Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Apa Yang Dimaksud Dengan "Jendela 10/40"?

Apa Yang Dimaksud Dengan "Jendela 10/40"?


By admin - Posted on 15 May 2013

Pusat dari suku-suku terabaikan dunia hidup di sebuah jendela berbentuk segi empat. Kawasan itu adalah sebuah sabuk yang terbentang dari Afrika Barat sampai Asia, berada di antara 10 sampai 40 derajat Lintang Utara garis Khatulistiwa. Jika kita bersungguh-sungguh menyediakan kesempatan bagi setiap orang dan kota untuk mengalami kasih, kebenaran, dan kuasa keselamatan Yesus Kristus, kita tidak dapat mengabaikan kenyataan bahwa kita harus berpusat pada bagian bumi ini, yang kita sebut Jendela 10/40.

Mengapa orang Kristen yang bertanggung jawab perlu berpusat pada Jendela 10/40? Pertama, karena terdapat makna historis dan alkitabiah di dunia bagian ini. Di Jendela 10/40 inilah, kita mengalami perjumpaan dengan catatan mengenai Adam dan Hawa. Rencana Allah bagi manusia yang dinyatakan dalam Kejadian 1:26 berkaitan dengan hal memerintah. Manusia dimaksudkan untuk "memelihara" atau menjaga Taman Eden milik Allah dan menaklukkan bumi.

Dalam Kitab Kejadian, kita membaca catatan sejarah kejatuhan manusia saat Adam dan Hawa gagal menjaga taman milik Allah dan kehilangan hak untuk menguasai bumi. Setelah itu, datanglah air bah serta pembangunan menara Babel, keduanya terjadi di Jendela 10/40. Usaha untuk mencoba menyatukan seluruh manusia dengan menantang Allah mengakibatkan munculnya bahasa-bahasa yang berlainan, terseraknya suku-suku bangsa, dan terbentuknya bangsa-bangsa.

Sejarah kuno terjadi di sebuah wilayah yang ditandai dalam Jendela 10/40, mulai dari kelahiran peradaban di Mesopotamia melintasi wilayah Bulan Sabit Subur sampai ke Mesir. Kerajaan-kerajaan kuno datang dan pergi. Nasib umat Allah, Israel, naik-turun bergantung pada ketaatan mereka terhadap perjanjian dengan Allah mereka. Di wilayah ini, Kristus lahir, menjalani kehidupan-Nya, mati di atas kayu salib, dan bangkit dari kematian.

Peristiwa sejarah yang berkaitan dengan karya ilahi tidak terjadi di luar wilayah Jendela 10/40 sampai perjalanan misi Rasul Paulus yang kedua dan catatan-catatan terakhir dalam Alkitab. Kenyataannya, begitu banyak peristiwa, yang di dalamnya Allah berurusan dengan manusia, terjadi di bagian bumi yang berada di dalam Jendela 10/40. Karena itu, semua hal yang telah disebutkan di atas merupakan alasan yang kuat untuk memusatkan perhatian pada kawasan itu.

Kedua, di sinilah terdapat sepertiga dari total daratan bumi dan duapertiga dari total jumlah manusia di bumi tinggal di sini. Orang-orang ini tinggal di 64 negara, di negara-negara berdaulat maupun negara-negara dependensi. Hanya negara-negara yang memiliki sebagian besar wilayah yang berada dalam lingkup 10 sampai 40 derajat Lintang Utara Khatulistiwa saja yang masuk ke dalam kategori negara-negara Jendela 10/40.

Apabila 55 negara yang paling tidak terjangkau Injil dibandingkan dengan negara-negara di Jendela 10/40, kita dapat menemukan kecocokan yang sangat dekat. Faktanya, 97 persen dari tiga miliar manusia yang hidup di 55 negara yang paling tidak terjangkau oleh Injil tinggal di dalam Jendela 10/40. Hal inilah yang memunculkan dasar dari tantangan dalam menjangkau mereka yang belum terjangkau.

Kita perlu memikirkan misi Kristus yang datang untuk mencari yang terhilang, seperti yang diajarkan dalam perumpamaan tentang domba yang hilang maupun dirham yang hilang. Kristus memberikan usaha terbesar dalam menyembuhkan, memulihkan, dan menyelamatkan satu orang sekalipun. Saat kita memikirkan orang-orang yang tinggal di Jendela 10/40, kita harus memikirkan amanat Kristus untuk mengabarkan Injil kepada segala makhluk, untuk menjadikan segala bangsa murid-Nya, dan menjadi saksi-Nya sampai ke ujung-ujung bumi.

Ketiga, kawasan itu merupakan pusat dari agama Islam. Afrika Utara dan Timur Tengah mewakili pusat dari agama Islam. Pengikut agama Islam semakin meningkat seperti yang ditunjukkan oleh bertambahnya jumlah perjalanan ziarah ke Mekkah. Namun, di saat yang sama, dilaporkan bahwa banyak orang Muslim -- yang mempelajari Alquran secara mendalam -- di dalam prosesnya menemukan bahwa nabi tertinggi yang disebutkan oleh Al-Quran adalah Yesus Kristus, bukan Muhammad. Kita harus berdoa supaya "mata" dan "hati" orang-orang Muslim akan dibukakan kepada kebenaran, sama seperti Eropa Timur yang menemukan bahwa keindahan ideologi Komunisme tidak dapat bertahan terhadap ujian waktu.

Keempat, di wilayah itu terdapat blok Muslim dengan pengikut sebanyak 706 ribu orang atau sebesar 22 persen dari 3,14 miliar populasi yang hidup di Jendela 10/40. Di sana juga terdapat blok Hindu dengan 717 ribu penganut atau sebesar 23 persen dari penghuni Jendela 10/40. Dan, terdapat pula Blok Buddha dengan pengikut sebesar 153 ribu orang atau mendekati 5 persen.

Pada 6 Mei 1990, harian Jordan Times di Amman menerbitkan sebuah laporan yang ditulis oleh Algiers dengan judul "Collapse of Communism Will Weaken Islam." Dalam sebuah konferensi mengenai masa depan Islam, seorang penulis dari Mesir bernama Fahmi Howeidi berargumen bahwa "Dunia Islam terpinggirkan di sebuah peta yang berbeda dari peta dunia." Howeidi adalah salah seorang di antara 40 sarjana dan pemimpin politik dari sepuluh negara Arab yang menghadiri konferensi tersebut. Ia berkata, "Kekristenan telah beregenerasi di Eropa Timur .... Perubahan di Eropa Timur menunjukkan bahwa masyarakat yang liberal ... yang berlandaskan agama Kristen dan memiliki nilai-nilai kapitalis, telah mempengaruhi dunia. Islam harus muncul dengan sebuah alternatif yang dapat menggantinya."

Kelima, faktanya, lebih dari delapan di antara sepuluh orang termiskin dari yang miskin, dan yang memiliki Pendapatan Nasional Bruto di bawah US$ 500 per orang per tahun, hidup di Jendela 10/40. Meski demikian, hanya 8 persen dari seluruh misionaris di dunia bekerja di antara orang-orang ini.

Di dalam bukunya yang berjudul "Target Earth", Bryant L. Myers dari World Vision dan MARC menulis sebuh artikel yang berjudul "Where are the Poor and Lost?" Myers memberi suatu masukan bahwa orang-orang miskin adalah mereka yang terhilang, dan orang-orang yang terhilang kondisinya miskin. Ia sampai kepada kesimpulan itu setelah mengamati bahwa mayoritas orang-orang yang tak terjangkau Injil tinggal di negara-negara paling miskin di dunia.

Sebagaimana orang-orang Kristen berkumpul dari 170 negara di Lausanne II di Manila, terdapat pula ungkapan hati yang dinyatakan bagi mereka yang miskin secara materi di seluruh dunia, dalam bagian kedua "Manila Manifesto". Dokumen itu berbunyi, "Sekali lagi, kami dihadapkan pada penekanan Lukas bahwa Injil adalah Kabar Baik bagi orang-orang miskin (Lukas 4:18; 6:20; 7:22) dan kami telah bertanya kepada diri kami sendiri apakah artinya bagi mayoritas populasi dunia yang miskin, menderita, dan tertindas. Kami telah diingatkan bahwa Hukum Taurat, para nabi, Alkitab serta pengajaran dan pelayanan Yesus, semuanya itu menekankan perhatian Allah pada orang-orang yang miskin secara materi dan tanggung jawab kita dalam melindungi dan memelihara mereka."

Terdapat suatu kecocokan yang patut diperhatikan antara lima puluh negara termiskin di dunia dengan negara-negara yang paling tidak terjangkau Injil di dunia. Kenyataannya, 79 persen orang-orang paling miskin tinggal di negara-negara yang paling tidak terjangkau oleh Injil, dan apabila Anda menghubungkan mereka dengan Jendela 10/40, maka Anda akan menemukan bahwa 99 persen orang-orang miskin dan tidak terjangkau oleh Injil -- 2,3 Miliar orang -- tinggal di Jendela 10/40. Hanya 6 persen dari tenaga misionaris yang sekarang ini bekerja di antara 44 persen populasi ini. Hal inilah yang secara pasti mengangkat tantangan terbesar dalam dekade ini bagi orang-orang Kristen yang bertanggung jawab.

Keenam, untuk berpusat pada Jendela 10/40 berkaitan dengan kualitas hidup. Salah satu cara untuk mengukur kualitas hidup adalah dengan menggabungkan tiga variabel: harapan hidup, jumlah kematian bayi, dan melek huruf. Lebih dari 8 di antara 10 orang yang tinggal di 50 negara di dunia dengan kualitas hidup terendah juga hidup di Jendela 10/40, jumlah ini mewakili 74 persen dari seluruh populasi, namun hanya 8 persen dari misionaris luar negeri yang melayani di antara orang-orang ini. Lebih dari 9 di antara 10 orang-orang ini tinggal di negara-negara Hindu atau negara-negara Muslim.

Pemazmur menulis, "Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN." (Mazmur 33:12) Dengan membandingkan hubungan antara kualitas hidup negara-negara di Jendela 10/40 dengan negara-negara yang memiliki persentase orang Kristen yang lebih tinggi, jelaslah bahwa Tuhan Allah memberkati negara yang berbalik kepada-Nya. Selanjutnya, Ia mengharapkan agar negara yang sudah diberkati menjadi berkat bagi bangsa-bangsa yang lain, seperti yang tertulis dalam Mazmur 67:1-2, "Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya, supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa."

Benteng Pertahanan Iblis

Mengapa orang Kristen yang bertanggung jawab perlu berpusat pada Jendela 10/40? Sebab, wilayah itu merupakan benteng pertahanan Iblis. Orang-orang yang tinggal di Jendela 10/40 tidak hanya menderita akibat kelaparan dan rendahnya kualitas hidup dibandingkan dengan seluruh umat manusia, tetapi juga dijauhkan dari kuasa Injil yang mengubahkan, yang memberi hidup, dan yang sanggup mengubah masyarakat mereka.

Alkitab dengan jelas menunjukkan hal itu dari tulisan Rasul Paulus bahwa, "... orang-orang yang tidak percaya ... pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah (2 Korintus 4:4)."

Dalam surat yang sama, sang rasul menuliskan dalam pasal 10:3-4, "Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng." Nyatalah dari pengamatan yang cermat terhadap Jendela 10/40 bahwa Iblis telah mendirikan benteng teritorial dengan kuasanya untuk mencegah gerak laju pekabaran Injil di wilayah itu.

Kita perlu meningkatkan usaha penginjilan kita dalam dekade ini demi menjangkau mereka yang berada di Jendela 10/40. Bila kita ingin setia terhadap Alkitab dan taat terhadap mandat Kristus, jika kita ingin melihat perintisan gereja yang berlandaskan semangat misi di antara orang-orang dan kota-kota yang belum terjangkau menjelang tahun 2000, jika kita berusaha memberi kesempatan yang nyata untuk mengalami kasih, kebenaran, dan kuasa penyelamatan Yesus Kristus, maka kita harus menyentuh dasar dari mereka yang belum terjangkau -- Jendela 10/40. (t/Yudo)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : Praying Through 100 Gateway Cities of the 10/40 Window
Judul asli artikel : What is the 10/40 Window?
Penulis : Luis Bush
Penerbit : YWAM Publishing
Halaman : 11 -- 15