleh kaum awam, dan penerjemahan Alkitab, khususnya sejak Vatikan II. Dari 574 proyek yang ditulis oleh United Bible Societies pada tahun 1982, Katolik Roma secara aktif terlibat dalam 133 proyek, baik sebagai penerjemah maupun sebagai peninjau.

Buku-buku yang merangkum pengamatan dari penelitian linguistik dan informasi teori, bantuan penafsiran khusus, kumpulan tafsiran, jurnal empat bulanan untuk penerjemah, dan kamus komputer Yunani dan analisis tata bahasa tersedia. Komputer dan perlengkapan proses kata untuk persiapan naskah, pengaturan pengetikan, dan pembacaan ulang menjadi hal yang rutin.

Jalur media penerbitan dan distribusi menjadi banyak, termasuk terjemahan pada kaset. Semakin banyaknya permintaan untuk Kitab Suci dalam bahasa utama membatasi persentase anggaran United Bible Society yang tersedia bagi perintis penerjemahan dalam bahasa minoritas. Penerbit-penerbit lain sekarang menanggung bagian besar dari biaya penerbitan pertama. The World Home Bible League and the New York International Bible Society, misalnya, sekarang membiayai perintisan penerjemahan dalam 364 bahasa. Abad ke-20 sedang melihat penerjemahan, penerbitan, dan distribusi Alkitab yang belum pernah ada sebelumnya.

Tugas yang Masih Tersisa

Tujuan akhir dari gerakan penerjemahan Alkitab adalah bahwa semua orang, seberapa pun rendahnya, harus memiliki akses, jika tidak membaca, setidaknya mendengar, firman Allah yang diberikan oleh Roh Kudus kepada gereja dalam teks Perjanjian Lama dan Baru. Hal ini harus secara optimal terjadi dalam bahasa yang paling dipahami oleh masing-masing orang.

Namun, apa ukuran tugasnya? Dari 5.103 bahasa yang dipakai di dunia pada tahun 1978, 212 bahasa memiliki Alkitab yang baik, 422 memiliki Perjanjian Baru yang baik, 35 memiliki Kitab Suci yang perlu direvisi, dalam 830 bahasa terjemahan yang sedang berlangsung, 168 dipakai oleh pengguna dwibahasa yang bisa memakai Kitab Suci yang tersedia dalam beberapa bahasa lain, 157 digunakan hanya oleh orang-orang yang begitu tua sehingga mungkin mereka telah tiada sebelum terjemahan bisa dibuat, dan sisa 3.279 bahasa yang belum. Dari 3.279 bahasa ini, 634 telah diselidiki, dan mereka sangat membutuhkannya. Sebanyak 2.645 sisanya tidak memiliki Kitab Suci dan diperkirakan membutuhkan terjemahan, kecuali penelitian linguistik dan sosial budaya menunjukkan hal sebaliknya.

Metode untuk mempercepat penyesuaian atau terjemahan untuk bahasa-bahasa terkait sedang dikembangkan. Komputer, misalnya. Dari sebuah terjemahan yang baik dalam satu bahasa, sebuah konsep kasar yang dapat dimengerti dalam bahasa lain yang terkait dihasilkan oleh komputer bisa menolong pengguna yang terlatih dari bahasa kedua untuk menghasilkan terjemahan yang setia dan dapat dibaca dengan lebih cepat. Belakangan ini, para pengguna dari tiga bahasa berbeda yang berkaitan di Nigeria bekerja dengan tim ahli konsultan-terjemahan, menghasilkan Perjanjian Baru bersama dalam bahasa Izi, Eza, dan Ikwo. Prosedur yang sama sekarang sedang diuji coba dalam suatu rumpun bahasa di Guatemala.

Bahasa-bahasa yang tidak memiliki Kitab Suci seharusnya tidak dibatasi hanya di area-area yang tertutup untuk misionaris. Sejarah, tulis Eric Fenn, menunjukkan kepada kita bahwa terjemahan Kitab Suci di negara-negara seperti India, China, Burma, Korea, Jepang, dan Tibet “mendahului dibukanya negara untuk mengelola pekerjaan misi”. Kitab Suci memiliki kesaksian mereka sendiri. Orang-orang menjadi percaya dengan membaca Kitab Suci.

Gereja telah dimulai tanpa misionaris, melainkan dengan Kitab Suci. Penulis Pertumbuhan Gereja di Amerika Latin memberi tahu tentang gereja-gereja dan jemaat yang dibangun hanya melalui kesaksian seorang pembaca Alkitab yang menceritakan kepada orang lain realitas dari penemuannya. “Polanya jelas: Pertama, Alkitab, lalu orang yang bertobat, lalu gereja.” Akan tetapi, jika Alkitab tidak pernah diterjemahkan, itu tidak akan pernah didistribusikan.

Para ahli misi menekankan kebutuhan untuk merintis gereja dalam setiap suku bangsa, bekerja dengan gereja sampai diperoleh anggota yang memadai dan sumber untuk menginjili orang-orang non-Kristen dalam suku bangsa itu sendiri tanpa bantuan luar. Satu-satunya sumber dengan semua tujuan yang disediakan oleh Tuhan untuk mewujudkan ini adalah Alkitab. Kebutuhan penerjemahan Alkitab harus dipertimbangkan dalam semua program perintisan gereja lintas budaya. Tidak ada pengganti untuk Kitab Suci dalam bahasa orang-orang.

“Ada banyak alasan kuat mengapa dunia seharusnya memiliki Alkitab,” tulis William Nevins seratus tahun yang lampau dalam Practical Thoughts. “Saya heran bahwa kita yang memiliki Alkitab, dan memikirkannya begitu banyak, dan memiliki alat untuk memperbanyak dan menyebarkan salinannya, tidak memutuskan untuk segera berusaha, dalam periode yang baik, untuk memberikannya kepada dunia karena dunia hanya bisa mendapatkannya melalui pemberian dari mereka yang memilikinya saat ini.”

Tentu saja, John Wycliffe akan menghargai keputusan itu! (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Christian History Institute
URL : https://christianhistoryinstitute.org/magazine/article/bible-translation-since-john-wycliffe
Judul asli artikel : Bible Translation Since Wycliffe
Penulis artikel : George M. Cowan
Tanggal akses : 20 Maret 2018