Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are hereArtikel / Bahasa Masa Perjanjian Baru

Bahasa Masa Perjanjian Baru


By admin - Posted on 26 May 2015

Akhir-akhir ini, banyak orang menanyakan bahasa apa yang sebenarnya digunakan pada masa Perjanjian Baru? Soalnya, ada kalangan yang akhir-akhir ini menekankan slogan "kembali ke akar yudaik" yang menyimpulkan bahwa bahasa Ibrani selalu dipakai oleh bangsa Ibrani, termasuk pada masa Perjanjian Baru, dan Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani. Benarkah kesimpulan demikian?

Dari data tulisan-tulisan yang diketahui pada abad pertama dan juga naskah asli Perjanjian Baru, termasuk penemuan arkeologis dari masa itu, kita mengetahui bahwa bahasa yang umum menjadi bahasa lisan sehari-hari di kalangan rakyat jelata adalah bahasa Aram, dan bahasa lisan dan tulisan yang digunakan secara regional Palestina adalah bahasa Yunani (koine = umum), sedangkan bahasa Ibrani lisan sudah tidak lagi digunakan rakyat umum, hanya versi Ibrani tulisan digunakan dalam tulisan keagamaan Yahudi di kalangan para petinggi agama Yahudi saja.


1. Bahasa Ibrani atau Aram?

Mengapa Alkitab Perjanjian Baru dalam bahasa Indonesia menyebut adanya "bahasa Ibrani"? Bila ada ayat dalam Perjanjian Baru dalam bahasa Indonesia yang menyebut soal bahasa Ibrani, itu adalah terjemahan dari bahasa asli Yunaninya "hebraidi dialektos" atau "hebraisti", yang maksudnya adalah bahasa Aram, yang kala itu disebut sebagai dialek Ibrani atau lidah orang Ibrani. Berikut contohnya (yang dikurung adalah bahasa aslinya, Yunani).

"Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani [hebraisti], bahasa Latin dan bahasa Yunani." (Yohanes 19:20)

"Sesudah Paulus diperbolehkan oleh kepala pasukan, pergilah ia berdiri di tangga dan memberi isyarat dengan tangannya kepada rakyat itu; ketika suasana sudah tenang, mulailah ia berbicara kepada mereka dalam bahasa Ibrani [hebraidi dialektos], katanya: "Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah, apa yang hendak kukatakan kepadamu sebagai pembelaan diri." Ketika orang banyak itu mendengar ia berbicara dalam bahasa Ibrani [hebraidi dialektos], makin tenanglah mereka ...." (Kisah Para Rasul 21:40–22:2)

"Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani [hebraidi dialektos]: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang." (Kisah Para Rasul 26:14)

Dari beberapa ayat berikut akan makin jelas bahwa yang dimaksudkan dengan tulisan "bahasa Ibrani" adalah bahasa Aram karena kemudian diberi contoh nama-nama yang adalah nama-nama dalam bahasa Aram. Perlu dimaklumi bahwa ada kedekatan antara bahasa "Ibrani" dan "Aram" karena bahasa Aram adalah nenek moyang bahasa Ibrani, dan sudah berabad-abad bahasa Ibrani dipengaruhi Aram sehingga ada beberapa kata yang mirip, sekalipun dengan ejaan berbeda. Hanya, bahasa Aram adalah bahasa hidup, sedangkan bahasa Ibrani pada masa Yesus hidup adalah bahasa mati yang tidak digunakan dalam percakapan umum sejak orang Yahudi di bawah Ezra kembali dari pembuangan di Babel, sehingga bahasa Aramlah yang digunakan secara umum pada waktu itu sebagai bahasa percakapan rakyat umum, di samping bahasa Yunani yang dipergunakan di sekitar Laut Tengah sebagai bahasa percakapan, dagang, dan tulisan regional.

"Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani [hebraisti] disebut Betesda; ada lima serambinya." (Yohanes 5:2)

"Kata Yesus kepadanya: 'Maria!' Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani [hebraisti]: 'Rabuni!', artinya 'Guru.'" (Yohanes 20:16)

"Dan raja yang memerintah mereka ialah malaikat jurang maut; namanya dalam bahasa Ibrani [hebraisti] ialah Abadon dan dalam bahasa Yunani adalah Apolion." (Wahyu 9:11)

"Lalu ia mengumpulkan mereka di tempat, yang dalam bahasa Ibrani [hebraisti] disebut Harmagedon." (Wahyu 16:16)

Kata-kata Betesda, Rabuni, Abadon, dan Harmagedon adalah kata-kata dalam bahasa Aram. Josephus, ahli sejarah Yahudi yang terkenal itu, menulis naskah sejarahnya yang pertama yang berjudul "Perang Yahudi" (The Jewish War) dalam bahasa Aram yang disebutnya sebagai "hebraisti/lidahnya orang Ibrani".

Dari data-data di atas, menjadi jelas bahwa memang selama lebih dari 20 abad sampai abad 19 M, yaitu setidaknya di antara abad 6 -- 5 sM sampai akhir abad 19 M, bahasa Ibrani tidak menjadi bahasa umum yang populer dipergunakan dalam percakapan, tetapi digunakan kalangan terbatas, terutama sebagai bahasa tulis dalam salin-menyalin kitab-kitab suci di kalangan para imam agama Yahudi, bahkan terbukti di sinagoga-sinagoga pada masa Yesus hidup, kitab suci yang dipergunakan dalam ibadat orang Yahudi umumnya adalah salinan Septuaginta dalam bahasa Yunani. Dan, sekalipun pada masa bahasa Ibrani, para Rabi (Abad 6 M) bahasa Ibrani sudah mengalami perkembangan dengan ditambahnya tanda baca/vokal, bahasa Ibrani belum menjadi bahasa percakapan umum, bahkan masa itu mulai dipengaruhi oleh bahasa Arab dengan adanya pendudukan tanah Palestina oleh bangsa-bangsa Arab/Turki yang beragama Islam sampai penyerahan ke Pemerintah Inggris/Liga Bangsa-Bangsa pada tahun 1917.

Secara resmi, Ibrani sebagai bahasa percakapan umum baru dipopulerkan setelah bahasa Ibrani Modern bangkit sejak abad 19, sejalan dengan bangkitnya nasionalisme Yahudi.

"Bahasa ibu orang Yahudi Palestina pada waktu itu adalah Aram. Sekalipun para Rabi dan Ahli Kitab masih menggunakan bahasa Ibrani klasik Perjanjian Lama, untuk mayoritas umat, ini adalah bahasa mati. Barangkali karena rasa bangga yang salah, dan kemungkinan besar karena tidak dapat membedakan ketepatan ilmiah, bahasa Aram secara populer disebut sebagai bahasa "Ibrani". Bahasa percakapan umum semitik orang Yahudi Palestina pada zaman Yesus adalah Aram. (Bruce M. Metzger, "The Language of the New Testament", dalam The Interpreters Bible, vol. 7, hlm. 43.)


2. Bahasa Kitab Suci Abad Pertama

Menarik sekali bahwa bahasa Kitab Suci, baik Perjanjian Lama (Tenakh) maupun Perjanjian Baru, yang digunakan secara luas di sekeliling timur tengah sekitar masa Perjanjian Baru bukan ditulis dalam bahasa Ibrani, melainkan bahasa Yunani.

Sejak abad 3 -- 2 sM, karena sudah tidak banyak orang Yahudi yang bisa berbahasa Ibrani, Alkitab Perjanjian Lama (Tenakh dalam bahasa Ibrani) diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani dan disebut Septuaginta (LXX), LXX banyak digunakan oleh penulis Perjanjian Baru, dan Alkitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani (koine).

Dengan adanya fakta-fakta di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa bahasa sehari-hari yang digunakan rakyat umum adalah bahasa Aram, sedangkan untuk bahasa regional digunakan bahasa tulisan dan lisan Yunani. Bahasa Ibrani hanya digunakan di kalangan para imam Yahudi di lingkungan Bait Allah dalam salin-menyalin Alkitab Ibrani.

Diambil dan disunting dari:

Nama situs : Yabina
Alamat URL : http://www.yabina.org/artikel/2012/A%2715_12.htm
Judul asli artikel : Bahasa Masa Perjanjian Baru
Penulis artikel : Tidak dicantumkan
Tanggal akses : 8 Januari 2015