You are herePelayanan Sosial / Menyentuh Si Kusta

Menyentuh Si Kusta


By admin - Posted on 18 February 2016

Markus 1:40-45

"Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, 'Aku mau, jadilah engkau tahir'." (Markus 1:41)

Kusta adalah penyakit infeksi kronis pada saraf yang merusak saraf, kulit, anggota tubuh, dan mata, serta dapat membawa maut. Dulu penderitanya diasingkan oleh masyarakat. Mereka dianggap najis secara sosial, juga secara ritual — tidak layak ikut beribadah. Lengkap sudah. Sampah yang sesampah-sampahnya. Mana ada orang waras yang sudi berdekat-dekatan dengan mereka?

Karena itu, tindakan Yesus pada orang kusta ini sungguh menghangatkan hati. Dia menyambutnya dengan terbuka. Mungkin memaklumi betapa pelik perjuangan yang ditempuh orang itu untuk menemuinya. Dan, Dia tergerak oleh belas kasihan. Dia bisa saja menyembuhkan orang itu dari jauh — tinggal bersabda sambil mengangkat tangan, tinggal mengulurkan tongkat, atau mengibaskan jubah-Nya. Tidak. Yesus memilih menyentuh orang yang sakit kusta itu terlebih dahulu — ya, menyentuh terlebih dahulu si sampah najis itu — dan baru kemudian menyembuhkannya (ay. 41). Bukan sebaliknya. Dengan itu, Yesus mengerjakan paling tidak dua hal: bukan hanya menyembuhkan, Dia juga memulihkan martabat kemanusiaan orang itu. Tak heran orang itu meluap dengan sukacita dan tak tahan untuk tidak bercerita tentang kebaikan-Nya (ay. 45).

Hari ini, marilah kita secara khusus mengingat para dokter dan petugas kesehatan yang melayani orang-orang sakit. Kiranya mereka memandang pada Yesus, Sang Tabib Agung, dan memancarkan belas kasih-Nya dalam pekerjaan mereka. Dan, bagi orang yang sakit, kiranya mereka mengalami sentuhan-Nya yang memulihkan mereka.—ARS

YESUS BUKAN HANYA MENYEMBUHKAN PENYAKIT-PENYAKIT KITA, MELAINKAN MEMULIHKAN PULA MARTABAT KEMANUSIAAN KITA

Diambil dari:

Nama situs : www.renunganharian.net
Alamat URL : http://www.renunganharian.net/2015/71-desember/1607-menyentuh-si-kusta.html
Penulis artikel : Arie Saptaji
Tanggal akses : 26 Januari 2016