Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereAfrika

Afrika


Guinea-Bissau

Guinea-Bissau (1,7 juta), Ibu kota Bissau (0,4 juta), agama Islam 48%, Animis 42%, Katolik 7%, Kristen 2,5%. Orang Kristen gembira, bahwa secara politik di negara ini tidak ada kerusuhan, presiden baru sudah dilantik, berharap ia akan berusaha untuk memajukan negara yang cukup tertinggal dari segi pembangunan. Bapak Pdt. Titus Dima (WEC), tetap mengajar setiap hari di Youth Center untuk menyiapkan anak muda buat masa depannya. Ada tiga orang dari Amerika, Jerman, dan Selandia Baru yang akan membantu beliau selama sebelas bulan. Doakan agar mereka dapat menyesuaikan diri dengan situasi setempat dan iklim. Akhir Desember ada kamp muda/i, doakan semua persiapannya. Ibu Ritha M. (WEC), sedang belajar bahasa Pulaar, bahasa orang Fulakunda. Satu keluarga sebagai rekan sepelayanan juga belajar bahasa Pulaar. Mereka memerlukan hikmat untuk menentukan strategi menjangkau orang Fulakunda. Ibu Salomi T. (WEC), berbeban melayani di antara orang Susu dan Nalu. Selama enam bulan ia membantu di pusat di kota Bissau sebagai bendahara dan mengurus tamu.

Liberia

Liberia, (3,5 juta), Ibukota Monrovia (0,6 juta). Agama: Animis 48%, Kristen 34%, Katolik 4%, Islam 13%. Sesudah perang saudara, negara ini dapat membangun kembali. Orang Bassa kembali ke desa-desa mereka dan membangun rumah dan gedung-gedung gereja. Meskipun musuh sudah menghancurkan semua gedung gereja, tetapi jemaat Kristus tidak mati, karena orang Bassa tetap percaya akan Kristus.

Ghana

Ghana (17,5 juta), agama Kristen 27,9%, Katolik 18,7%, Islam 16%, Animis 20%, bidat 17,4%. Di bagian Utara ada satu pusat pelatihan untuk pelayanan di antara orang Islam. Di daerah itu sudah dirintis 40 jemaat dan 40 pos PI di antara suku-suku Dagombas dan Konkombas (5 juta). Dalam bahasa lokal Dagbani diadakan pelajaran teologia jarak jauh. Orang Kristen di situ bersemangat ber-PI.

Kongo

Kongo (52 juta), Ibukota Kinshasa (5 juta), agama: Katolik 42%, Kristen 25%, bidat 15%, Islam 2%. Ada 450 suku bangsa. Bahasa-bahasa utama: Perancis, Kikongo (kira-kira 30% dari penduduk mengerti), Lingala (kira-kira 50% dari penduduk mengerti), Suahili (kira-kira 10% dari penduduk mengerti) dan Tsiluba. Di gereja-gereja di bagian Timur sering bahasa Bangala dipakai. Akibat perang saudara negara jatuh keterbelakang. Sejak tahun 1989 sudah 5,4 juta orang mati karena perang, 2,1 juta orang menjadi pengungsi di negara sendiri, 370.000 orang mengungsi ke negara lain. Negara ini kaya sumber alam, seperti biji bauksit, timah hitam, intan, biji besi, emas, kayu, logam kadmium, gas bumi, tetapi karena pemerintahan kurang tegas, hampir semua sumber alam digali tanpa izin dan dikirim ke negara-negara lain. Pemerintahan tidak memiliki kuasa untuk menghindari hal ini.

Somalia

Somalia (8,3 juta), Ibukota Mogadishu (1,2 juta), agama Islam. Tembak-menembak di antara suku dan gerombolan pemberontak makin jadi dan banyak orang jatuh korban. Sudah 1,3 juta orang menjadi pengungsi dalam negara sendiri. Menjadi seorang percaya akan Kristus sangat berbahaya, lewat radio ada beberapa petobat. Jemaat-jemaat kecil hidup sendirian dan tidak mendapat pengajaran firman Tuhan karena masalah keamanan. Berdoalah agar Tuhan memakai siaran radio Kristen untuk melayani mereka. Mereka memerlukan ketabahan karena berulang kali orang Kristen dibunuh. Satu organisasi Kristen di luar mencoba menolong orang Kristen lewat hubungan rahasia.

Afrika Selatan

Afrika Selatan (47 juta), kota besar: Pretoria (2 juta), Cape Town (2,9 juta). Bapak Nim dan Ibu Nur sekeluarga melayani di antara kelompok target. Ibu Nur tetap mengunjungi orang target di RS. Doakan anak-anak mereka, yaitu Stevi, Sony, dan Rebecca. Doakan semua persiapan cuti mulai pada 24 November. Ada satu tim di Afrika Selatan yang menyiapkan diri untuk memberitakan Injil di antara pemain dan penonton kejuruan dunia sepak bola 2010. Nim anggota tim ini.

Eritrea

Eritrea (4,9 juta), agama: Islam 51%, Ortodoks 40%, Katolik 4,6%, Kristen 1,5% (Injili 20.000 orang), Animis. Jangan berhenti berseru, karena sekitar 2.000 tahanan Kristen yang tetap menderita, hanya karena mereka berbakti dan berdoa bersama. Semua pendeta senior dan anyak orang Kristen sudah ditahan. Mereka tidak pernah dibawa ke pengadilan, hanya ditahan saja di bawah tekanan dan siksaan berat. Bulan Agustus 2009 ada tiga orang yang meninggal di dalam penjara, karena siksaan tubuh, lemah, Malaria dan tidak mendapat pengobatan apapun.