Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are here 8 CIRI GEREJA TUHAN YESUS DI AKHIR ZAMAN

8 CIRI GEREJA TUHAN YESUS DI AKHIR ZAMAN


By novi - Posted on 11 August 2009

Daripada percaya dengan segala metode dan cara lain, marilah sekarang kita mengamati bagaimana Tuhan Yesus membangun Gereja-Nya! Meski dirongrong berbagai serangan, Gereja Tuhan Yesus tetap menapak semakin dewasa dan kokoh, membangun Kerajaan Allah di atas muka bumi ini. Contohlah langkah-langkah Gembala Agung kita ini. "Di atas batu ini Aku akan mendirikan GerejaKu dan pintu gerbang alam maut pun tidak akan menguasainya!" (Matius 16:18) Cobalah simak bagaimana Tuhan Yesus membangunnya dalam laporan terakhir saat tugasnya hampir selesai di dalam wujud sebagai manusia sejati di muka bumi. Dalam Yohanes 17:4, Tuhan Yesus mengatakan, "Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaKu untuk melakukanNya". Sebagai Gereja-Nya, kita pun patut menyelesaikan dengan berhasil tugas yang diberikan Bapa, agar dengan itu mempermuliakan-Nya. "Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia." (Yohanes 17:18)

  1. Menyatakan Nama dan Pribadi Allah -- "Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang ..." (Yohanes 17:6)

    Menyatakan nama Allah berarti memperkenalkan pribadi Allah, keberadaan-Nya dan juga rencana-Nya. Nama mewakili pribadi. Di dalam Gereja Tuhan Yesus di akhir zaman, ciri ini seharusnya diutamakan. Setiap anggota jemaat memunyai pengenalan pribadi dengan Allah secara langsung tanpa melewati perantara. Setiap pribadi dapat menyembah dengan pengenalan yang dalam dan intim dengan Bapa surgawi, bukan berdasarkan liturgi dan tata ibadah. Hubungan yang pribadi dan dalam itulah yang dimaksudkan "penyembahan dalam Roh," roh kita bersekutu dengan Roh Allah, karena Bapa adalah Roh. Hubungan semacam itu baru dapat berkembang setelah kita dipenuhi dan dibaptis oleh Roh Kudus. Roh kuduslah penolong dan satu-satunya sarana persekutuan yang intim dalam itu.

    Pengetahuan tentang Allah dapat dipelajari tetapi hubungan persekutuan dengan Allah harus dialami secara pribadi. Anggota jemaat tidak dibiarkan hanya seminggu sekali bersekutu saat ibadah bersama, hari lainnya tetap kosong tak terisi keintiman dengan Bapa surgawi. Sebaiknya setiap anggota jemaat bertumbuh setiap hari lewat pengenala akan Allah yang terus menerus semakin intim. Bagaimana caranya agar kita memiliki kepastian bahwa setiap orang dilahirkan baru tetap memiliki persekutuan pribadi yang intim dan dalam dengan BAPA SURGAWI?

    PEMURIDAN adalah cara untuk mencapai ciri pertama ini, dimana setiap orang percaya dibimbing secara pribadi. Bimbingan secara massal tidak dapat menjawab tantangan ini.

  2. Menyampaikan Firman Allah Sepenuhnya -- "Sebab segala Firman yang Engkau sampaikan kepai telah Kusampaikan kepada mereka dan MEREKA TELAH MENERIMANYA. (Yohanes 17:8)

    Gereja di akhir zaman adalah gereja yang memberitakan segala Firman Allah dan mengajarkan kemurniannya untuk diterapkan oleh anggota jemaat Tuhan. Mengajarkan untuk diketahui adalah perkara yang sangat mudah, namun mengajarkan sehingga diwujudkan dalam kehidupan adalah perkara yang membutuhkan banyak ketekunan.

    Pemuridan adalah sarana yang tepat untuk proses tersebut. Pemuridan bukanlah suatu trend, namun suatu cara agar, setiap murid Kristus dapat menerima keindahan dari mempraktikkan kebenaran Firman Tuhan dalam hidupnya. Gereja tidak boleh menghalangi kehausan umat Tuhan untuk mengenal seluruh kebenaran. Roh Kudus diutus tinggal dalam gereja Tuhan untuk membawa umat Tuhan kepada seluruh kebenaran. Ada banyak kebenaran yang sudah tertulis dalam Alkitab yang sedang disingkapkan kepada gereja-Nya, dan Roh Kuduslah guru sejati haruslah diberi kesempatan menggenapi tugas-Nya. Gereja tidak lagi terikat kepada pengetahuan tradisinya, namun kebenaran Firman Allah diwahyukan secara progresif sebagaimana mengenal Allah yang hidup.

  3. Kehidupan Doa -- "Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan ke padaKu, sebab mereka adalah milikMu dan segala milikKu adalah milikMu dan milikMu adalah milikKu, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka". (Yohanes 17:9-10)

    Gereja di akhir zaman haruslah gereja yang anggota jemaatnya memiliki kehidupan doa pribadi yang baik. Demikian juga kehidupan doa syafaat secara korporat, bersama-sama dalam peperangan rohani sebagai jemaat Tuhan. Tuhan telah memberi teladan agar kita sungguh-sungguh "membela" milik Tuhan yang dititipkan kepada kita sehingga itulah yang menjadi prioritas doa kita. Bukan seluruh dunia yang kita gumuli dalam doa kita. Bukan tuaian yang harus didoakan, karena tuaian dengan sendirinya akan masak. Yang kita perlu doakan adalah agar Bapa memberikan pekerja-pekerja. Murid-murid Kristus harus didoakan agar menjadi para pekerja yang menuai di ladang yang sudah masak tuaianya. Orang yang diberikan kepada kita haruslah menjadi sasaran doa kita. Jadi di dalam Gereja-Nya, haruslah kita yakini ada orang yang mendoakan kita, dan juga haruslah ada orang yang Tuhan berikan untuk kita doakan. Pastikanlah Saudara adalah sasaran doa seseorang dan Saudara mendoakan seseorang!

    Praktiknya tidak boleh abstrak dan massal. Seorang Gembala tak dapat mengakui bahwa ia mendoakan SETIAP anggota jemaat SETIAP hari. Lalu bagaimana perwujudannya?

    Pemuridan adalah kunci praktik ciri ketiga ini. Seorang pemurid mendoakan murid-muridnya. Tidak banyak memang, tapi pemurid itu dapat menggumuli dengan sepenuh hati setiap hari. Begitu pula murid-muridnya akan mendoakan "cucu" muridnya.

  4. Pemeliharaan Pertumbuhan Rohani -- "Selain Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam namaMu...."(Yohanes 17:12)

    Sebagai gembala yang baik, Tuhan Yesus bukan saja menghantar domba-domba ke rumput yang hijau dan ke air yang tenang, tetapi juga merawat domba-dombanya dengan minyak yang menyegarkan. Membalut luka-luka dan memeriksa domba-domba-Nya satu-persatu. Mungkinkah seorang gembala jemaat melakukannya? Bila sebuah jemaat memiliki lebih dari 100 anggota, maka mustahil sang gembala dapat "memelihara" dengan cermat setiap domba-domba-Nya. Lalu bagaimana caranya agar setiap domba terpelihara?

    Pemuridan adalah kunci untuk ciri keempat Gereja Tuhan di akhir zaman. Setiap anggota jemaat haruslah menyerahkan diri untuk dibina dan dimuridkan. Dengan demikian terpeliharalah pertumbuhan rohaninya. Terutama oleh orang tua rohani yang telah memenangkan dia dan membawanya kepada Kristus. Lalu ia sendiri haruslah memelihara seseorang lainnya, yaitu jiwa yang ia menangkan. Di dalam jemaat, seseorang dipelihara dan memelihara. Tidak ada seorangpun yang asing, semua adalah anggota keluarga Allah. Melalui pemeliharaan rohani setiap anggota bertambah dewasa dan mencapai fungsi dalam Tubuh Kristus.

  5. Penjagaan (Pengayoman) Rohani -- Aku telah menjaga mereka (Yohanes 17:12b)

    Kembali Tuhan sebagai gembala yang baik sungguh telah memberi prinsip yang panting dalam ciri gereja yang dibangun-Nya. Yaitu adanya penjagaan yang pribadi sifatnya. Penjagaan ini bukanlah kontrol kehidupan pribadi yang mengekang dan otoriter. Namun penjagaan dan pengayoman yang Tuhan Yesus kerjakan lebih bertumpu kepada perlindungan dan perhatian yang besar kepada setiap pribadi. Menjaga dari serangan "angin badai" yang ganas dan memerangi serangan roh-roh jahat sehingga murid-murid-Nya memperoleh bantuan yang besar saat peperangan rohani. Menegur dan menasihati "kekhilafan murid-murid" secara persuasif, memperingatkan "kesombongan Petrus" saat pencobaan akan datang dan memberikan kehangatan perhatian saat berita "duka-cita Lazarus".

    Ciri gereja di akhir zaman adalah "penggembalaan pribadi" bukan lagi "penggembalaan massal". Penjagaan yang intim dan memberi rasa aman. Perlindungan dengan pengertian dan pengawasan dengan pengamatan yang hangat! Kembali kunci dari ciri kelima adalah PEMURIDAN.

  6. Pengutusan -- "...demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia" (Yohanes 17:18)

    Gereja bukanlah sekedar tempat penampungan orang-orang yang telah diselamatkan. Gereja demikian telah membuat anggota jemaatnya gemuk, malas, dan sombong. Mottonya 6D yaitu Datang, Duduk, Dengar, Diam, Duit, dan akhirnya...DUNGU! Bertahun-tahun hanya menerima tidak pernah membagikan berkat-berkat rohani. Tahu banyak, tapi tidak meneruskan kepada yang lain. Seharusnya setiap anggota dididik menjadi utusan bagi Yesus. Diutus pergi dan menjadikan setiap bangsa murid Kristus. Yang aktif bukan hanya para pengurus dan anggota jemaat hanya pemberi aplaus yang hangat selaku penonton. Gereja di akhir zaman, haruslah merupakan imamat yang berkerajaan. Artinya setiap anggota adalah imam yang melayani dan berotoritas untuk melakukan pekerjaan Allah. Bagaimana caranya?

    Sekali lagi, ciri gereja ke enam ini hanya dapat dicapai melalui PEMURIDAN. Dilatih untuk bersaksi dan memenangkan seseorang yang belum diselamatkan. Setiap anggota dilatih untuk dapat melayani sebagaimana contoh yang diperlihatkan pemuridnya. Setelah itu setiap murid didoakan agar dapat diutus untuk melakukan pekerjaan Allah yang lebih besar, yaitu membuka persekutuan atau melayani dalam bidang talenta yang Tuhan percayakan. Pada akhirnya, gereja memiliki murid-murid Kristus yang siap diutus bagi Yesus, mempersiapkan kota-kota menyongsong kegerakan Allah yang akan datang. Gereja Tuhan di akhir zaman adalah gereja yang misioner dengan visi global dan sarat dengan pengutusan keluar. Gereja yang bertanggung jawab atas saudara-saudaranya!

  7. Pengudusan dalam Kebenaran -- "...dan Aku menguduskan diriKu bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran." (Yohanes 17:19)

    Gereja Tuhan di akhir zaman seharusnya menerapkan kekudusan sebagai gaya hidup. Ada teladan dalam jemaat sehingga pengajaran dan kebenaran tentang kekudusan dapat diwujudkan oleh murid-murid Kristus. Gereja yang tidak kompromi terhadap dosa atau dosa "kelabu". Radikal dan tak bersedia mengganti kebenaran dengan popularitas. Di saat dunia semakin rusak moralnya, gereja harus tegak berdiri menantang dan memberi kesaksian kepada dunia ini akan hal kekudusan. Hamba Tuhan memang perlu mengajarkan jemaat Tuhan tentang janji berkat tetapi terlebih dahulu jemaat Tuhan hidup dalam kekudusan.

    Hamba-hamba Tuhan dituntut keberaniannya untuk menegur dosa melebihi ketakutan kehilangan anggota jemaat. Jumlah jemaat yang beribu-ribu menjadi tak berarti apa-apa jikalau kekudusan tidak diutamakan dengan alasan agar jemaat tidak "kabur". Kebenaran yang radikal kadangkala memang mengganggu telinga para kompromis. Namun saatnya Gereja di akhir zaman memberitakan kebenaran bagaikan Yohanes pembaptis yang hidupnya memakan belalang "hama perusak" Bagaimanakah caranya kekudusan dapat dilakukan murid-murid Kristus melalui teladan?

    Pemuridan yang Tuhan Yesus teruskan kepada kita adalah satu-satunya cara agar hidup pemurid dapat terus menerus terpancar sebagai teladan kepada murid-muridnya. Melalui hubungan yang dekat di mana seorang pemurid membagikan hidupnya, sang murid dapat mengamati kekudusan yang dipraktikkan. Hidup menjadi transparan, dan tak ada yang dapat disembunyikan. Apa yang diajarkan pasti dilakukan. Itulah Pemuridan!

  8. Kemuliaan dalam Kesatuan -- "Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepadaKu, supaya mereka menjadi SATU, SAMA SEPERTI KITA ADALAH SATU" (Yohanes 17:22)

    Ciri yang terakhir namun terpenting adalah gereja harus memiliki visi Kesatuan Tubuh Kristus. Tanpa ada kesatuan, kemuliaan Gereja tinggal impian belaka. Kesatuan umat tidaklah terlalu sukar, kesatuan di antara hamba-hamba Tuhan inilah yang memerlukan banyak anugrah. Namun sebagaimana Tuhan Yesus imani dan doakan maka hal ini pasti akan terjadi. Yakni suatu kesatuan yang SEMPURNA, sama seperti BAPA dengan ANAK. Suatu kesatuan yang saling mempermuliakan, sehingga kemuliaan menjadi bertambah-tambah dengan limpahnya.

    Alkitab perjanjian baru mencatat tak ada nama gereja yang dibuat oleh murid-murid Tuhan. Apakah karena gereja purba begitu kuno dan beranggota sedikit jemaat? Perhatikan gereja di Yerusalem, ribuan orang dan mereka mengalami pekerjaan Roh Kudus yang segar. Tapi toh mereka tidak membuat nama lain, kecuali nama Yesus yang ditinggikan! Memang sudah didapatkan usaha iblis untuk memecah gereja Tuhan melalui gejala "berpihak-pihak" di Korintus. Ada yang mengatakan dirinya kelompok Petrus, kelompok Paulus, lainnya Kristus! Tapi rasul Paulus menegur dengan keras agar mereka bersatu di dalam satu nama Yesus saja kepada siapa mereka dibaptiskan. Gambaran gereja yang selama ini sudah sangat duniawi (menurut Rasul Paulus) dan tak lebih berohani dibanding gereja di Korintus. Apakah penyebabnya?

    Pada tahun 1987, Tuhan menunjukkan 2 hal yang menjadi penyebab masalah. Yang pertama, pelayan Tuhan. Yang kedua adalah orang-orang percaya yang dimenangkan dan dilayani para pelayan Tuhan tersebut. "Jadi apakah Apolos? Apakah Paulus? PELAYAN-PELAYAN Tuhan yang OLEHNYA KAMU MENJADI PERCAYA (yang memenangkan dan melayani kamu-red) masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya." (1 Korintus 3:5) Seharusnya, kita para hamba-hamba Tuhan bersikap hanya sebagai pelayan Tuhan, dan bukan pemilik atas domba-domba Tuhan. Para pelayan seharusnya saling merendahkan hati dan tidak saling menonjolkan diri dan pelayanannya. Para pelayan seharusnya saling menghargai dan menghormati pelayan-pelayan lainnya. Dan jiwa yang dilayani tidaklah dimeteraikan sebagai anggota kelompoknya. Dalam hal ini bukan berarti kehidupan berjemaat yang terikat janji diabaikan, namun jiwa-jiwa yang sudah dimenangkan adalah milik Allah dan tidak perlu di cap atau diberi etiket nama gereja tertentu. (Kami menghargai akan perlunya organisasi gereja di dalam hal formal dalam kaitannya sebagai masyarakat dengan pemerintah).

    Sebab bila kita mengibarkan suatu nama suatu "nama kepemilikan dan kesatuan" yang lain selain Tuhan Yesus Kristus maka tidak mustahil jemaat itu dikuasai Roh pemecah bela. Roh "Denominasi" yang membuat kita merasa "berbeda" satu dengan yang lainnya. Sebagai orang percaya yang telah dimenangkan oleh pelayan-pelayan Tuhan tertentu kita tidak perlu menjadikan mereka sebagai pemilik jiwa kita. Kita memang harus menghormati dan menghargai mereka namun jangan sampai berlebil sehingga mereka menjadi pusat dan bukan Kristus. Menjadikan para pelayan Tuhan sebagai pusat telah membangun "kelompok" yang mengkristal dan terpisah dan saling menjauh. Tidak pelak lagi peristiwa dan gejala Korintus terjadi di mana-mana sekarang.

    Namun gereja Tuhan Yesus mulai dilawat oleh Roh Kudua dan merubah hati para pelayan Tuhan sebagaimana pasal 4 dan 5 kitab Wahyu, lawatan kegerakan puji-pujian telah melanda gereja-Nya di seluruh dunia. Kecapi lambang pujian dan penyembahan, cawan penuh kemenyan berarti doa syafaat, adalah ciri dari gereja akhir zaman. Berbarengan ada suatu ciri yang luar biasa di akhir zaman, yaitu para penatua meninggalkan tahtanya, tersungkur menyembah Anak Domba yang tersembelih dan melemparkan mahkotanya kepada Anak Domba itu. Haleluyah! Suatu kegerakan "Meninggalkan tahta" dan "pelemparan mahkota" sedang melanda para pelayan Tuhan.

    Para pelayan Tuhan saling mendekatkan diri karena hubungan yang lebih indah dengan Juru Selamatnya melalui pujian penyembahan dan doa, juga telah kembali bersikap sebagai "hamba" di kaki Tuhan dan bukan "raja kecil" di atas tahta. Gereja akhir zaman dilanda ciri yang dahsyat ini yaitu kesatuan yang sempurna. Hanya lewat kesatuan yang sempurna kemuliaan Allah yang sempurna diberikan kepada gereja-Nya, sehingga bumipun akan dipenuhi kemuliaan-Nya.

Apakah ke-8 ciri ini didapati dalam Gereja tempat saudara bertumbuh?

Diambil dari:

Judul buku : Bangkit, Edisi 1992 -- 1993
Judul artikel : 8 Ciri Gereja Tuhan Yesus di Akhir Zaman
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Pelayanan Bersama Indonesia, Jakarta
Halaman : 66 -- 68