Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are here7. Membimbing Anak-anak Allah

7. Membimbing Anak-anak Allah


Seringkali seorang yang telah menerima Yesus Kristus harus dilayani kembali. Hal ini mungkin disebabkan karena ia kurang dibimbing pada waktu ia mengalami suatu kesulitan yang lain, pada kemudian harinya. Saudara harus berhati-hati dalam membuat diagnosa, karena tidak mungkin seseorang menerima Yesus dua kali. Kalau betul-betul ia telah menerima Yesus, ia membutuhkan jenis pelayanan yang lain lagi.

Ingatlah bahwa jarang sekali seseorang rela untuk langsung menyatakan persoalannya yang sebenarnya, karena malu. Tambahan pula biasanya ia menyadari beberapa kesulitan saja, yang hanya merupakan gejala-gejala. Ia belum sadar akan akar dari kesulitan-kesulitannya itu. Si pembimbing harus mengambil sikap seperti seorang dokter yang sedang memeriksa pasiennya. Dokter seperti seorang dokter yang sedang memeriksa pasiennya. Dokter itu akan bertanya-tanya tentang gejala-gejala penyakit pasien itu. Segala pertanyaan itu akan menuju kepada pengupasan sesuatu yang belum dipikirkan oleh si pasien, akhirnya akan diketahui penyakitnya dengan tepat. Demikian juga halnya dalam bimbingan rohani. Perkara-perkara yang ia akui sebenarnya hanya merupakan akibat-akibat dari suatu dosa atau kekeliruan tertentu. Saudara harus mencari sesuatu di belakang gejala-gejala yang sementara itu, untuk melihat sumber dari kesulitan yang sedang dialaminya.

Menurut seorang penginjil yang bernama Oswald Smith, persoalan-persoalan Kristen dapat digolongkan menjadi tiga jenis pelayanan tertentu. Pembagian yang sederhana dan praktis itu dapat diselidiki dalam bukunya yang berjudul "The Consuming Fire" (Api yang menghanguskan). Ketiga jenis persoalan itu adalah:

  1. Keragu-raguan tentang keselamatan.
  2. Keputus-asaan karena kegagalan.
  3. Kemunduran ke dalam dosa.

Sebelum kita menyelidiki ketiga jenis persoalan itu sebaiknya ditegaskan sekali lagi bahwa penilaian dari si petobat sendiri jarang tepat. Seseorang yang belum menerima Yesus akan selalu mementingkan perkara-perkara kegagalan dan kesulitan hidup. Saudara harus dapat memastikan tentang apakah ia telah menerima Kristus atau belum. Kalau ia belum menerima Kristus, maka ia harus dilayani seperti dalam pelajaran keenam. Seringkali dengan menerima Kristus maka perkara-perkara yang lain yang dibicarakannya itu akan lenyap dan hilang tanpa memerlukan bimbingan khusus.

Dalam setiap jenis pelayanan ini, sedapat-dapatnya pakailah satu ayat saja, supaya dikemudian hari ia dapat mengingat kembali dasar pelayanannya.

A. ORANG-ORANG YANG RAGU-RAGU

Keragu-raguan adalah akibat dari tidak mengetahui atau tidak mempercayai isi Alkitab. Banyak orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Yesus Kristus, tetapi belum merasa pasti bahwa tempat di surga itu telah disediakan bagi pribadi-pribadi mereka. Bahkan ada pendeta-pendeta yang karena terlalu memikirkan hanya doktrin-doktrin yang tertentu saja, juga sama sekali belum mengenal bagian-bagian dari Firman Tuhan yang menjelaskan bahwa seseorang dapat mendapatkan kepastian tentang pengampunan dosa dan mendapat tempat di sorga. Keragu-raguan sungguh menghina nama Yesus, karena itu berarti menyatakan pendapat bahwa penyaliban Yesus itu tidak cukup berkuasa untuk membayar hutang dosa manusia seluruhnya.

Kitab yang paling tepat untuk seseorang yang ragu-ragu adalah Surat Pertama Yohanes. Dalam surat itu perkataan "mengetahui" atau "mengenal" dipakai sebanyak 42 kali. Ayat yang saudara akan pergunakan adalah I Yohanes 5:13 "Segala perkara ini telah kusuratkan kepadamu supaya kamu mengetahui, bahwa kamu beroleh hidup yang kekal yaitu kamu yang percaya akan nama Allah." Dalam pelayanan tersebut perlu saudara tegaskan dua perkataan yaitu: "mengetahui" dan "kusuratkan."

1. "Mengetahui."

Rasul Yohanes berpendapat bahwa ada sesuatu yang kurang beres pada seseorang yang belum merasa pasti mengenai keselamatannya. Dalam ayat 13 ini ia menyatakan apa sebabnya ia telah menulis, yaitu agar orang-orang percaya mengetahui ("yakin") bahwa mereka telah memperoleh hidup yang kekal dalam Tuhan Yesus.

Dasar keyakinan ini adalah kesempurnaan karya Yesus pada salib itu. Kesempurnaan dari salib tidak dapat diragu-ragukan lagi (I Yohanes 2:2).

Rasul Paulus juga mengupas persoalan yang sama. Ia memberitakan bahwa hutang dosa telah dilunasi bagi orang-orang yang percaya (I Korintus 6:20). Yesus sendiri sebelum mati pada salib, berkata: "Sudah genap" (Yohanes 19:30).

2. "Kusuratkan."

Kebanyakan orang yang ragu-ragu itu suka memeriksakan keadaan jiwanya pada pihak yang salah. Mereka boleh disebut "Hippis Rohani" karena tidak meneliti Firman Allah yang obyektip itu, melainkan meraba-raba dalam dunia khayal dan emosinya sendiri.

Titik pemeriksaan untuk mendapatkan kepastian selamat bukan terletak pada perasaan, melainkan pada dasar yang "tersurat." Allah yang setia telah menyuratkan (menetapkan) beberapa perjanjian. Antara lain Allah telah mengesahkan salib sebagai sumber keselamatan. Kalau seseorang percaya kepada Yesus, maka ia telah selamat karena Allah tidak akan ingkar janji yang disuratkanNya itu.

Tentu saja ada hal-hal yang "dirasai" oleh seorang anak-anak Allah. Ia telah "diperanakkan pula" menjadi "kejadian yang baru" (Yohanes 3:3, 5, 6; II Korintus 5:17). Tetapi janganlah ia salah tangkap terhadap perasaan-perasaan yang baru itu. Mulai pada saat penerimaan Yesus, kekaburan dosa dilenyapkan oleh darah Kristus. Pembaruan itu paling nampak pada hati kecilnya. Oleh karena proses penghalusan hati kecil itu, maka seorang anak Allah akan merasa lebih berdosa dari pada sebelum ia menerima Yesus. Di samping dapat dengan lebih tajam membedakan hal-hal yang baik dan yang jahat itu (Roma 12:1, 2), seorang anak Allah akan merasa haus untuk membaca Firman Tuhan, berdoa, dan bergaul dengan saudara-saudara seiman.

Perincian langkah-langkah pelayanan ini adalah sebagai berikut:

  1. Bicarakanlah I Yohanes 5:13 bersama-sama.
  2. Kalau orang yang ragu-ragu itu telah mengisyafi arti I Yohanes 5:13, pindahlah kepada ayat yang dahulu dipakainya sebagai dasar keselamatan. Kalau ia sungguh-sungguh percaya bahwa ayat itu benar, maka ia harus yakin bahwa ia telah memenuhi syarat yang ditetapkan Allah.
  3. Suruhlah ia berdoa kepada Yesus; yakin suatu doa pengucapan terima kasih, bahwa ia telah diselamatkan oleh darah Yesus.

B. ORANG-ORANG YANG SELALU JATUH DALAM PENCOBAAN

Ada beberapa ayat yang berfaedah untuk meneguhkan seseorang yang berada dalam penggodaan, misalnya Matius 11:28; Filipi 4:13 dan I Yohanes 4:4. Tetapi kami usulkan supaya saudara memakai ayat yang lazim dalam bimbingan ini, I Korintus 15:57, yang berbunyi: "Syukurlah kepada Allah yang mengaruniai kita kemenangan oleh sebab Tuhan kita Yesus Kristus." Kalau saudara mau memakai ayat ini, jelaskanlah ketiga perkataan ini, yaitu "syukurlah,""mengaruniai" dan "kemenangan."

1. "Kemenangan."

Alkitab tidak menawarkan sesuatu yang kosong belaka. Kemenangan telah disediakan bagi kita dalam kemenangan Yesus. Demikian ajaibnya berkat itu sehingga I Korintus 15 menyatakan kemenangan terhadap pencobaan yang paling ngeri, yaitu maut. Kemenangan bukan hanya berkat yang dapat dinikmati oleh anak-anak Allah, melainkan juga merupakan tugas dalam panggilan kita (I Yohanes 3:8; Efesus 2:7). Orang-orang percaya telah dipanggil untuk memperlihatkan kuasa rohani ini di hadapan dunia yang berdosa (Roma 6:14), bukti utama adalah kesucian hidup.

Banyak orang ingin "dibebaskan" dari penggodaan, tetapi rencana Allah lain, Allah telah menempatkan orang-orang percaya di dalam dunia yang penuh dosa dan godaan ini untuk menjadi bukti dari kuasaNya. Orang-orang beriman akan selalu digodai tetapi tidak perlu jatuh. Kunci pertama dari kemenangan ialah kesadaran bahwa setiap orang akan dicobai seumur hidupnya. Hanya dalam pencobaan, Yesus dapat memperlihatkan keajaiban kuasaNya. Meskipun seorang beriman akan dicobai namun ia tidak perlu merasa takut. Iblis akan mengaum-ngaum melihat siapa yang dapat ditipunya (I Petrus 5:8), tetapi iblis ompong, giginya telah dicabut oleh Tuhan Yesus (I Yohanes 3:8). Di mana saja seorang Kristen memutuskan untuk sedia menghadapi iblis itu, di situ juga ia akan menang (Roma 6:14).

2. "Mengaruniai."

Karunia bukan sesuatu yang dapat diusahakan seperti upah. Karunia adalah sesuatu yang diberikan dengan cuma-cuma, yang diperoleh hanya melalui iman. Pada umumnya arti karunia itu belum jelas bagi kaum Kristen. Kekaburan itu terbukti melalui demikian banyaknya penghias-penghias dinding yang berbunyi: "Berdoa dan bekerja." Kutipan itu salah seharusnya adalah "berdoa dan berjaga" (Matius 26:41). Orang-orang Kristen disuruh berjaga supaya jangan ditipu oleh si iblis. Kalau iblis mendatangi mereka, mereka hanya perlu melawan dan berdoa maka iblis terpaksa mundur (Yakobus 4:7).

Hanya dengan karunia saja seseorang dapat mengalami kemenangan rohani. Usaha pribadi yang sekuat-kuatnyapun tidak dapat mengatasi penggodaan. Selama seseorang masih berusaha selama itu pula belum ada kesempatan bagi Tuhan Yesus untuk memberi karunia kemenangan itu kepadanya. Hal ini dapat dijelaskan dengan lukisan berikut. Seorang yang nyaris mati tenggelam dalam air akan berusaha sekeras-kerasnya menyelamatkan diri, tetapi ia tidak tahu cara berenang. Seseorang penyelamat yang berpengalaman akan bertindak dengan menunggu sampai orang itu kehabisan tenaga, barulah orang itu dapat dihantarkan ke pantai. Demikian pula halnya dengan Yesus yang sedang menunggu kesempatan untuk menolong orang-orang yang gagal.

Contoh lain terdapat dalam Keluaran 14:13, yang dapat diucapkan kembali secara bebas seperti berikut, "Berdiam diri dan melihat keselamatan Tuhan!"

3. "Syukurlah."

Agar seorang dapat menikmati kemenangan rohani ia harus memberi kesempatan kepada Yesus untuk menolong. Tetapi cara memberikan kesempatan itu, bukanlah dengan memohonkan. Kemenangan itu telah menjadi bagian dari rahmat Allah, telah termasuk ke dalam "hak anak" bagi orang Kristen yang gagal tersebut, walaupun masih belum dipakainya. Bodoh sekali bagi seseorang untuk meminta sesuatu dari Tuhan yang ia sendiri telah memiliki. Ayat 57 itu menyuruh dia untuk mengucap syukur kepada Tuhan, karena kemenangan yang telah ada ini. Harus ia sadari dan berjanji untuk mulai memanfaatkan kemenangan yang telah disediakan itu.

C. ORANG-ORANG YANG TELAH MUNDUR

Inilah pelayanan satu-satunya di mana seorang pembimbing harus bertanya-tanya tentang dosa yang sebenarnya telah dilakukan. Dalam jenis-jenis pelayanan lain sudahlah cukup dengan mengetahui adanya persoalan dan kemudian memperkenalkannya kepada jawab dalam Tuhan Yesus. Tetapi bagi orang yang telah mundur, selalu ada titik permulaan yaitu suatu dosa tertentu yang dilakukannya dengan sengaja. Ribuan dosa yang lain yang merupakan akibat dari pemberontakan pertama.

Layani orang yang mundur berdasarkan I Yohanes 1:9. Ayat ini tidak menyuruh dia untuk "minta ampun" melainkan untuk "mengakui" dosanya. Tuhan menunggu pengakuannya bahwa persoalan pertama itu adalah benar-benar dosa. Biasanya seseorang rela mengaku ribuan dosa-dosanya yang lain asal dosa yang dicintainya itu boleh ia sembunyikan dan nikmati terus. Kalau dosa itu telah diakuinya, barulah Tuhan dapat mengurusnya. Ayat 9 telah menyatakan bahwa dengan pengakuan yang terang-terangan, ia akan diampuni dan disucikan. Tuhan bersedia melenyapkan dosa-dosa dan noda-noda akibat dosa itu juga, supaya orang itu dapat berjalan di dalam terang.

Suruhlah ia berdoa dengan mengaku dosa, serta mengucapkan terima kasih bahwa pengampunan tetap tersedia dalam Yesus yang rahmatnya tidak terbatas.

Kalau ia sungguh-sungguh, ia tidak akan meneruskan dosanya itu. Kehendak Tuhan tidak berubah sampai sekarang. Satu contoh ketetapan Allah ialah Kitab Yunus dalam Perjanjian Lama. Karena Yunus tidak mau taat akan perintah Tuhan ia melarikan diri, sehingga ia mengalami banyak goncangan, sampai ia ditelan oleh ikan besar. Setelah Yunus bertobat dan dibebaskan kembali, sekali lagi Tuhan berbicara kepadanya. Tuntutan Allah itu tetap sama. "Apakah Yunus mau pergi ke tempat di mana Allah telah menyuruhnya atau tidak?"

D. BEBERAPA TAMBAHAN

Hampir setiap kesulitan rohani dapat dilayani berdasarkan ketiga golongan di atas. Misalnya seorang ibu yang mempersoalkan kelakuan anak-anaknya yang tidak beres, atau suaminya yang belum percaya. Sebenarnya itu merupakan keputus-asaan atau kegagalan dari si ibu. Apakah yang ia harus lakukan? Ia harus berterima kasih karena rahmat yang telah disediakan baginya dalam Yesus. Biasanya dalam persoalan-persoalan pada si ibu tersebut juga.

Mungkin ia kurang menyatakan kasih dan kemenangan. Mungkin juga tujuannya tidak beres. Kadang-kadang seorang istri ingin supaya suaminya percaya, bukan supaya jiwa suaminya itu selamat, melainkan untuk menjamin kesejahteraan rumah tangganya saja. Wanita-wanita yang serupa itu sebenarnya kurang mengasihi suaminya.

Sama halnya seperti dalam penginjilan, ketiga jenis pelayanan ini menuntut pelanjutan. Bimbingan pertama hanyalah suatu krisis yang selalu harus ditinjau kembali, untuk pada kemudian kemenangan, kepastian atau pengampunan. Perlu saudara tentukan "waktu dan tempat" untuk bertemu kembali dengan orang yang dilayani itu. Pada pertemuan kedua itu pelayanan pertama ditinjau kembali dan perkara-perkara yang lain lagi dapat dibicarakan.

RESAPKANLAH PELAJARAN No. 7

  1. Hafalkanlah ketiga ayat dasar untuk pelayanan terhadap anak-anak Allah yaitu I Yohanes 5 : 13; I Korintus 15: 57 dan I Yohanes 1 : 9.
  2. Periksalah seluruh Surat Pertama Yohanes untuk melihat bahwa surat itu sungguh berfaedah bagi orang-orang yang percaya. Carilah ayat- ayat tambahan di dalamnya yang dapat dipakai untuk ketiga jenis pelayanan ini.
  3. Selidikilah dirimu untuk melihat kalau-kalau masih terdapat sesuatu dalam hidup anda sendiri yang perlu diselesaikan sesuai dengan ketiga macam kesulitan yang baru dipelajari ini.