Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Allah Dalam "Saudara Sepupu" dan Inkarnasi Tuhan Dalam Yesus Kristus 2

Allah Dalam "Saudara Sepupu" dan Inkarnasi Tuhan Dalam Yesus Kristus 2


Kristologi berbasis Kitab Suci "saudara sepupu" menunjukkan bahwa ide-ide dari sebuah perselisihan doktrinal atas keadaan diri Kristus, yang timbul antara abad ke-3 dan ke-6 dalam gereja-gereja di daerah Mediterania, telah tersebar sampai ke Mekah. Orang-orang Yahudi mungkin juga telah memengaruhi "nabi sepupu" dengan penolakan terhadap status anak Ilahi Yesus. Karenanya, "nabi sepupu" menolak keberadaan Yesus yang surgawi dengan sebuah pemotongan tajam. Dalam Surah 112, kita menemukan inti "agama sepupu" dalam perintah untuk pengakuan "saudara sepupu", "Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan". Frasa ini ditekankan kepada setiap "saudara sepupu" sejak masa kanak-kanak -- Tuhan bukanlah seorang Bapa dan tidak pernah memiliki seorang putra. Dalam Surah 9:29,30, "nabi sepupu" memberikan sebuah argumen yang lebih radikal pada tema ini. Dia memastikan: "Orang Kristen berkata, 'Mesias adalah Putra Allah.' Inilah ucapan dari mulut mereka, sesuai dengan orang-orang yang tidak percaya sebelum mereka. Allah membunuh mereka! Betapa murtadnya mereka!'" Dengan kata-kata kutuk ini "nabi sepupu" menegaskan bahwa siapa pun yang percaya bahwa Tuhan adalah seorang Bapa dan Kristus adalah anak-Nya, haruslah dihancurkan oleh Allah. Siapa yang dapat menyangkal bahwa ini adalah sebuah manifestasi roh anti-Kristen? Dalam "agama sepupu", sebuah perwujudan nyata Tuhan dalam Kristus tidak terpikirkan. Dalam 1 Yohanes 2:22-23; 4:2-3, tanda-tanda antikristus dibuat jelas: "Inilah antikristus yang menyangkal Bapa dan Anak. Siapa pun yang menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa ... Setiap roh yang tidak mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang dalam rupa manusia bukanlah Roh Tuhan, dan inilah roh Antikristus."

Pada awal 1984, Gaddafi menerbitkan sebuah surat terbuka kepada para pemimpin di dunia Kristen, di mana dia merangkum pemikiran-pemikiran "agama sepupu" dalam sebuah koran harian India. Kami telah mencetak ulang surat ini dalam Bahasa Inggris yang ada dalam lampiran. Surat ini merupakan ekspresi umum seluruh kristologi "agama sepupu".

"Nabi sepupu" menganalisis pribadi Yesus. Dia memercayai mukjizat-mukjizat-Nya yang ajaib. Kitab Suci "saudara sepupu" mengatakan bahwa Yesus mencelikkan mata yang buta, menyembuhkan mereka yang menderita kusta, dan membangkitkan orang mati. "Nabi sepupu" mewartakan bahwa Yesus membentuk burung-burung dari tanah liat, memberikan napas kepada mereka, dan mereka semua terbang. Selain itu, Dia membebaskan murid-murid-Nya dari kewajiban mematuhi beberapa hukum yang rumit dan memberikan perintah-perintah baru. "Nabi sepupu" melihat bahwa dalam berbagai tindakan dan perkataan Kristus ini, tidak ada tanda otoritas dan kuasa ilahi-Nya, namun lebih merujuk pada kelemahan-Nya. "Nabi sepupu" berulang kali mengatakan bahwa Allah menguatkan Kristus melalui Roh Kekudusan, sehingga Dia dapat mengadakan mukjizat-mukjizat tersebut (Surah 2:87,253; 5:110). Di mata "nabi sepupu", Yesus merupakan sebuah instrumen dalam tangan Allah, yang menjadi sarana menyingkapkan kebesaran-Nya. "Nabi sepupu" tidak memahami kelemahlembutan Kristus ketika Dia mengatakan, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak." Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai seseorang yang lembut dan rendah hati. Semangat seperti itu merupakan hal yang asing bagi "agama sepupu". Salah satu dari 99 nama-nama indah Allah adalah "Yang Mahamegah." Karenanya, "nabi sepupu" melihat kerendahan hati Yesus sebagai sebuah tanda kelemahan dan ketidakmampuan, dia tidak mengakui sumber kuasa dan otoritas-Nya.

Semangat pemberontakan "agama sepupu" melawan Tuhan dan Kristus terungkap melalui dirinya sendiri, pada akhirnya dalam penyangkalan akan penyaliban Yesus. Dalam Surah 4:157 dikatakan, "Kami (orang Yahudi) membunuh Mesias, Yesus, Putra Maryam, utusan Tuhan -- namun mereka tidak membunuh-Nya, atau menyalibkan-Nya, hanya seseorang yang menyerupai Dia yang ditunjukkan kepada mereka."

"Nabi sepupu" hidup di Mekah dengan mengalami banyak kesulitan besar, dikejar-kejar oleh para saudagar dari kota ini. Sulit baginya untuk menerima bahwa mereka menghina misinya. Ancaman-ancaman mereka begitu jelas untuknya: "Seperti orang Yahudi membunuh Kristus, putra Maryam, Utusan Allah, mungkin juga mereka membunuhmu juga, pengacau dan penipu, jika kamu tidak berhenti menyebarkan "agama sepupu"". Allah tidak menyelamatkan Yesus dari tangan orang Yahudi dan Dia tidak akan menyelamatkanmu dari kami juga." Namun "nabi sepupu" memercayai kemahahadiran Allah. Sulit dibayangkan baginya bahwa Tuhan yang agung akan mengizinkan pelayan-Nya yang teraniaya binasa. Karenanya, "nabi sepupu" menolak dan menyangkal penderitaan melalui kayu salib dan berkata, "Tidak mungkin! Allah itu setia. Dia pasti menyelamatkan Kristus yang setia, bahkan jika tampaknya Dia telah disalibkan bagi kerumunan orang yang kebingungan. Tidaklah benar bahwa Dia benar-benar mati di kayu salib, namun diangkat hidup-hidup oleh Tuhan."

Ketakutan dan kekecewaan mungkin telah menyebabkan "nabi sepupu" menolak penyaliban Yesus. Ia ingin mengaburkan salib dan menghilangkannya dari muka bumi. Dia tidak langsung menyangkal karya penebusan Kristus, tidak juga membenarkannya karena anugerah atau kelahiran baru melalui Roh Kudus, namun dia membatalkan persyaratan mendasar dari pokok iman yang kedua dan ketiga untuk para pengikutnya. Dalam "agama sepupu", tidak ada tempat untuk salib Kristus dan buah-buah roh-Nya. Semangat anti-Kristen pada "nabi sepupu" menolak inti terpenting Kabar Baik. Yang membingungkan, dia bersaksi dalam "Kitab Suci sepupu" tentang banyak mukjizat, doa-doa, dan nama-nama Kristus. Dia juga menegaskan kenaikan Yesus dan keberadaan-Nya saat ini di sebelah kanan Tuhan. Namun, dia menolak inkarnasi ilahi Yesus, syarat yang sangat diperlukan untuk penebusan kematian Kristus di kayu salib, dan mencoba menghapus masa-masa pendamaian dunia dengan Tuhan dari sejarah umat manusia.

Penolakan terhadap kematian Kristus bagi semua manusia adalah sebuah konsekuensi logis dalam "agama sepupu". Allah tidak memerlukan seorang pengantara atau pengganti untuk manusia. Kemungkinan korban darah di Perjanjian Lama yang meramalkan kematian Kristus demi penebusan tidak dimungkinkan dalam "agama sepupu". Allah berdaulat. Dia mengampuni kapan pun Dia mau, siapa pun, dan di mana pun. Dia tidak memerlukan seekor domba "penebusan". Keberadaan seorang pengantara dan penebus akan mengurangi kemegahan Allah di mata seorang "saudara sepupu". Hanya Allah sendiri yang besar.

Karenanya, dalam "agama sepupu", tidak ada tempat untuk domba Tuhan yang menanggung dosa dunia. Akibatnya adalah "saudara sepupu" tidak pernah yakin akan pengampunan dosa-dosa mereka. Mereka dapat membaca dalam "Kitab Suci sepupu" sebanyak 111 kali bahwa Allah adalah seorang yang pemaaf, murah hati, dan mengampuni, serta menerima para petobat. Namun, Allah yang adil ini tidak memberikan tanda yang jelas bagi "saudara sepupu", apakah pengampunan dosanya sah atau tidak untuknya. Ketika "saudara sepupu" ditanya apakah dia sungguh-sungguh telah memiliki pengampunan atas dosa-dosanya, dia hanya dapat menjawab, "Jika Allah menghendaki!" Namun, kehendak Allah hanya akan terlihat pada Hari Penghakiman.

Pemahaman ini sekali lagi menunjukkan bahwa tidak ada seorang "saudara sepupu" pun yang memiliki kepastian akan pengampunan atas dosa-dosa di dalam hatinya. Dia hidup tanpa penebusan dan menanggung beban hati nurani yang terus mendakwa. "Allah tidak mencintai para pendosa" tertulis sebanyak 24 kali dalam "Kitab Suci sepupu": Dia hanya mencintai mereka yang takut akan Dia. Siapakah yang dapat hidup begitu taat sehingga ia tidak dapat lagi dianggap berdosa? Sebaliknya, Kabar Baik menyatakan, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16) Kristus telah datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang terhilang. Gembala yang Baik memilih meninggalkan 99 orang benar yang tidak memerlukan pertobatan dan mencari seorang yang terhilang, yang sedang mencari pembenaran, sampai Gembala itu menemukan dia (Lukas 15:2-7). Pengampunan Tuhan dalam Kabar Baik berlaku untuk setiap pendosa; pengampunan Allah dalam "agama sepupu" hanya berlaku untuk penyembah-Nya yang sejati -- bahkan ini pun belum pasti juga. "Saudara sepupu" tidak mengenal kepastian yang menghibur bahwa dosa-dosa mereka diampuni karena mereka menolak Dia yang tersalib, yang merupakan satu-satunya jalan bagi kita untuk menerima anugerah dan damai dari Tuhan.

ALLAH -- BUKAN ROH KUDUS

Dua kali dalam Kitab Suci "saudara sepupu" Allah dirujuk sebagai "Yang Kudus". Arti nama ini dalam "agama sepupu" tidak jelas. Mungkin saja nama ini diambil dari Yudaisme untuk menandakan keagungan dan kemuliaan Allah.

Kata bahasa Arab untuk "roh" terikat erat dengan arti dari "angin". Seperti angin yang datang dan pergi ke mana pun dia mau dan tidak bisa dilihat, demikian juga roh tak terpahami. Dalam "agama sepupu", "Roh Kudus" dipahami sebagai suatu roh ciptaan yang setara dengan para malaikat dan setan, yang semuanya diciptakan Allah dari ketiadaan. "Kitab Suci sepupu" tidak mengenal suatu pewahyuan bahwa "Allah adalah Roh" atau "Roh Allah". Tidak seorang pun dapat memahami apa dan siapakah Allah yang sebenarnya. Dalam "agama sepupu", "Roh Kudus" dipahami sebagai Malaikat Gabriel yang diutus oleh Allah pada Zakaria, Maria, dan "nabi sepupu" untuk menyampaikan pesan-pesan khusus pada mereka (Surah 19:17).

Perjanjian Baru menyingkapkan untuk kita bahwa kesalehan mendalam di "agama sepupu", yang terwujud dalam doa-doa, puasa, dan penziarahan, amat jauh berbeda dari pengudusan karena kelahiran baru. Perkataan Yesus menyerupai sebilah pedang yang memisahkan kesalehan palsu dari realitas penebusan. Hanya "barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya" (Yohanes 3:36).

"Saudara sepupu" mendapatkan gambaran sekilas akan kuasa Roh Kudus dalam hubungan-Nya dengan mukjizat-mukjizat Kristus, namun kuasa dan anugerah-Nya masih tersembunyi untuk mereka. Dalam kebudayaan "agama sepupu", tidak dijumpai buah Roh Kudus. Buah kedagingan memerintah di sana (Galatia 5:19-26). Kita mengakui bahwa keramahan Arab mempermalukan orang-orang Barat. Kesopanan, kepekaan, sopan santun yang halus mereka sangatlah menarik bagi setiap pendatang. Siapa pun yang tinggal di Timur Tengah untuk waktu yang lama, tahu bahwa kebaikan-kebaikan ini sering ditampilkan secara tidak sadar untuk membangun penghargaan atas klan mereka sendiri, atau dipengaruhi oleh sebuah usaha untuk mendapat pembenaran karena perbuatan.

"Agama sepupu" adalah sebuah agama yang dapat menimbulkan sebuah kehidupan yang seluruhnya dikontrol dan dicontohkan oleh religi pengikutnya. Namun, setiap esensi dan karakter individu tidak membarui. Setelah ketaatannya kepada Allah, "saudara sepupu" secara umum dapat menjadi sama dengan sebelumnya. Jika dia telah menikahi banyak perempuan, perpindahannya ke "agama sepupu" bukanlah masalah karena dalam "agama sepupu" poligami dilegalkan oleh Allah. "Agama sepupu" adalah agama yang menyenangkan untuk para laki-laki.

Juga, jika pencurian dan tindak kriminal jarang terjadi di "negara-negara sepupu" daripada di negara-negara barat, hal itu bukanlah karena kepribadian "saudara sepupu" yang lebih baik, namun karena ketakutan mendalam akan hukuman yang mengerikan.

Persembahan Kristus untuk menggantikan mereka yang tidak berharga tidak terlalu menarik untuk orang dalam kebudayaan "agama sepupu". Alih-alih, kemuliaan dan kedaulatan Allah telah menjadi prinsip panduan. Sang diktator yang baik hati menghadiahi para penyembahnya jika dia ingin. Pemikiran akan imbalan amal, bukan ketaatan yang berasal dari rasa syukur, mencirikan kehidupan "agama sepupu" setiap harinya. Kemegahan kekuasaan, kemegahan anak raja, dan kekayaan yang mendarahdaging adalah prinsip-prinsip yang dihasilkan oleh contoh dari Allah. Kristus, sebaliknya, telah mendorong para pengikut-Nya untuk menjadi rendah hati, taat, miskin, menyangkal diri, dan memikul salib. "Agama sepupu" menghasilkan tuan yang megah dan ingin disanjung, sementara Kristus membentuk para pelayan yang rendah hati dan rajin.

"Nabi sepupu" secara pribadi pernah bertemu dengan orang-orang Kristen, karenanya dia menulis, "Kamu pasti akan menemukan orang terdekat mereka yang mencintai orang yang beriman ("saudara sepupu") yaitu orang-orang yang berkata 'kami adalah orang Nasrani'; hal ini disebabkan karena beberapa di antara mereka adalah pendeta dan biarawan, dan karenanya mereka tidak menjadi sombong." (Surah 5:82) Inilah sebuah kesaksian dari "nabi sepupu" tentang Kristus yang hidup dalam orang-orang percaya di Arab pada waktu itu. "Nabi sepupu" telah melihat kerohanian "tubuh Kristus" dan bersaksi tentang keberadaan-Nya, namun tidak memahami semangat Yesus. Orang-orang Kristen bersaksi kepadanya bahwa mereka adalah anak-anak Tuhan dan orang yang dikasihi-Nya, namun "nabi sepupu" dengan tegas menolak pernyataan ini dan mempertanyakan keberadaan dan keistimewaan kerohanian mereka ketika dia menjawab sebagai balasannya, "Lalu mengapa Dia menghukum kamu karena dosa-dosamu? Tidak, kamu semua adalah ciptaan-Nya yang fana; Dia mengampunimu seturut dengan kehendak-Nya, dan Dia menghukum siapa pun yang Dia mau. Kamu bukanlah apa-apa kecuali budak-budak yang diciptakan untuk memuja-Nya." (Surah 5:18)

Semangat "agama sepupu" bertentangan dengan semangat Yesus Kristus dalam hidup dan pengajaran. "Saudara sepupu" tidak menganggap dirinya sebagai anak-anak Tuhan dan tidak menerima anugerah yang diberikan oleh Tuhan yang Tritunggal kepada anggota jemaat gereja Perjanjian Baru. "Agama sepupu", melalui "Kitab Suci sepupu", menolak dogma-dogma dan liturgi Kristen, faktor-faktor yang merupakan kandungan penting pesan-pesan kekristenan. Siapa pun yang berhubungan dengan "agama sepupu", baik melalui kegiatan pelayanan ataupun melalui sebuah hukum dan teologi "agama sepupu", dipaksa untuk mengakui agama ini sebagai sebuah kekuatan anti-Alkitab dan anti-Kristen. "Saudara sepupu" diimunisasi untuk menentang penyelamatan oleh Kristus. Surah 112 yang baru saja dikutip adalah sebuah himpunan pemberontakan mereka melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya:

Allah tidak beranak = Allah bukanlah Bapa.
dan tidak diperanakkan = dan bukan Putra.
dan tiada yang seperti dia = dan bukanlah Roh Kudus.

"Saudara sepupu" sejati mengetahui Surah ini dengan sepenuh hati dan mendoakannya berulang-ulang dalam keheningan selama sembahyang lima waktu. Dia membawa kata-kata ini dengan gigih, seperti sebuah kuk dalam ketidaksadarannya, dan mengeluarkan dirinya sendiri dari penebusan Yesus Kristus melalui pengakuan ini.

Sulit bagi kita untuk memahaminya, walau terdapat kesalehan seperti itu, "agama sepupu" bukanlah jalan menuju keselamatan, namun sebuah jalan yang langsung mengarah ke neraka. Pengerasan hati setiap hari dari 900 juta "saudara sepupu" seharusnya menggoncang orang-orang Kristen dan memacu mereka untuk berdoa. Terutama ketika kita mengetahui bahwa di bawah selubung ketaatan "agama sepupu" tersembunyi sebuah ikatan rohani dan sebuah obsesi kolektif, yang selama lebih dari 1.300 tahun telah menentang hampir semua upaya orang Kristen dalam misi. Di "dunia sepupu, penolakan akan Tritunggal yang kudus digemakan berulang-ulang ribuan kali setiap hari dan menara-menara "ibadah sepupu" menciptakan gema yang terus berlanjut dari litani "agama sepupu": "Tiada Tuhan selain Allah, ...." (t\Rento)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : Islam Under The Magnifying Glass
Judul asli bab : Allah In Islam And The Incarnation Of God In Jesus Christ
Penulis : Abd Al Masih
Penerbit : Light of Life, Villach, Austria
Halaman : 24 -- 34

e-JEMMi 29/2012