Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are here3. Mendekati Seseorang Dengan Injil

3. Mendekati Seseorang Dengan Injil


Pelajaran 3

MENDEKATI SESEORANG DENGAN INJIL

Dalam pelajaran yang kedua telah dibedakan "Injil" yang wajib diwartakan kepada semua orang dan "Jalan Keselamatan" yang akan dijelaskan kepada mereka yang ingin menerimanya (yang terbuka terhadap Injil). Dalam pelajaran ini akan kita bicarakan peranan saudara dalam membawa seseorang agar sampai kepada keinginan itu.

Tidak ada dua orang yang sama di dunia ini. Jadi mustahil saudara melatih diri dalam suatu jalan pendekatan tertentu yang berlaku untuk segala keadaan. Dalam pelajaran in kami hanya mengusulkan beberapa patokan saja supaya jangan saudara berputar-putar tanpa tujuan. Yang paling penting adalah beberapa langkah yang terarah. Tidak diperlukan suatu cara yang terperinci, karena Roh Kudus menyertai saudara dalam melaksanakan panggilan ini (lihat Matius 28:18-20). Roh Kudus selalu menunggu untuk menolong saudara. Bagi saudara hanyalah perlu mempunyai tujuan tertentu; dan saudara harus bijaksana mencari pokok-pokok yang dapat dialihkan kepada pelayanan rohani.

A. SIKAP SAUDARA MERUPAKAN HAL YANG PENTING

Tugas penginjilan pribadi lain sekali dibanding dengan tugas seorang penginjil umum. Orang-orang yang mengikuti suatu kebangunan rohani telah mempunyai sifat "ingin tahu." Sedangkan pribadi-pribadi yang saudara mau dekati dalam pergaulan sehari-hari pada umumnya belum mempunyai keinginan itu. Mereka telah merasa puas dengan pegangan agamanya dan keadaan jiwanya. Saudara perlu mengendalikan setiap pembicaraan, sehingga timbullah pertanyaan-pertanyaan dan rasa ingin tahu dalam hati mereka. Kalau mereka ingin tahu, barulah saudara dapat mulai menjelaskan Jalan Keselamatan itu.

Sikap saudara merupakan hal yang penting sekali. Janganlah menghakimi atau menasehatkan orang-orang yang masih duniawi. Mereka tidak akan gemar membicarakan perkara-perkara rohani dengan seorang yang disangkanya picik atau ganjil. Haruslah mempunyai sikap terbuka, dan memakai setiap kesempatan untuk menuju kepada Yesus, sebagai jawab terhadap setiap kebutuhan, khususnya pelepasan dari kuasa dosa.

Biarlah orang itu banyak berbicara.

Saudara harus menghindari perdebatan. Kalau seorang mulai berdebat, hatinya menjadi tertutup. Ia akan mulai membenarkan diri saja dan melawan setiap penjelasan saudara. Mulainya suatu perdebatan, menandakan macetnya usaha penginjilan pribadi. Supaya perdebatan tersebut dapat terhindarkan, dan tetap melancarkan diagnosa rohani yang harus dilaksanakan, biarlah orang yang dilayani itu banyak berbicara. Tetapi saudara perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengendalikan percakapan itu.

Orang yang didekati itu harus banyak berbicara. Ia akan menjadi lebih senang karena saudara ingin mengetahui isi hatinya, sehingga lambat laun kecurigaannya terhadap saudara akan hilang lenyap. Besar kemungkinan, selesai mengeluarkan segala isi hatinya, seperti keputus asaannya dan kekecewaannya, dengan penuh perhatian ia akan berkeinginan supaya saudara juga menjelaskan pendapat rohani saudara. Dan inilah kesempatan yang kita tunggu-tunggu.

Kalau ia telah berbicara banyak, itu akan menolong saudara untuk mengetahui keadaan jiwanya. Makin lama ia berbicara, makin jelas jenis kebutuhan rohaninya sehingga sampailah saatnya, obat yang dibutuhkannya, yaitu Firman Tuhan, dapat saudara berikan dengan tepat. Kalau si penginjil terlalu banyak berbicara akan menjadi kaburlah gejala-gejala penyakit rohaninya. Seorang penginjil pribadi harus berlatih untuk berdiam diri. Renungkanlah sikap seorang dokter terhadap pasiennya. Dokter tersebut tidak akan memberikan penjelasan. Ia hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan, sampai diagnosa selesai. Dan tanpa banyak bicara ia menentukan obat yang sesuai dengan kebutuhan pasiennya.

B. GARIS BESAR DARI SUATU PENDEKATAN

1. Titik Tolak

Banyak orang yang sungguh-sungguh berhasrat untuk memberitakan Injil, tetapi takut untuk memulainya. Mereka gelisah memikirkan teknik pendekatannya.

Biasanya saudara dapat memulai dengan pertanyaan pertama dari deretan pertanyaan yang diberikan dalam bagian berikut ini. Tetapi sebelumnya, beberapa contoh permulaan lain diberikan supaya saudara bertambah yakin bahwa segala sesuatu dapat dimanfaatkan bagi kemuliaan Tuhan Yesus. Mungkin saudara akan heran melihat bermacam-macam hal yang dapat dipakai sebagai permulaan untuk menjelaskan Injil.

a. Marah atau kecewakah kita melihat kelakuan seorang penjahat, atau jemu terhadap korupsi pada umumnya?

Contoh: "Aduh! Lihat, jeep itu menabrak sepeda lalu melarikan diri, jahat sekali!" ... Keluhan itu telah menyangkut kerohanian. Saudara dapat menjawab bahwa kelakuan semacam itu tidak mengherankan. "Bukankah semua berdosa di hadapan Allah? Apakah Allah membedakan dosa yang besar dan dosa yang kecil? Dosa kecil itu dipupuk, sampai akhirnya menghasilkan kejahatan-kejahatan yang mengerikan. Dalam hal yang manakah saudara dan saya mempunyai perbedaan dengan penjahat itu? Bukankah kita orang berdosa juga? Bagaimanakah rencana saudara, untuk melenyapkan dosa pribadi di hadapan Allah, yang akan menghakimi kita pada Hari Kiamat?"

b. Jengkel karena tingkah laku yang tidak baik seorang tetangga, yang beragama Kristen.

Inilah titik permulaan yang baik sekali. Sama seperti contoh pertama tentang kejengkelan itu, keluhan itu dapat dipakai sebagai titik tolak untuk merangsang pengakuan mereka bahwa keagamaan tidak dapat menyelamatkan. Mengaku diri sebagai "orang Kristen" belum berarti apa-apa. Soal yang sebenarnya adalah apakah ia telah mempunyai iman kepada Yesus.

Saudara boleh berkata: "Apa yang dapat kita harapkan dari orang yang dosanya belum diampuni? ... Sudahkah dosa-dosa anda sendiri diampuni? " Dengan landasan orang Kristen "semu" ini saudara dapat berterus terang bahwa mutlaklah Injil Yesus itu. Oleh karena seorang "Kristen" yang dibicarakan, maka orang yang saudara ingin Injil itu tidak akan merasa tersinggung.

c. Orang tua dari pemuda-pemuda yang nakal - crossboy-crossboy.

Biasanya pemuda-pemuda tersebut menjadi perisau karena orang tuanya juga belum selamat. Mereka menyangsikan Injil karena mereka belum melihat bukti iman pada ayah dan ibunya, padahal orang tuanya mengakui Yesus sebagai Juru Selamat. Yang berikut adalah dua contoh tentang bagaimana memakai masalah itu menuju penginjilan.

"Pernahkah ibu menjelaskan jalan pengampunan dosa kepadanya pada waktu ia masih kecil?" "Kalau tidak, apakah ibu sendiri sudah mengetahui jalan itu? Apakah ibu telah mengalami pengampunan dosa?" "Sudahkah ibu mempunyai hak di hadapan Tuhan untuk meminta pertolonganNya dalam hal ini?" "Tuhan tidak akan mendengar doa semua orang. Ia telah menentukan bahwa mereka harus diselamatkan lebih dahulu, baru boleh meminta pertolongan," "Sudahkah ibu menjadi seorang anak Allah?"

d. Orang sakit yang minta didoakan.

Saudara boleh berdoa bagi orang sakit bila mereka minta didoakan (Yakobus 5:14-16). Tetapi periksalah terlebih dahulu, apakah orang itu telah selamat atau belum. Di hadapan Allah penyakit tubuh itu hanyalah soal kecil saja, jiwanya yang paling penting. Jangan biarkan dia mendatangi hamba-hamba Tuhan hanya demi "kepentingan diri" saja, tetapi supaya rela membereskan dirinya melalui Yesus. Selalu bedakan kesembuhan jasmani dan keselamatan jiwa sebagai dua perkara yang terpisah, meskipun sumber dari keduanya adalah rahmat salib Yesus. Yang sakit selalu bersikap serius terhadap penjelasan Injil, tetapi seringkali maksud dan tujuan mereka kabur.

2. Suatu deretan pertanyaan-pertanyaan.

Marilah kita beralih kepada deretan pertanyaan-pertanyaan yang dipakai dalam pendekatan, yaitu jikalau tidak ada jalan masuk seperti contoh-contoh di atas.

Supaya ia jangan merasa tersinggung, janganlah terlalu cepat menanyai hal-hal yang menyangkut pribadinya. Saudara harus mulai dengan pertanyaan-pertanyaan rohani yang umum dan tidak bereaksi terhadap jawaban-jawabannya, sekalipun ia hanya menyebut kejengkelan-kejengkelan terhadap kaum Kristen.

Pertanyaan-pertanyaan yang berikut diusulkan oleh seorang pelopor dan pengarang dalam bidang penginjilan pribadi, Gene Edwards. Perhatikanlah arah pertanyaan-pertanyaan ini, yang harus dimulai dengan perkara-perkara rohani yang umum menuju kepada hal-hal yang khusus di mana terbongkar kebutuhan pribadinya. Saudara harus memakai pertanyaan-pertanyaan semacam ini dengan lemah lembut supaya jangan ia tersinggung karena merasa bahwa saudara telah mencampuri urusan pribadinya.

  • Pernahkan saudara pikirkan hal-hal rohani?
  • Menurut pendapat saudara apakah kebutuhan rohani yang terbesar untuk seseorang?
  • Pernahkah dalam hidup saudara, saudara alami suatu waktu bila saudara pikirkan kebutuhan saudara sendiri untuk hidup yang kekal?
  • Menurut pendapat saudara apakah yang harus diperbuat supaya seseorang dapat masuk hidup yang kekal itu?
  • Bolehkah kita membaca tiga atau empat ayat dari Firman Allah yang menunjukkan kehendak Allah dengan hal ini?.

Kalau pertanyaan-pertanyaan yang di atas diteliti nampak suatu peralihan yang harus dari yang umum, yaitu "seseorang" kepada yang spesifik, "saudara sendiri." Tentu saja jawaban-jawabannya akan menunjukkan pendapat pribadi dari orang yang sedang didekati itu meskipun ditanyai tentang seseorang. Dengan jalan yang halus ini, ia tidak akan merasa suatu serangan terhadap dirinya. Apakah ia akan sedang mengeluarkan pendapatnya sendiri. Sikap kita yang selalu bertanya "menurut pendapat saudara" sangatlah menolong kita menuju pelayanan yang berhasil.

Pertanyaan yang keempat merupakan kunci.

Saudara boleh menyusun suatu deretan pertanyaan yang sesuai dengan pribadi dan lingkungan saudara sendiri. Tetapi harus selalu ada suatu pertanyaan yang seperti pertanyaan keempat di atas. Pertanyaan keempat itulah yang penting karena memungkinkan saudara sampai kepada suatu diagnosa (penilaian rohani). Saudara harus secara mutlak mengetahui penyakitnya sebelum ia diobati dengan Firman Allah. Pertanyaan yang keempat akan menentukan apakah ia telah mengetahui jalan keselamatan atau belum. Kalau belum, maka pastilah ia juga belum selamat. Kalau ternyata bahwa ia telah mengetahuinya, baiklah kita menambahkan suatu pertanyaan lagi, untuk menentukan apakah ia telah memanfaatkan pengetahuan itu dalam hatinya.

Saudara haruslah dengan terarah menggunakan "pertanyaan diagnosa" itu, khususnya kata kerja dari kalimat tersebut. Kata kerjanya harus selalu menanyakan suatu titik permulaan misalnya. "Masuk ke dalam hidup yang kekal," atau "memperoleh pengampunan dosa," atau "menjadi seorang Kristen" (yang terakhir bagi kaum Kristen saja). Dengan demikian saudara akan bebas untuk menanyakan kembali, kalau diagnosa itu masih kabur. Perhatikanlah contoh yang berikut, teristimewa kata-kata kerja yang dipakai. Inilah suatu percakapan antara seorang penginjil (P) dengan temannya (T).

P - "Apakah yang harus diperbuat supaya seseorang memperoleh keselamatan?"
T - "Ia harus hidup dengan baik dan taat kepada segala peraturan agamanya."
P - "Memang benar, seseorang yang telah selamat akan berbuat baik, tetapi bagaimanakah caranya supaya ia memperoleh keselamatannya?"
T - "Ia harus berusaha hidup suci dan berdoa meminta pertolongan dari Allah bukan?"
P - "Tentu saja, seorang yang telah mempunyai hidup yang kekal akan berbuat demikian, tetapi bagaimanakah jalannya supaya seseorang mendapat hidup yang kekal itu?"
T - "Ia harus dibaptiskan!"
P - "Seseorang yang diselamatkan pasti akan dibaptiskan, tetapi persoalannya ialah titik permulaannya. Bagaimanakah caranya supaya memperoleh keselamatan itu?"
T - "Saya tidak tahu. Bagaimana pendapat anda?"
P - "Bukan pendapat saya yang penting. Tetapi apakah saudara ingin melihat, apa yang Tuhan Allah telah katakan mengenai hal ini?"

Dalam percakapan di atas, ternyata bahwa teman penginjil itu belum selamat. Orang-orang yang telah selamat (sekalipun keliru pengertiannya) akan menyebutkan sesuatu tentang Yesus, karena Yesuslah sumber keselamatan yang satu-satunya. Meskipun ia seorang yang beragama Kristen yang telah dibaptiskan, rajin ke gereja, senantiasa berdoa, menjadi guru Sekolah Minggu, atau majelis gereja, dan ia sungguh-sungguh patuh; tetapi kalau ia belum mempunyai hubungan dengan Yesus secara pribadi, maka ia belum selamat. Semua kebaikan itu hanyalah usaha-usaha untuk menyelamatkan dirinya melalui keagamaan. (lihat Yohanes 6:28, 29; Matius 7:21, 23).

3. Beralih kepada "Jalan Keselamatan."

Kalau saudara telah yakin bahwa orang yang dilayani itu belum selamat, maka dengan sopan beralihlah kepada ke empat fakta rohani, sebagai penjelasan Jalan Keselamatan (pelajaran ke 4). Pertanyaan ke 5 (pada halaman 28 sesuai untuk menuju keperalihan ini).

Saudara harus waspada dalam mengendalikan seluruh percakapan pendekatan itu, supaya ketiga hal yang berikut ini telah diakuinya sebelum beralih kepada Jalam keselamatan. Kalau ia belum sampai kepada ketiga pengakuan yang berikut ini, ada kemungkinan bahwa ia akan menentang terhadap salah satu dari ke empat fakta rohani. Sebaiknya sebelum pertanyaan ke empat diajukan, ia telah:

a. mengaku adalah seorang berdosa.
b. mengaku tidak puas dengan pegangan yang lama, dan telah melihat bahwa prinsip lama atau "agama" itu tidak mungkin memberikan kepuasan rohani.
c. mulai berkeinginan untuk mengetahui tentang jalan yang harus ditempuhnya untuk memperoleh keselamatan.

4. Beberapa petunjuk praktis.

a. Jangan mengeluarkan senjata (Alkitab) sebelum ditentukan penyakit rohaninya dan sebelumnya ia berkeinginan melihat jawaban dari Firman itu.
b. Jangan mengajar atau menasihati. Fungsi saudara adalah untuk "menginjili." Meskipun orang itu kurang bersusila ataupun tidak beradab, jangan kaget atau heran. Perkara itu tidak akan diselesaikan oleh nasehat saudara, melainkan pada salib Yesus. Hanya berterima kasihlah karena dosanya demikian jelas sehingga ia insyaf bahwa ia membutuhkan seorang Juruselamat.
c. Injil Yesus sangat indah. Jangan membuang Injil itu di hadapan pengolok-olok. Rangsanglah dahulu, dan kalau timbul suatu minat, barulah memberitakan jalan kelepasan dalam Yesus itu.
d. Boleh juga kita mengambil sikap bahwa: "layaklah seorang yang ber - Pancasila mengetahui dasar kepercayaan orang-orang Kristen."
e. Kalau waktunya sempit, boleh juga lebih lekas menuju penjelasan Injil atau memberi kesaksian. Baik juga memberikan suatu traktat yang tepat. Tetapi lebih sempurna lagi untuk menentukan suatu waktu di mana saudara dapat berbicara dengan dia dengan tenang.
f. Kesaksian bukanlah riwayat hidup. Dalam suatu kesaksian Yesuslah yang harus menonjol dan bukan pengalaman saudara.

RESAPKANLAH PELAJARAN No. 3

  1. Apakah syarat-syarat yang harus digenapkan sebelum saudara beralih kepada penjelasan Injil?
  2. Tulislah sebanyak mungkin jawaban-jawaban salah yang dapat diberikan kepada pertanyaan pendekatan nomor empat.
  3. Hafalkanlah Yohanes 3:3 dan Yohanes 6:37b.
  4. Menurut pendapat saudara, apakah batas waktu bagi saudara untuk menginjili dalam beberapa keadaan? Tulislah situasi dan beberapa menit saudara boleh bercakap-cakap.
  5. Tulislah suatu pertanyaan tak langsung yang menyangkut iman. Tanyakan pertanyaan tersebut kepada sepuluh orang, satu demi satu. Pertimbangkanlah sendiri makna segala jawaban itu.